Advertisement

Apakah Baby Blues Berbahaya? Ini Faktanya

3 menit
Ditinjau oleh  dr. Enrico Hervianto SpOG   12 Maret 2025

Baby blues biasanya berlangsung beberapa hari hingga dua minggu setelah persalinan.

Apakah Baby Blues Berbahaya? Ini FaktanyaApakah Baby Blues Berbahaya? Ini Faktanya

DAFTAR ISI

  1. Kenali Gejala Baby Blues
  2. Apakah Baby Blues Berbahaya?
  3. Kapan Harus ke Dokter?

Setelah melahirkan, banyak ibu mengalami perubahan suasana hati yang tiba-tiba. Merasa sedih, cemas, atau mudah tersinggung tanpa alasan yang jelas bisa jadi tanda baby blues. 

Kondisi ini sebenarnya cukup umum dan biasanya berlangsung beberapa hari hingga dua minggu setelah persalinan. 

Namun, jika dibiarkan tanpa dukungan yang tepat, baby blues bisa berdampak lebih serius pada kesehatan mental ibu.

Oleh karena itu, penting untuk mengenali gejala baby blues dan membedakannya dari kondisi yang lebih berat, seperti depresi pasca melahirkan. 

Kenali Gejala Baby Blues

Baby blues biasanya muncul dalam beberapa hari setelah melahirkan dan bisa bertahan hingga dua minggu. 

Gejala yang umum terjadi meliputi:

  • Perubahan suasana hati drastis tanpa alasan yang jelas.
  • Merasa gelisah, khawatir berlebihan tentang bayi.
  • Mudah marah pada hal-hal kecil.
  • Kelelahan ekstrem dan sulit tidur.
  • Pikiran terasa kacau.
  • Sulit berkonsentrasi hingga merasa bingung menjalani rutinitas sehari-hari.

Meski terasa berat, biasanya kondisi ini akan mereda dengan dukungan emosional dari orang terdekat.

Apakah Baby Blues Berbahaya?

Baby blues sendiri sebenarnya tidak berbahaya dan bersifat sementara. 

Kondisi ini sering dialami ibu baru akibat perubahan hormon drastis setelah melahirkan, ditambah kelelahan fisik dan tekanan emosional saat mengurus bayi. 

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), sekitar 70–80 persen ibu mengalami baby blues dalam dua minggu pertama pasca persalinan. 

Namun, jika gejala ini berlangsung lebih dari dua minggu, memburuk, atau muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bayi, baby blues bisa berkembang menjadi depresi pasca melahirkan (postpartum depression).

Jadi, meski baby blues biasanya tidak berbahaya, penting untuk tidak mengabaikan perasaan sendiri. 

Dukungan dari pasangan, keluarga, dan teman, ditambah komunikasi terbuka dengan tenaga kesehatan, bisa membantu ibu pulih lebih cepat

Kapan Harus ke Dokter?

Baby blues biasanya membaik dengan sendirinya, tetapi ada saatnya kamu perlu mencari bantuan medis. 

Segera konsultasikan ke dokter atau psikolog jika:

  • Gejala berlangsung lebih dari dua minggu dan semakin memburuk.
  • Muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bayi.
  • Merasa sangat putus asa dan tidak berharga
  • Sulit terhubung secara emosional dengan bayi.

Menurut National Institute of Mental Health (NIMH), mengabaikan baby blues yang berkepanjangan dapat meningkatkan risiko depresi pasca melahirkan. 

Oleh sebab itu, penting untuk mendengarkan diri sendiri dan tidak ragu meminta bantuan jika dibutuhkan.

Jangan tunda untuk memeriksakan diri pada psikolog untuk menemukan penyebab pastinya dan menerima perawatan yang tepat.

Ibu juga bisa menghubungi psikolog melalui Halodoc, yang mampu memberikan saran penanganan akurat dan sesuai dengan kondisi.

Dengan Halodoc, kamu bisa berkonsultasi dengan mudah dan aman, tanpa harus ke luar rumah.

Tunggu apa lagi? Yuk, download Halodoc sekarang juga!

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2025. Postpartum depression.
John Hopkins Medicine. Diakses pada 2025. Baby Blues and Postpartum Depression: Mood Disorders and Pregnancy.
March of Dimes. Diakses pada 2025. Baby blues after pregnancy.
American College of Obstetricians and Gynecologists. Diakses pada 2025. Postpartum Depression.