• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • 3 Hal yang Perlu Wanita Ketahui tentang Terapi Hormon

3 Hal yang Perlu Wanita Ketahui tentang Terapi Hormon

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Terapi hormon pada wanita dilakukan untuk menggantikan hormon yang tidak lagi dibuat oleh tubuh setelah menopause. Terkadang juga dilakukan untuk mengobati gejala menopause yang umum terjadi, termasuk hot flashes dan ketidaknyamanan vagina. 

Terapi hormon juga terbukti dapat mencegah keropos tulang dan mengurangi fraktur pada wanita pascamenopause. Namun, seiring dengan manfaatnya, ada risiko yang berkaitan dengan penggunaan terapi hormon, dosis, dan berapa lama obat itu dikonsumsi. Untuk hasil terbaik, terapi hormon harus disesuaikan untuk setiap orang dan dievaluasi sesering mungkin untuk memastikan manfaatnya lebih besar dibanding risikonya. Inilah yang perlu diketahui wanita mengenai terapi hormon.

Baca Juga: Ketahui 7 Gejala Sindrom Polikistik Ovarium

  1. Manfaat Terapi Hormon Tergantung Prosedurnya

Manfaat terapi hormon sebagian tergantung pada apakah kamu menggunakan terapi hormon sistemik atau terapi estrogen dosis rendah pada vagina. 

  • Terapi Hormon Sistemik. Estrogen sistemik yang datang dalam bentuk pil, gel, krim, atau bentuk spray, tetap merupakan pengobatan yang paling efektif untuk menghilangkan hot flash menopause yang mengganggu dan menyebabkan keringat di malam hari. Estrogen juga dapat meredakan gejala menopause pada vagina seperti kekeringan, gatal, terbakar, dan rasa tidak nyaman saat berhubungan seksual. 

  • Terapi kombinasi estrogen dan progesteron dapat mengurangi risiko kanker usus besar. Diketahui bahwa estrogen dapat mengurangi risiko penyakit jantung ketika dikonsumsi lebih awal di tahun-tahun pascamenopause. Estrogen sistemik membantu melindungi terhadap penyakit penipisan tulang yang disebut osteoporosis. Namun, dokter biasanya merekomendasikan obat yang disebut bifosfonat untuk mengobati osteoporosis. 

  • Estrogen yang Langsung Digunakan Ke Vagina. Estrogen jenis ini diaplikasikan langsung pada vagina. Bentuknya bisa berupa suppositoria (obat dimasukkan ke lubang vagina), cincin vagina, serta krim. Secara spesifik, terapi yang langsung dipakai ke vagina ditujukan bagi wanita yang mengalami vagina kering, terasa gatal, dan muncul sensasi panas seperti terbakar. Namun, terapi ini tidak dianjurkan untuk dijalani dalam jangka panjang pada wanita yang rahimnya masih utuh karena dapat meningkatkan risiko kanker rahim. 

Baca juga: Ketahui Prosedur Pembedahan untuk Atasi Sindrom Polikistik Ovarium

Jika rahim kamu belum diangkat, dokter biasanya akan meresepkan estrogen bersama dengan progesteron atau progestin (obat yang mirip progesteron). Ini karena ketika estrogen tidak diimbangi dengan progesteron, dapat merangsang pertumbuhan lapisan rahim, meningkatkan risiko kanker rahim. Jika rahim kamu diangkat (histerektomi), kamu tidak perlu mengonsumsi progestin. 

  1. Ada Risiko yang Perlu Diwaspadai

Dalam uji klinis hingga saat ini, prosedur terapi dengan pil kombinasi estrogen-progestin (Prempo) meningkatkan risiko kondisi serius tertentu, termasuk:

  • Stroke.
  • Gumpalan darah.
  • Kanker Payudara.

Risiko ini bervariasi, tergantung pada usia. Misalnya, wanita yang memulai terapi hormon lebih dari 10 atau 20 tahun sejak awal menopause atau pada usia 60 atau lebih memiliki risiko lebih besar dari kondisi di atas. Namun, jika terapi hormon dimulai sebelum usia 60 tahun atau dalam 10 tahun menopause, manfaatnya tampak lebih besar dibandingkan risikonya. 

Risiko terapi hormon juga bervariasi tergantung pada apakah estrogen diberikan sendiri atau dengan progestin, dosis dan jenis estrogen, dan faktor kesehatan lainnya seperti risiko penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular), risiko kanker, dan riwayat medis dalam keluarga. 

Semua risiko ini harus dipertimbangan sebelum memutuskan apakah terapi hormon mungkin menjadi pilihan kamu. Kamu juga bisa bertanya pada dokter melalui aplikasi Halodoc untuk berdiskusi dan jadi bahan pertimbahan untuk kesehatan di masa depan. 

Baca Juga: Harus Tahu, Aturan Pola Makan untuk Pengidap Sindrom Polikistik Ovarium

  1. Siapa yang Harus Menghindari Terapi Hormon?

Wanita yang pernah atau sebelumnya mengalami kanker payudara, kanker ovarium, kanker endometrium, pembekuan darah di kaki atau paru-paru, stroke, penyakit hati, atau pendarahan vagina yang tidak dapat dijelaskan biasanya tidak boleh melakukan terapi hormon. 

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Hormone therapy: Is it right for you?
Medical News Today. Diakses pada 2020. What you need to know about HRT.