• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Benarkah Remaja Perempuan Lebih Mager dari Laki-Laki?

Benarkah Remaja Perempuan Lebih Mager dari Laki-Laki?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Aktivitas fisik memiliki banyak manfaat kesehatan bagi remaja. Hanya saja menurut WHO tren aktivitas fisik pada remaja semakin menurun pada remaja usia sekolah yaitu 11-17 tahun. Dengan begitu tren mager (malas gerak) jadi meningkat di kalangan remaja. 

Hanya saja ada perbedaan kadar ‘mager’ antara remaja perempuan dan remaja laki-laki. Pada remaja laki-laki terjadi penurunan prevalensi ‘mager’ di kelompok remaja laki-laki yaitu dari 80 persen menjadi 78 persen. Sementara itu, pada remaja perempuan, prevalensi kurangnya aktivitas fisik alias mager tetap di angka 85 persen dari waktu ke waktu. Kecenderungan anak perempuan menjadi kurang aktif ketimbang anak laki-laki cukup memprihatinkan. 

Mengapa Remaja Perempuan Lebih Mager Daripada Laki-Laki?

Kemungkinan penyebabnya adalah banyaknya peluang untuk kebutuhan minat untuk remaja laki-laki dibandingkan perempuan. Misalnya saja klub-klub olahraga lebih diminati oleh remaja laki-laki dibanding perempuan. Untuk itu, diperlukan lebih banyak peluang untuk memenuhi kebutuhan dan minat anak perempuan agar lebih aktif secara fisik, misalnya saja olahraga, menari, atau aktivitas lainnya untuk mempertahankan partisipasi remaja perempuan. 

Baca juga: 5 Jenis Olahraga untuk yang Mager

Alasan lainnya yang ditemukan bahwa otak remaja laki-laki memiliki banyak koneksi di setiap belahan bumi, sementara otak remaja perempuan lebih saling terhubung di antara belahan otak. Kemampuan otak tersebut juga yang mendorong diri mereka untuk mampu menjadi aktif dan tidak mager.

Berdasarkan jenis kelamin terdapat perbedaan pada remaja laki-laki dan perempuan, bawa pada remaja laki-laki memiliki otak dengan jalur serat berlari bolak-balik di setiap belahan dunianya  yang menyebabkan mereka lebih aktif. Sedangkan pada remaja perempuan mereka cenderung zig-zag antara sisi, menyebabkan mereka lebih logis dan kreatif.

Otak perempuan tampaknya memiliki hubungan yang lebih kuat antara bagian logis dan intuitif mereka. Ketika perempuan diminta untuk melakukan tugas-tugas, mereka mungkin melibatkan bagian otak yang berbeda. Sedangkan laki-laki mungkin terlalu banyak melibatkan satu bagian dari otak, misalnya, pria cenderung melihat masalah dan menyelesaikannya secara langsung karena hubungan yang kuat antara “persepsi” dan “tindakan”.

Baca juga:Menjamur, Ini 4 Penyakit Umum Generasi Milenial

Pengaruh Otak dan Hormon

Sesuatu yang berbeda dan mungkin aneh terjadi pada masa pubertas remaja. Anak-anak yang dulunya manis dan menyenangkan bisa berubah menjadi menyebalkan atau bahkan sebaliknya. Pubertas adalah peristiwa hormon yang luar biasa karena hanya terjadi sekali seumur hidup.

Sebuah hipotesis mengatakan bahwa remaja pria mengambil isyarat dari lingkungan dan menggunakannya untuk menentukan perilaku “normal”. Remaja laki-laki lebih cepat terpengaruh dengan lingkungan atau teman-temannya (pergaulan), itu juga yang dapat mempengaruhi aktivitas remaja laki-laki. Apalagi kebiasaan nongkrong jadi aktivitas wajib bagi remaja laki-laki, entah itu mengubahnya jadi nakal atau tidak, tapi mereka jadi lebih aktif dalam aktivitas fisik. 

Remaja juga mengalami proses pematangan. Nah, pematangan inilah yang diyakini sebagai penyebab sebagian besar perilaku dan aktivitas dikaitkan dengan hormon. Perubahan ini tidak hanya tergantung pada hormon, tapi juga dari segi usia. 

Baca juga: Kurang Gerak, Waspada Ancaman Diabetes

Area otak juga berpengaruh terhadap apa yang menjadi tindakan remaja dan merupakan daftar kegiatan yang dimiliki remaja, seperti penetapan tujuan, penetapan prioritas, perencanaan, organisasi, dan impulsif.  Perubahan-perubahan dalam otak remaja yang terjadi saat masa pubertas terutama memengaruhi motivasi dan emosi mereka untuk mager atau lebih aktif secara fisik. Hal ini menjadi pemicu diri sebagai perubahan suasana hati, konflik pada diri sendiri dengan otoritas, dan pengambilan risiko. 

Jika tindakan ‘mager’ yang dialami anak remaja adalah akibat dari masalah psikologis atau kesehatan lainnya, sebaiknya segera komunikasikan pada dokter melalui aplikasi Halodoc untuk mendapatkan penanganan yang lebih baik. Tanpa perlu repot, komunikasi dengan dokter dapat dengan mudah dilakukan kapan dan di mana saja. 

Referensi:

Psychology Today. Diakses pada 2019. Lazy Adolescent.

The Guardian. Diakses pada 2019. It’s Not Just Hormone.