• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • 5 Fakta Difteri Anak yang Harus Dipahami Orangtua

5 Fakta Difteri Anak yang Harus Dipahami Orangtua

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Difteri adalah salah satu penyakit yang sering menyerang anak-anak. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini dapat menular dan membahayakan nyawa. Namun untungnya, difteri sudah dapat dicegah dengan memberikan imunisasi pada anak. Yuk, ketahui lebih lanjut fakta-fakta difteri anak di sini. 

1. Anak-Anak Berusia 5 Tahun Berisiko Lebih Tinggi Terkena Difteri

Difteri adalah infeksi bakteri yang menyerang tenggorokan dan saluran pernapasan bagian atau. Anak-anak yang berusia di bawah 5 tahun sangat berisiko tertular infeksi ini, apalagi anak-anak yang belum menerima imunisasi. Anak-anak yang tinggal di lingkungan yang ramai atau tidak bersih dan kurang gizi juga berisiko tinggi terkena difteri.

Baca juga: Kenapa Difteri Lebih Mudah Menyerang Anak-anak?

2. Anak Dapat Tertular Difteri Bila Menghirup Percikan Liur Pengidap

Bakteri difteri dapat masuk ke dalam tubuh anak melalui hidung dan mulut. Anak dapat tertular difteri bila tidak sengaja menghirup percikan air liur yang dikeluarkan pengidap ketika batuk atau bersin. Anak juga bisa terkena difteri bila menggunakan peralatan makan yang sama dengan yang digunakan pengidap, seperti gelas atau sendok.

3. Gejala Difteri Baru Muncul Beberapa Hari Setelah Terinfeksi Bakteri

Gejala difteri biasanya baru muncul 2–5 hari setelah terinfeksi bakteri. Tiap anak dapat mengalami gejala yang berbeda-beda. Namun, gejala difteri yang paling umum adalah:

  • Sakit tenggorokan;

  • Kesulitan bernapas;

  • Demam;

  • Suara serak;

  • Pilek; dan

  • Muncul benjolan di leher akibat pembesaran kelenjar getah bening.

Gejala-gejala difteri juga bisa tampak mirip seperti kondisi kesehatan lainnya. Karena itu, penting bagi orangtua untuk membawa Si Kecil ke dokter untuk memastikan diagnosis.

4. Pengobatan Difteri pada anak

Pengobatan difteri yang diberikan tergantung pada usia anak, gejala yang dialami dan kondisi anak secara keseluruhan. Pengobatan juga tergantung pada seberapa parah kondisi anak.

Dokter biasanya akan memberikan antibiotik untuk mengobati difteri anak sedini mungkin sebelum racun dilepaskan dalam darah. Antitoksin juga dapat diberikan bersama dengan antibiotik bila diperlukan. Namun, sebaiknya bicarakan dengan dokter anak tentang risiko, manfaat, dan kemungkinan efek samping dari semua obat sebelum memberikannya pada anak.

Bila Si Kecil terlanjur mengalami masalah pernapasan yang parah, ia mungkin memerlukan bantuan mesin pernapasan (ventilator mekanik). Sebuah tabung pernapasan akan dimasukkan di bagian depan batang tenggorokan (trakea) melalui operasi kecil. Prosedur ini disebut juga trakeostomi. Tabung tersebut akan dibiarkan tetap terpasang sampai anak membaik. 

Baca juga: Hal-Hal yang Dilakukan setelah Imunisasi Difteri

5. Vaksin Difteri untuk Mencegah Difteri pada Anak

Vaksin difteri merupakan vaksin penting yang ada dalam rangkaian imunisasi wajib bagi anak-anak. Vaksin ini biasanya diberikan dalam kombinasi dengan vaksin lain, seperti vaksin DTaP yang akan melindungi anak dari difteri dan juga tetanus dan pertusis.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyarankan agar anak-anak mendapatkan 5 dosis DTaP pada usia berikut ini:

  • Dosis pertama pada usia 2 bulan.

  • Dosis kedua pada usia 4 bulan.

  • Dosis ketiga pada usia 6 bulan

  • Dosis keempat di antara usia 15–18 bulan.

  • Dosis kelima diberikan ketika seorang anak masuk usia sekolah yaitu antara usia 4 hingga 6 tahun.

Ketika anak menginjak usia pra-remaja (usia 11 atau 12 tahun), ia juga perlu mendapatkan dosis booster dari bentuk lain vaksin ini yang disebut Tdap. Bicarakanlah pada petugas kesehatan anak kamu untuk minta saran mengenai pemberian vaksin Tdap.

Baca juga: Perlukah Vaksinasi Difteri Ulang Saat Dewasa?

Itulah 5 fakta tentang difteri anak yang perlu diketahui orangtua. Bila ibu ingin masih punya pertanyaan seputar difteri pada anak, tanyakan saja langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Melalui Video/ Voice Call dan Chat, ibu bisa menghubungi dokter untuk bertanya-tanya seputar kesehatan kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.

Referensi:
University of Rochester Medical Center. Diakses pada 2020. Diphtheria in Children.
Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2020. Diphtheria, Tetanus, and Pertussis Vaccine Recommendations