• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Inilah Alasan Wanita Lebih Rentan Inkontinensia Urine

Inilah Alasan Wanita Lebih Rentan Inkontinensia Urine

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Pernah melihat orang dewasa yang tak bisa menahan keinginan untuk berkemih? Atau justru mengompol? Dalam dunia medis, kondisi ini disebut dengan inkontinensia urine. Kondisi ini membuat seseorang sulit menahan buang air kecil, sehingga membuatnya mengompol. 

Nah, sebagian besar kasus inkontinensia urine ini umumnya dialami oleh lansia dan wanita. Pertanyaannya, mengapa wanita lebih rentan mengalami inkontinensia urine ketimbang pria? 

Baca juga: Enggak Sengaja Ngompol, Tekanan Sebabkan Inkontinensia Urine?

Tekanan pada Kandung Kemih

Pada dasarnya, seorang wanita memang lebih rentan mengalami inkontinensia urine ketimbang pria. Kondisi ini bisa dipengaruhi oleh proses kehamilan, melahirkan, dan menopause. Untuk kali ini, kita akan membahas lebih jauh mengenai inkontinensia urine saat kehamilan. 

Inkontinensia urine saat melahirkan ini dipengaruhi oleh massa tubuh bumil. Nah, ada satu jenis inkontinensia urine yang umum dialami bumil, namanya stress urine incontinence (SUI). Kondisi ini digambarkan dengan terlepasnya urine tanpa bisa dikontrol karena peningkatan tekanan pada kandung kemih. 

Bumil yang mengalami SUI, katup otot yang letaknya di bagian bawah kandung kemih tak berfungsi dengan baik untuk menahan urine sesuai kehendak ibu. Padahal, katup otot ini berfungsi mengontrol aliran urine. 

Di samping itu, ketika tengah mengandung, uterus yang membesar akan memberi tekanan pada kandung kemih. Nah, kondisi inilah yang bakal menyebabkan otot-otot tadi kewalahan akibat tekanan tambahan pada kandung kemih. Tekanan yang dimaksud, contohnya, ketika bumil bersin, batu, ataupun hanya sekadar tertawa. 

Kandung kemih yang terlalu (overactive bladder/OAB) aktif juga bisa menyebabkan inkontinensia urine pada bumil. Tak cuma itu, otot-otot yang mengelilingi uretra juga bisa terpengaruh.

Uretra sendiri merupakan saluran yang menghubungkan kantung kemih ke lingkungan luar tubuh. Tak berbeda dengan otot-otot di dasar kandung kemih, otot-otot uretra yang tugasnya mencegah air kencing meninggalkan tubuh juga bisa kewalahan. 

Hal yang perlu digarisbawahi, selain jenis kelamin atau kehamilan, ada pula beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko terjadinya inkontinensia urine. Contohnya: 

  • Usia lanjut, karena otot kandung kemih akan semakin melemah.

  • Konsumsi obat-obatan tertentu, beberapa jenis obat seperti obat penenang atau jantung, bisa memicu inkontinensia urine. 

  • Keturunan.

  • Kebiasaan merokok.

  • Efek samping pengobatan kanker prostat. 

  • Operasi pengangkatan rahim. 

Baca juga: Orang Dewasa Sering Mengompol, Gangguan Psikologi?

Ingat, meski inkontinensia urine pada ibu hamil adalah hal yang normal, tetapi sebaiknya temui dokter bila kondisi tersebut semakin tak bisa dikontrol. Kamu bisa kok bertanya langsung kepada dokter melalui aplikasi Halodoc.

Lantas, apa jadinya sih bila inkontinensia urine dibiarkan tanpa penanganan? 

Segera Atasi, Bisa Memicu Komplikasi

Sebaiknya jangan menganggap remeh meski inkontinensia urine. Alasannya simpel, inkontinensia urine bisa memicu beberapa komplikasi bila dibiarkan tanpa penanganan. Nah, berikut ini beberapa komplikasi yang bisa terjadi:

  • Masalah kulit, seperti infeksi kulit dan luar atau ruam.

  • Mengganggu kehidupan sosial. Inkontinensia urine bisa menurunkan tingkat percaya diri, bahkan kondisi yang memalukan untuk sebagian orang. Hal inilah yang bisa memengaruhi hubungan sosial, pekerjaan, dan hubungan pribadi. 

  • Infeksi saluran kemih. Inkontinensia bisa meningkatkan risiko terjadinya infeksi saluran kemih berulang.

Nah, untungnya ada beberapa tips yang bisa kita lakukan untuk mencegah inkontinensia urine. Penasaran? Berikut tipsnya. 

Dari Kegel hingga Tinggi Serat

Setidaknya ada beberapa upaya yang bisa kita coba untuk mencegah terjadinya inkontinensia urine. Contohnya: 

  • Latihan otot panggul (senam kegel).

  • Membatasi mengonsumsi minuman yang bersifat diuretik, seperti teh dan kopi.

  • Menjaga berat badan tetap ideal.

  • Hentikan kebiasaan merokok.

  • Olahraga secara teratur.

  • Konsumsi makanan tinggi serat, untuk mencegah sembelit. 

Mau tahu lebih jauh mengenai inkontinensia urine? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung kepada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa kapan dan di mana saja mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2019. Urinary Incontinence.
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Diseases and Conditions. 
Web MD. Diakses pada 2019. Urinary Incontinence and Pregnancy.