• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Anak Mempunyai Kebiasaan Menggigit Kuku, Waspadai Dampaknya

Anak Mempunyai Kebiasaan Menggigit Kuku, Waspadai Dampaknya

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
undefined

Halodoc, Jakarta – Kebiasaan menggigit kuku sering ditemukan pada anak-anak. Kebanyakan, hal ini dilakukan anak saat sedang merasa takut, marah, hingga resah. Menggigit kuku juga sering dilakukan saat Si Kecil tengah memikirkan sesuatu. Namun, hati-hati, hal ini ternyata bisa menjadi kebiasaan dan semakin lama bisa memberi dampak yang tidak diinginkan. 

Menggigit kuku mungkin bisa membantu anak yang merasa tegang, misalnya saat memasuki lingkungan baru, hari pertama sekolah, atau saat dimarahi. Namun, biasanya hal ini akan hilang seiring berjalannya waktu dan anak-anak tidak akan lagi suka menggigit kuku. Peran orangtua dan lingkungan sekitar yang mengerti keresahan anak bisa membantunya menghentikan kebiasaan menggigit kuku. 

Baca juga: 6 Tips Efektif Mengatasi Kebiasaan Menggigit Kuku

Risiko Paronikia akibat Menggigit Kuku

Kebiasaan menggigit kuku bisa menjadi tanda Si Kecil sedang merasa cemas dan ketakutan. Namun, semakin lama kebiasaan ini bisa menimbulkan luka pada kulit di area kuku. Semakin lama, luka yang muncul bisa menyebabkan kuman masuk ke jaringan kulit. Hal itu kemudian bisa memicu terjadinya paronikia. Apa itu? 

Paronikia merupakan kondisi yang terjadi karena ada infeksi pada kulit sekitar kuku. Infeksi bisa terjadi pada kuku jari kaki atau tangan. Kondisi ini umumnya terjadi karena infeksi bakteri, bisa juga disebabkan oleh infeksi jamur. Kondisi ini ditandai dengan perubahan di sekitar kuku menjadi bengkak, kemerahan, serta terasa nyeri saat disentuh. Terkadang, kondisi ini juga menyebabkan terbentuknya abses atau nanah.

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri. Ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko terjadinya paronikia, salah satunya kebiasaan menggigit kuku. Nyatanya, kebiasaan menggigit kuku bisa menyebabkan munculnya luka pada kulit di sekitar kuku. Lewat luka tersebut, bakteri bisa masuk dan menginfeksi jaringan dalam kulit dan semakin lama akan berkembang menjadi paronikia. 

Baca juga: Penjelasan Psikologis di Balik Kebiasaan Menggigit Kuku

Selain kebiasaan menggigit kuku, ada beberapa faktor lain yang bisa memicu kondisi ini, mulai dari faktor pekerjaan yang bisa menyebabkan kuku rusak atau terendam air, melakukan manikur kuku dengan teknik yang salah, hingga kerusakan kukur yang terjadi karena eksim atau dermatitis kontak. Kondisi ini sebaiknya tidak diabaikan. 

Jika anak menunjukkan gejala mengalami paronikia, ibu bisa coba bertanya seputar cara mengatasinya pada dokter di aplikasi Halodoc. Dokter bisa dihubungi melalui Video/Voice Call dan Chat. Ibu dan ayah juga bisa membicarakan seputar gejala kecemasan pada anak yang menyebabkan muncul kebiasaan menggigit kuku. Tunggu apa lagi, ayo download aplikasi Halodoc di App Store dan Google Play! 

Selain luka dan kebiasaan menggigit kuku, paronikia juga bisa disebabkan oleh kondisi kuku. Salah satu hal yang harus diwaspadai adalah penggunaan kuku palsu dalam waktu yang lama. Hal ini bisa menyebabkan kuku menjadi lembab dan memicu perkembangbiakan kuman. Semakin lama, hal ini bisa menyebabkan terjadinya infeksi. 

Cantengan pada kuku juga bisa menimbulkan paronikia. Kondisi ini terjadi karena arah pertumbuhan kuku yang salah atau tidak sesuai dengan arah yang seharusnya. Pada kondisi yang parah, paronikia bisa memicu komplikasi, seperti abses, perubahan permanen pada bentuk kuku, serta penyebaran infeksi ke tendon, tulang, dan aliran darah.

Baca juga: Mitos atau Fakta, Sepatu yang Ujungnya Sempit Bisa Sebabkan Paronikia

Untuk mencegah anak mengalami kondisi ini, sebaiknya ajarkan agar ia tidak terbiasa menggigit kuku. Jika hal ini terjadi karena rasa cemas dan ketakutan, ayah dan ibu bisa mencoba untuk mendengarkan anak agar rasa cemasnya bisa hilang. Dengan begitu, kebiasaan menggigit jari pun akan menghilang.

 

Referensi:
Calm Clinic. Diakses pada 2020. Anxiety and Compulsive Nail Biting.
Healthline. Diakses pada 2020. Paronychia.
Patient. Diakses pada 2020. Paronychia.