• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ini Bahaya Virus Rubella bagi Anak-Anak

Ini Bahaya Virus Rubella bagi Anak-Anak

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia

Halodoc, Jakarta - Rubella, biasa dikenal dengan campak Jerman adalah infeksi yang sering diidap oleh anak. Penyakit ini disebabkan oleh virus rubella dan sebagian besar memengaruhi kulit dan kelenjar getah bening mereka. Penyakit ini mudah menyebar, seperti saat anak-anak menghirup cairan yang terinfeksi virus atau dari udara saat pengidapnya bersin, batuk, atau berbagi makanan dan minuman. 

Parahnya lagi, virus rubella bisa menyerang ibu hamil dan menginfeksi janin yang tengah dikandungnya. Akibatnya bayi yang dilahirkan kelak mengidap rubella bawaan. Namun berkat imunisasi, kini tercatat lebih sedikit kasus rubella dan rubella bawaan. 

Baca juga: Fakta yang Perlu Diketahui Tentang Penyakit Rubella

Dampak Virus Rubella pada Anak-Anak

Melansir Kids Health, masa inkubasi untuk rubella adalah 14 hingga 23 hari, dengan periode inkubasi rata-rata 16-18 hari. Ini berarti bahwa dibutuhkan 2 hingga 3 minggu bagi seorang anak untuk mengidap rubella setelah ia terinfeksi. 

Penyakit ini menyebabkan gejala seperti ruam yang berlangsung 3 hari. Kelenjar getah bening juga bisa tetap bengkak selama seminggu atau lebih, dan nyeri sendi bisa bertahan lebih dari 2 minggu. Pengidapnya juga dapat mengalami demam, hidung berair, dan diare. Anak-anak yang mengidap rubella biasanya sembuh dalam 1 minggu, tetapi orang dewasa mungkin membutuhkan waktu lebih lama.

Seperti halnya cacar air, anak rentan menularkan virus rubella  ketika ruam muncul. Namun, seorang anak bisa menularkan virus ini dari 7 hari sebelum ruam hingga 7 hari setelah ruam muncul. Gejala-gejala rubella pun bisa seperti kondisi kesehatan lainnya. Oleh karena itu, pastikan anak diperiksakan ke rumah sakit untuk didiagnosis oleh dokter jika memiliki gejala seperti yang disebutkan di atas. Supaya lebih praktis, kamu bisa buat janji dengan dokter melalui aplikasi Halodoc

Baca juga: Campak atau Rubella? Begini Cara Mengenali Bedanya

Lebih Berbahaya Jika Menyerang Ibu Hamil 

Pada anak-anak, rubella tergolong sebagai penyakit yang umum dan bersifat ringan. Bahaya medis utama dari virus rubella adalah saat mereka menginfeksi wanita hamil. Pasalnya virus bisa menyebabkan sindrom rubella bawaan pada bayi atau sindrom rubella kongenital. 

Rubella pada wanita hamil berpotensi mengacaukan perkembangan janin bahkan keguguran. Anak-anak yang terinfeksi rubella saat di kandungan berisiko mengalami masalah pertumbuhan, kecacatan intelektual, cacat jantung dan mata, ketulian, dan masalah pada hati, limpa, dan sumsum tulang belakang.

Sebagian besar infeksi rubella muncul pada orang dewasa muda yang tidak diimunisasi. Bahkan, para ahli memperkirakan bahwa 10 persen orang dewasa muda saat ini rentan terhadap rubella, yang dapat menimbulkan bahaya bagi anak-anak yang mungkin mereka kandung suatu hari nanti.

Baca juga: Alasan Kenapa Rubella Berbahaya untuk Ibu Hamil 

Vaksin Rubella adalah Keharusan 

Pencegahan infeksi virus rubella dengan mendapatkan vaksin atau imunisasi sejak dini. Vaksin ini biasanya diberikan kepada anak-anak pada usia 12-15 bulan sebagai bagian dari imunisasi campak-mumps-rubella (MMR) yang telah dijadwalkan. Dosis MMR kedua biasanya diberikan pada usia 4-6 tahun. Namun, seperti halnya semua imunisasi, sangat mungkin ada pengecualian atau keadaan khusus lain. Misalnya, jika anak akan bepergian ke luar negeri, vaksin ini dapat diberikan sejak berusia 6 bulan. Oleh karena itu, kamu bisa bicara dengan dokter anak untuk mengetahui kapan vaksin diperlukan.

Sementara, vaksin rubella tidak boleh diberikan kepada wanita hamil atau wanita yang merencanakan kehamilan dalam waktu 1 bulan setelah menerima vaksin. Jika kamu berencana untuk hamil, pastikan tubuh sudah kebal terhadap virus rubella melalui tes darah atau bukti imunisasi. Jika kamu tidak memiliki perlindungan virus rubella, maka kamu harus menerima vaksin setidaknya satu bulan sebelum hamil.

Referensi:
Kids Health. Diakses pada 2020. Rubella (German Measles).
University of Rochester, NY. Diakses pada 2020. Rubella in Children.