• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Inilah Pengaruh Pensiun Terhadap Kesehatan Mental 

Inilah Pengaruh Pensiun Terhadap Kesehatan Mental 

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Ketika mendengar kata “pensiun” apa yang terlintas di dalam benakmu? Lepasnya segudang tanggung jawab dan deadline yang kerap menguras pikiran? Timbulnya perasaan sedih karena tak akan lagi berjumpa dengan pekerjaan yang dicintai? Memulai hidup dan rencana baru bersama pasangan? Atau ada hal lainnya? Satu hal yang pasti, sebagian orang akan makin berkembang setelah pensiun, tetapi ada pula sebagian yang justru jatuh terlalu cepat dalam penurunan mental dan fisik. 

Lantas, seperti apa sih pengaruh pensiun terhadap kesehatan mental seseorang? 

Baca juga: 4 Jenis Penyakit yang Rentan Dialami Lansia

Mental Tetap Terjaga saat Bekerja

Pensiun atau kehilangan pekerjaan tak hanya memberikan dampak pada kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan psikologis kita. Ingatlah,  pekerjaan itu menantang mental, bahkan ketika itu membosankan. Ketika bekerja kita harus menjalankan segala tanggung jawab yang kita emban. Nah, proses melibatkan kemampuan berpikir kritis, fokus, analisis tajam dan lain hal. Di samping itu, pekerjaan juga melibatkan sisi sosial dan kecerdasan emosional. Nah, hal-hal inilah yang membuat kesehatan mental kita tetap terjaga. Singkat kata, pekerjaan memberikan kita latihan maupun tantangan psikologis yang membuat mental kita tetap terjaga. 

Ketika masih bekerja, kehidupan rumah tangga kita dengan pasangan  selama bertahun-tahun dibangun di atas kebiasaan dan rutinitas yang sudah mapan, yang jarang membebani kita secara mental. Namun, ketika pensiun maka kita akan kehilangan kesempatan untuk menantang diri kita secara mental. Tak cuma itu, kita juga kehilangan kesempatan untuk menjaga diri agar tetap sehat secara kognitif.

Pertanyaanya, siapa yang akan gagal atau jatuh ke dalam ke dalam zona “merah” ketika sudah tak bekerja atau pensiun? Karakteristik kepribadian seperti apa yang bisa menjadi indikatornya? 

Baca juga: Ini 7 Alasan Lansia Kerap Mengalami Gangguan Jiwa

Mudah Menyerah atau Tidak?

Kondisi di atas membuat psikolog dari North Dakota State University Psychologist Jeremy Hamm, dan rekan-rekannya penasaran. Ia pun membuat penelitian untuk mengamati sifat kepribadian tertentu yang bisa memprediksi siapa yang akan berkembang setelah pensiun dan siapa yang akan layu. 

Mereka menyebutnya sebagai trait goal disengagement, yang mengacu pada kecenderungan untuk menyerang dengan mudah ketika menghadapi pekerjaan atau tugas yang sulit. Pertimbangkan pernyataan seperti ini:

  • Ketika harapan saya tidak terpenuhi, saya menurunkan harapan saya.

  • Untuk menghindari kekecewaan, saya tidak menetapkan sasaran saya terlalu tinggi.

  • Saya merasa lega ketika saya melepaskan beberapa tanggung jawab saya.

Nah, seseorang yang setuju dengan pernyataan di atas, mereka masuk ke dalam kelompok high in goal disengagement. Kelompok ini masih dapat bertahap pada tugas-tugas yang sulit ketik situasi menuntutnya, seperti dilingkungan kerja. Namun, tanpa tekanan dari luar, mereka akan mudah menyerah ketika berhadapan dengan situasi yang sulit. Boleh dibilang, kelompok ini merupakan tipe orang yang membuang teka-teki silang yang sudah setengah jadi.

Sebaliknya, pernyataan di atas yang tak menggambarkan dirinya, masuk ke dalam kelompok low in goal disengagement. Mereka tipe individu yang menetapkan tujuan pribadi, dan terus mengejarnya meskipun tak ada tekanan dari luar, atau hadiah khusus atau apresiasi untuk pencapaiannya. Mereka tipe orang yang merasa puas ketika menyelesaikan suatu proyek atau pekerjaan yang telah dimulainya. 

Baca juga: Lansia Kerap Mengalami Depresi, Ini Penjelasannya

Nah, untuk menguji hipotesis bahwa kelompok high in goal disengagement lebih cenderung mengalami penurunan kognitif setelah pensiun, Jeremy Hamm, dan kawan-kawan. menggunakan data dari proyek yang dikenal sebagai Midlife In the United States Study, atau MIDUS. 

Cenderung Terjadi pada Wanita

MIDUS mengumpulkan data ekstensif pada lebih dari 7.000 orang  paruh baya pada tiga periode waktu. MIDUS 1 pada tahun 1995, MIDUS 2 pada tahun 2004, dan MIDUS 3 pada tahun 2013. Database ini telah menjadi sumber utama untuk studi tentang penuaan.

Lalu, bagaimana dengan hasilnya? 

Para pensiunan menunjukkan lebih banyak mengalami penurunan kognitif daripada mereka yang masih bekerja. Dan seperti yang diperkirakan, kepribadian seseorang (mereka yang mudah menyerah) saat bekerja ternyata berkorelasi dengan penurunan kognitif yang lebih curam setelah pensiun — khususnya pada wanita. 

Faktanya, pensiunan pria dalam penelitian ini menunjukkan penurunan fungsi mental yang lebih sedikit, dibandingkan dengan pensiunan wanita secara keseluruhan. Namun, temuan pada wanita itu perlu ditafsirkan dengan hati-hati. Secara khusus, perbedaan gender yang nyata ini lebih mungkin karena faktor status sosial dan ekonomi. 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa para pensiunan perlu menemukan cara agar mentalnya tetap tertantang. Tujuannya jelas, agar kesehatan mental tetap terjaga dan terhindar dari penurunan kognitif. Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan bahwa banyak lansia yang terus berkembang secara psikologis setelah pensiun.

Namun, seperti yang selalu terjadi dalam sains, penelitian ini menimbulkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Oleh sebab itu, masih membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk menguak fenomena ini.

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung pada psikolog atau  dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:
Psychology Today. Diakses pada 2020. Is Retirement Bad for Your Mental Health?