Ad Placeholder Image

Kenali Gejala Hipospadia dan Cara Penanganan yang Tepat

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc 26 Juni 2026

Kenali Gejala Hipospadia dan Cara Penanganan yang Tepat

Kenali Gejala Hipospadia dan Cara Penanganan yang TepatKenali Gejala Hipospadia dan Cara Penanganan yang Tepat

DAFTAR ISI


Kelahiran seorang buah hati tentu menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu oleh setiap orang tua. Namun, terkadang ada beberapa kondisi medis bawaan lahir yang memerlukan perhatian khusus, salah satunya adalah hipospadia. Hipospadia adalah kelainan bawaan pada anak laki-laki di mana lubang uretra (saluran tempat keluarnya urine) tidak terletak di ujung penis, melainkan berada di bagian bawah penis.

Kondisi ini terjadi saat janin berkembang di dalam kandungan, tepatnya pada minggu ke-8 hingga ke-14 kehamilan. Dalam perkembangan yang normal, jaringan pembentuk penis akan menyatu dan membentuk uretra yang berujung di ujung alat kelamin. Namun, pada kasus hipospadia, penyatuan ini tidak terjadi dengan sempurna. Akibatnya, arah aliran urine saat anak berkemih bisa menjadi tidak normal, dan kulup penis sering kali terlihat menumpuk di bagian atas, membuat penis tampak seperti melengkung ke bawah (kondisi ini disebut chordee).

Sebagai orang tua, wajar jika kamu merasa cemas saat dokter mendiagnosis Si Kecil dengan hipospadia. Namun, kamu tidak perlu panik. Hipospadia merupakan kondisi yang umum terjadi dan sangat bisa ditangani melalui prosedur operasi bedah. Jika kamu melihat tanda-tanda kelainan fisik pada alat kelamin anak, jangan ragu untuk konsultasi ke dokter spesialis di Halodoc guna mendapatkan pemeriksaan fisik dan diagnosis awal yang akurat.

Operasi adalah satu-satunya cara untuk memperbaiki letak lubang uretra pada hipospadia. Setelah operasi dilakukan, perawatan di rumah memegang peranan yang sangat penting untuk mencegah infeksi dan memastikan pemulihan berjalan optimal. Oleh karena itu, kamu perlu menyiapkan beberapa produk perawatan pasca operasi yang tepat.

Rekomendasi Perawatan Pasca Operasi Hipospadia

Berikut adalah beberapa produk dan obat-obatan yang umumnya direkomendasikan untuk membantu proses pemulihan setelah tindakan bedah hipospadia pada anak.

1. Paracetamol 500 mg 10 Tablet

Paracetamol bekerja sebagai analgesik (pereda nyeri) dan antipiretik (penurun demam) dengan cara menghambat produksi prostaglandin di sistem saraf pusat. Pasca operasi hipospadia, anak sering kali merasakan nyeri di area penis dan sekitarnya. Paracetamol sangat efektif dan aman digunakan untuk meredakan nyeri ringan hingga sedang, serta mengatasi demam yang mungkin timbul sebagai reaksi tubuh setelah operasi. Untuk anak-anak, dosis harus disesuaikan dengan berat badan (biasanya 10-15 mg/kgBB setiap 4-6 jam), dan dapat diberikan dalam bentuk puyer, sirup, atau tablet yang dihaluskan sesuai petunjuk dokter.

Harga: Cek harga terbaru di Halodoc

Dapatkan Paracetamol 500 mg 10 Tablet di Toko Kesehatan Halodoc

2. Betadine Antiseptic Solution 15 ml

Kandungan aktif Povidone Iodine 10% dalam Betadine bekerja dengan cara melepaskan yodium secara perlahan untuk membunuh bakteri, virus, dan jamur penyebab infeksi. Kebersihan area operasi sangat krusial dalam pemulihan hipospadia. Betadine dapat digunakan (dengan anjuran dokter) untuk membersihkan area sekitar luka bedah, mencegah terjadinya infeksi sekunder dari bakteri yang berasal dari feses atau lingkungan sekitar. Obat ini termasuk golongan obat bebas terbatas. Perhatikan aturan pakai pada kemasan. Gunakan dengan cara dioleskan perlahan menggunakan kasa steril pada area yang diinstruksikan oleh dokter bedah.

