Ariel Tatum Kena Borderline Personality Disorder, Ini Gejalanya

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Ariel Tatum Kena Borderline Personality Disorder, Ini Gejalanya

Halodoc, Jakarta – Sempat menghilang dari layar kaca, Ariel Tatum baru-baru ini membuat pengakuan bahwa ia mengidap gangguan kesehatan mental bernama borderline personality disorder, sejak berusia 13 tahun. Karena gangguan yang diidapnya itu, dara cantik kelahiran tahun 1996 ini mengaku sempat melakukan percobaan bunuh diri berkali-kali. 

Untungnya, ia berhasil menguasai dirinya dan segera mencari bantuan psikolog, untuk mengonsultasikan kondisinya. Upaya “menyelamatkan diri” yang dilakukan Ariel tak serta-merta berhasil. Ia sempat mendatangi banyak psikolog, dan sempat frustasi karena tidak berhasil menemukan jalan keluar dari apa yang dialaminya. Hingga akhirnya ia menemukan psikolog yang dirasa cocok dan menjalani perawatan selama beberapa tahun.

Baca juga: Ini yang Terjadi pada Pengidap Borderline Personality Disorder

Kenali Gejala Borderline Personality Disorder

Disebut juga gangguan kepribadian ambang, borderline personality disorder merupakan gangguan mental yang ditandai dengan berubah-ubahnya suasana hati, citra diri, dan perilaku yang impulsif. Gangguan ini kerap terjadi pada usia remaja, yang memengaruhi cara pikir, pandangan, dan perasaan pengidapnya.

Gejala yang dialami pengidap borderline personality disorder bisa ringan hingga berat, yang digolongkan menjadi 4 jenis, yaitu:

  • Mood atau suasana hati yang tidak stabil. Gejala ini biasanya terjadi selama beberapa jam, yang ditandai dengan perasaan hampa, dan kesulitan mengendalikan emosi.

  • Gangguan pola pikir. Gejala ini ditandai dengan munculnya pemikiran yang datang tiba-tiba, bahwa dirinya buruk, yang biasanya juga disertai dengan perasaan takut akan diabaikan, hingga pengidapnya kerap melakukan perbuatan yang ekstrem.

  • Perilaku impulsif. Gejala jenis ini biasanya cenderung membahayakan diri sendiri, seperti melakukan tindakan ceroboh dan tidak bertanggungjawab. Misalnya, melukai diri sendiri, melakukan percobaan bunuh diri, penyalahgunaan alkohol, atau makan secara berlebihan. 

  • Menjalin hubungan yang intens dengan seseorang, tetapi tidak stabil. Pengidap borderline personality disorder bisa sangat mengidolakan seseorang, lalu tiba-tiba menganggap orang tersebut bersikap kejam atau tidak peduli.

Baca juga: 4 Faktor Risiko pada Remaja yang Bisa Terkena Borderline Personality Disorder

Perlu diketahui bahwa tidak semua pengidap borderline personality disorder mengalami seluruh jenis gejala tersebut. Pada beberapa kasus, pengidapnya hanya mengalami 1 atau 2 gejala. Selain itu, tingkat keparahan, frekuensi, dan durasi berlangsungnya gejala juga dapat berbeda-beda, tergantung kondisi yang dialami.

Jika kamu mengalami salah satu atau beberapa gejala tersebut, sebaiknya segera minta bantuan psikolog dan jangan melakukan self diagnose atau diagnosis sendiri, karena justru dapat berbahaya. Kalau kamu malu untuk melakukan konsultasi langsung, kamu bisa coba bicarakan gejalamu dengan psikolog di aplikasi Halodoc, lewat Chat.

Namun, jika merasa perlu melakukan konsultasi secara langsung, kamu bisa buat janji dengan psikolog di rumah sakit, melalui aplikasi Halodoc, agar bisa mendapatkan penanganan tanpa perlu antri lama. Jadi sebaiknya pastikan sudah download dan install aplikasinya di ponselmu, ya. 

Kenali Penyebab Terjadinya 

Hingga saat ini, belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan terjadinya borderline personality disorder. Gangguan ini diduga muncul akibat berbagai faktor, yang bisa saja berbeda pada setiap pengidapnya. Pada kasus Ariel Tatum, ia pun mengaku belum mengetahui pasti apa penyebab gangguan yang dialaminya, dan masih mempelajarinya hingga kini. 

Baca juga: Insomnia Bisa Buat Borderline Personality Disorder Makin Parah

Sejak SMP, Ariel memang mengaku kerap menerima body shaming dan bully-an dari orang-orang di sekitarnya. Mungkin itulah salah satu faktor yang membuatnya mengalami borderline personality disorder. Secara umum, faktor-faktor yang diduga dapat memicu terjadinya gangguan ini adalah:

  • Faktor lingkungan. Seperti riwayat pelecehan dan penyiksaan semasa kecil, atau dicampakkan oleh orangtua.

  • Faktor genetik. Gangguan kepribadian diduga dapat diturunkan secara genetik.

  • Kelainan pada otak. Borderline personality disorder juga dapat terjadi karena adanya kelainan pada otak, terutama pada area yang mengatur impuls dan emosi. 

Faktor-faktor tersebut dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami borderline personality disorder. Namun, perlu diketahui bahwa bukan berarti seseorang pasti mengalami gangguan kepribadian jika mengalami faktor risiko tersebut, ya. Sebab ada juga beberapa pengidap borderline personality disorder yang tidak memiliki faktor risiko tersebut.

Referensi:

Psychology Today. Diakses pada 2019. Borderline Personality Disorder.
NHS Choices UK. Diakses pada 2019. Borderline Personality Disorder.
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Borderline Personality Disorder.