
Ini 6 Penyebab Mimisan pada Anak dan Cara Mengatasinya
Penyebab mimisan pada anak beragam, salah satunya akibat alergi atau iritasi pada hidung.

Ringkasan: Penyebab mimisan pada anak atau epistaksis umumnya berkaitan dengan pecahnya pembuluh darah halus di bagian depan hidung akibat udara kering atau kebiasaan mengupil. Kondisi ini biasanya bersifat ringan, namun memerlukan evaluasi medis jika terjadi berulang atau disertai gejala sistemik lainnya guna menyingkirkan risiko gangguan pembekuan darah atau infeksi kronis.
Daftar Isi:
Apa Itu Mimisan pada Anak?
Mimisan pada anak, secara medis disebut sebagai epistaksis, adalah kondisi keluarnya darah dari jaringan yang melapisi bagian dalam hidung. Kondisi ini sangat umum terjadi pada anak usia 2 hingga 10 tahun karena pembuluh darah di area tersebut masih sangat rapuh dan letaknya dekat dengan permukaan kulit.
Sebagian besar kasus mimisan pada anak bersifat anterior, yang berarti perdarahan berasal dari bagian depan hidung (pleksus Kiesselbach). Perdarahan jenis ini biasanya tidak berbahaya dan dapat berhenti dengan penanganan mandiri di rumah. Namun, pemahaman mengenai pemicu utamanya sangat penting bagi orang tua.
“Epistaksis pada anak umumnya disebabkan oleh iritasi lokal pada mukosa hidung yang menyebabkan pecahnya pembuluh darah superfisial di septum anterior.” — Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), 2023
Gejala Mimisan pada Anak
Gejala utama mimisan adalah keluarnya darah dari salah satu atau kedua lubang hidung secara tiba-tiba. Intensitas aliran darah dapat bervariasi, mulai dari tetesan ringan hingga aliran yang cukup deras yang berlangsung selama beberapa menit hingga setengah jam.
Selain keluarnya darah, anak mungkin akan merasakan sensasi cairan mengalir di bagian belakang tenggorokan (post-nasal drip) jika posisi kepala terlalu menengadah. Hal ini terkadang memicu rasa mual atau batuk pada anak. Beberapa gejala penyerta yang perlu diperhatikan meliputi rasa gatal di hidung sebelum perdarahan atau adanya kerak di dalam lubang hidung.
Beberapa gejala lain yang mungkin muncul meliputi:
- Sensasi tersumbat pada hidung.
- Hidung terasa perih atau panas.
- Wajah tampak pucat jika perdarahan berlangsung lama.
- Darah yang tertelan dapat menyebabkan muntah berwarna kehitaman.
Apa Penyebab Mimisan pada Anak?
Penyebab mimisan pada anak yang paling sering ditemukan adalah trauma ringan dan kondisi lingkungan yang ekstrem. Udara yang sangat kering dapat menyebabkan selaput lendir hidung menjadi pecah-pecah dan berdarah, sementara manipulasi fisik seperti mengupil dapat merobek pembuluh darah halus di dalamnya.
Trauma mekanis sering kali menjadi pemicu utama, baik karena benturan saat bermain maupun kebiasaan memasukkan benda asing ke dalam hidung. Selain itu, peradangan akibat alergi atau infeksi saluran pernapasan atas (flu) dapat meningkatkan aliran darah ke jaringan hidung, membuatnya lebih rentan terhadap perdarahan.
Berikut adalah beberapa kategori penyebab utama:
- Udara Kering: Penggunaan pendingin ruangan (AC) atau cuaca panas mengurangi kelembapan mukosa hidung.
- Kebiasaan Mengupil: Kuku yang tajam dapat melukai pembuluh darah di septum hidung.
- Infeksi: Sinusitis atau pilek yang menyebabkan anak sering membuang ingus terlalu keras.
- Alergi: Rhinitis alergi memicu pembengkakan jaringan hidung dan rasa gatal yang hebat.
Faktor Risiko Lingkungan dan Kesehatan
Beberapa faktor risiko tambahan dapat meningkatkan frekuensi terjadinya mimisan pada anak. Paparan polusi udara atau asap rokok dapat mengiritasi lapisan hidung secara kronis. Selain itu, anak dengan kondisi medis tertentu seperti gangguan pembekuan darah (misalnya hemofilia atau penyakit Von Willebrand) memiliki risiko perdarahan yang lebih sulit berhenti.
Penggunaan obat-obatan tertentu secara jangka panjang juga dapat menjadi faktor penyebab. Obat semprot hidung steroid yang digunakan untuk alergi terkadang menyebabkan kekeringan pada septum jika tidak digunakan dengan teknik yang benar. Kekurangan asupan vitamin C dan K juga sering dikaitkan dengan integritas pembuluh darah yang melemah.