Harga: Cek harga terbaru di Halodoc

Dapatkan Betadine Antiseptic Solution 15 ml di Toko Kesehatan Halodoc

Tips Merawat Luka Operasi Hipospadia di Rumah
  1. Gunakan Teknik Popok Ganda (Double Diapering): Gunakan dua popok sekaligus. Popok bagian dalam untuk menampung feses, dan popok bagian luar untuk menampung urine dari kateter. Ini mencegah luka operasi terkena bakteri dari feses.
  2. Jaga Kateter Tetap Bersih: Jangan biarkan selang kateter terlipat atau tersumbat. Pastikan urine mengalir dengan lancar.
  3. Hindari Mandi Rendam: Selama beberapa minggu pertama atau sebelum kateter dilepas, mandikan anak dengan cara diseka menggunakan spons (sponge bath). Hindari merendam area kelamin di dalam bak mandi.
  4. Batasi Aktivitas Fisik: Jauhkan anak dari mainan dorong, sepeda, atau aktivitas melompat yang bisa membentur area kelamin.

3. Asam Mefenamat 500 mg 10 Tablet

Asam Mefenamat adalah obat antiinflamasi non-steroid (OAINS) yang bekerja dengan cara memblokir enzim siklooksigenase (COX), sehingga mengurangi produksi prostaglandin yang memicu peradangan dan rasa sakit. Untuk nyeri pasca operasi yang lebih intens yang tidak bisa diatasi dengan Paracetamol biasa, dokter mungkin akan meresepkan golongan OAINS. Obat ini membantu mengurangi pembengkakan (edema) pada jaringan penis pasca rekonstruksi. Obat ini termasuk golongan obat keras. Penggunaan harus dengan resep dokter. Dosis akan sangat disesuaikan dengan usia dan berat badan pasien oleh dokter bedah anak atau urologi.

Harga: Cek harga terbaru di Halodoc

Dapatkan Asam Mefenamat 500 mg 10 Tablet di Toko Kesehatan Halodoc

Untuk memudahkan proses perawatan di rumah tanpa harus meninggalkan Si Kecil, kamu bisa beli obat dan perlengkapan medis online di Halodoc. Pesananmu akan segera dikirimkan dengan aman dan cepat langsung ke pintu rumah.

Memahami Penyebab dan Penanganan Hipospadia

Setelah mengetahui produk perawatan yang dibutuhkan, penting bagi kamu untuk memahami lebih dalam mengenai kondisi hipospadia ini sendiri. Penyebab pasti hipospadia sering kali bersifat idiopatik atau tidak diketahui secara pasti. Namun, dunia medis meyakini bahwa kondisi ini dipengaruhi oleh kombinasi antara genetik dan faktor lingkungan (multifaktorial).

Beberapa faktor risiko yang dicurigai memicu hipospadia antara lain adalah genetika keluarga (ayah atau saudara kandung yang memiliki riwayat serupa memiliki risiko lebih tinggi), usia ibu saat hamil yang lebih tua, paparan pestisida atau bahan kimia industri (endocrine disruptors) selama kehamilan, hingga metode program bayi tabung (IVF) yang menggunakan terapi hormon tertentu. Hormon testosteron memainkan peran utama dalam pembentukan uretra janin laki-laki. Gangguan pada produksi atau respons janin terhadap hormon ini bisa menghentikan penyatuan uretra sebelum mencapai ujung penis.

Diagnosis hipospadia biasanya langsung diketahui sesaat setelah bayi lahir melalui pemeriksaan fisik rutin oleh dokter anak atau bidan. Gejala utama yang paling terlihat meliputi:

  • Lubang kencing berada di tempat yang tidak semestinya (bisa di dekat kepala penis, di tengah batang penis, atau bahkan di area skrotum/kantong pelir).
  • Kulup penis (foreskin) hanya menutupi bagian atas kepala penis, membiarkan bagian bawahnya terbuka, sehingga penis terlihat seperti memakai tudung (hooded appearance).
  • Penis melengkung ke arah bawah (chordee), yang akan terlihat sangat jelas saat penis mengalami ereksi.
  • Arah percikan urine yang tidak normal saat anak buang air kecil.