“Paparan udara kering secara kronis dan polutan lingkungan merupakan faktor eksternal signifikan yang meningkatkan fragilitas kapiler nasal pada populasi pediatrik.” — World Health Organization (WHO), 2024
Bagaimana Diagnosis Mimisan pada Anak?
Diagnosis mimisan pada anak biasanya dilakukan melalui pemeriksaan fisik secara langsung oleh dokter spesialis anak atau THT. Dokter akan memeriksa bagian dalam hidung menggunakan alat spekulun untuk menentukan lokasi sumber perdarahan dan melihat apakah terdapat benda asing atau polip.
Jika mimisan terjadi sangat sering atau berlangsung lama, pemeriksaan penunjang mungkin diperlukan untuk mencari penyebab sistemik. Tes darah lengkap, tes fungsi pembekuan darah (PT/APTT), atau pemeriksaan radiologi seperti Rontgen atau CT scan sinus dapat dilakukan jika dicurigai adanya kelainan struktur atau sinusitis kronis.
Pengobatan dan Pertolongan Pertama
Pengobatan mimisan pada anak dimulai dengan tindakan pertolongan pertama yang tepat untuk menghentikan aliran darah. Langkah utama adalah meminta anak untuk duduk tegak dan sedikit menunduk ke depan guna mencegah darah mengalir ke tenggorokan yang bisa menyebabkan tersedak atau muntah.
Jepit cuping hidung selama 10 hingga 15 menit tanpa dilepas untuk memberikan tekanan pada pembuluh darah yang pecah. Kompres dingin pada pangkal hidung juga dapat membantu mengecilkan pembuluh darah (vasokonstriksi). Jika perdarahan tidak kunjung berhenti, dokter mungkin akan melakukan tindakan kauterisasi (pembakaran pembuluh darah dengan bahan kimia) atau pemasangan tampon hidung.
Langkah pertolongan pertama meliputi:
- Dudukkan anak dengan posisi tubuh condong ke depan.
- Tekan cuping hidung secara konstan menggunakan ibu jari dan telunjuk.
- Instruksikan anak bernapas melalui mulut selama penekanan.
- Gunakan kompres es yang dibalut kain pada area tulang hidung.
Cara Mencegah Mimisan pada Anak
Mencegah mimisan pada anak dapat dilakukan dengan menjaga kelembapan lapisan dalam hidung secara konsisten. Penggunaan humidifier di kamar tidur sangat efektif untuk menjaga udara tetap lembap, terutama jika anak sering tidur di ruangan ber-AC. Mengoleskan sedikit petroleum jelly di sekitar lubang hidung sebelum tidur juga dapat mencegah mukosa menjadi kering.
Edukasi pada anak sangat penting untuk menghentikan kebiasaan mengupil atau memasukkan benda ke dalam hidung. Pastikan kuku anak selalu dipotong pendek untuk meminimalkan risiko luka. Selain itu, pastikan asupan cairan dan nutrisi anak tercukupi untuk menjaga kesehatan jaringan tubuh secara umum.
Kapan Harus ke Dokter?
Meskipun sebagian besar kasus mimisan tidak berbahaya, terdapat beberapa tanda peringatan yang mengharuskan anak segera dibawa ke fasilitas kesehatan. Jika perdarahan tidak berhenti setelah dilakukan penekanan manual selama 20 menit, segera cari bantuan medis profesional.
Kondisi lain yang memerlukan penanganan dokter adalah mimisan yang terjadi setelah benturan keras di kepala, mimisan disertai pusing atau lemas, atau jika anak sering mengalami memar di bagian tubuh lain tanpa sebab yang jelas. Konsultasi segera sangat disarankan jika mimisan terjadi lebih dari sekali dalam seminggu untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.
Segera hubungi bantuan medis jika:
- Darah mengalir sangat deras hingga keluar dari mulut.
- Anak mengalami kesulitan bernapas.
- Mimisan terjadi akibat trauma benda tumpul yang hebat pada wajah.
- Terdapat tanda-tanda anemia seperti bibir dan kulit pucat.
Kesimpulan
Penyebab mimisan pada anak sebagian besar dipicu oleh faktor lokal seperti udara kering dan trauma ringan yang dapat ditangani secara mandiri. Namun, kewaspadaan terhadap frekuensi dan gejala penyerta sangat penting untuk mendeteksi adanya kondisi medis yang lebih serius. Segera konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja melalui link https://halodoc.onelink.me/cQvV/8x1v8wkv untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.