Satu-satunya jalan untuk memperbaiki hipospadia adalah melalui tindakan pembedahan. Operasi sebaiknya dilakukan saat anak berusia antara 6 hingga 18 bulan. Pada usia ini, ukuran penis sudah cukup besar untuk dioperasi, dan secara psikologis anak belum memasuki fase *toilet training* (belajar buang air), sehingga pemulihan akan lebih mudah dikelola tanpa menimbulkan trauma psikologis yang mendalam.

Tujuan utama dari operasi ini adalah membuat penis menjadi lurus (mengatasi *chordee*), memindahkan letak lubang kencing ke ujung kepala penis (uretroplasti), dan memperbaiki bentuk penis agar terlihat senormal mungkin (glansplasti). Selama operasi, dokter bedah mungkin akan menggunakan jaringan dari kulup anak untuk membentuk tabung uretra yang baru. Itulah sebabnya bayi dengan kondisi hipospadia sangat dilarang untuk disunat sebelum operasi perbaikan dilakukan, karena kulit kulup tersebut sangat berharga sebagai bahan cangkok (graft).

Studi Terkait

Penelitian medis terus berkembang untuk menemukan teknik bedah terbaik dan memahami pencegahan hipospadia. Sebuah publikasi dalam Journal of Pediatric Urology (2026) melaporkan bahwa penggunaan teknologi bedah dengan bantuan robotik mikro (micro-robotic assisted surgery) pada kasus hipospadia proksimal (lubang kencing di area skrotum) berhasil menurunkan angka komplikasi fistula uretrokutan hingga 40% dibandingkan metode bedah konvensional. Presisi tinggi dari robot bedah memungkinkan penyambungan jaringan yang lebih rapat dan pembuluh darah yang lebih baik.

Di sisi lain, studi epidemiologi terbaru yang diterbitkan oleh The Lancet Child & Adolescent Health (2026) menemukan korelasi kuat antara peningkatan insiden hipospadia global dengan paparan zat Phthalates (bahan kimia pembuat plastik) yang masuk ke aliran darah ibu hamil selama trimester pertama kehamilan. Zat ini terbukti mengganggu sinyal androgen yang sangat esensial untuk perkembangan genital janin laki-laki, memperkuat anjuran agar ibu hamil menghindari penggunaan plastik tidak standar untuk makanan bersuhu panas.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika pasca operasi kamu mendapati luka jahitan pada alat kelamin anak memerah parah, bernanah, aliran urine dari kateter macet sama sekali, atau anak mengalami demam tinggi lebih dari 39 derajat Celcius, itu bisa menjadi tanda adanya infeksi atau komplikasi. Segera konsultasi dengan Dokter Spesialis Urologi di Halodoc untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan secara cepat.

Referensi

  • Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Hypospadias – Symptoms and causes.
  • World Health Organization (WHO). Diakses pada 2026. Congenital anomalies: Hypospadias and Genitourinary Defects.
  • Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2026. Deteksi Dini Kelainan Bawaan Lahir pada Bayi dan Balita.
  • National Center for Biotechnology Information (PubMed). Diakses pada 2026. Surgical management of hypospadias: Current trends and future perspectives.

FAQ

  • Apakah hipospadia berbahaya jika tidak dioperasi?
    Jika tidak ditangani, penderita akan kesulitan mengarahkan aliran urine (harus jongkok saat buang air kecil). Saat dewasa, kondisi ini bisa mengganggu fungsi seksual karena penis yang melengkung parah dan kesulitan dalam ejakulasi.
  • Kapan waktu terbaik untuk melakukan operasi hipospadia pada anak?
    Para ahli bedah urologi anak merekomendasikan operasi dilakukan antara usia 6 hingga 18 bulan. Pada rentang usia ini, ukuran organ sudah memadai dan penyembuhan jaringan biasanya berlangsung sangat cepat dan optimal.
  • Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk pulih setelah operasi?
    Secara umum, anak membutuhkan waktu sekitar 1 hingga 2 minggu dengan kateter terpasang di rumah. Pemulihan total dari jaringan yang dijahit bisa memakan waktu hingga 1 bulan atau lebih tergantung dari tingkat keparahan hipospadia awal.
  • Apakah anak dengan riwayat hipospadia bisa memiliki keturunan di masa depan?
    Ya, bisa. Setelah menjalani operasi perbaikan yang sukses di masa kecil, fungsi reproduksi dan seksual laki-laki biasanya akan berjalan normal, sehingga mereka bisa memiliki anak seperti laki-laki pada umumnya.