Kenali Gejala Sindrom Nefrotik Serta Cara Mengobatinya

DAFTAR ISI
- Pengertian Sindrom Nefrotik
- Gejala dan Tanda-Tanda
- Penyebab dan Faktor Risiko
- Komplikasi yang Bisa Terjadi
- Cara Dokter Mendiagnosis
- Pengobatan dan Perawatan Mandiri
- Studi Terkait
- Kapan Harus ke Dokter?
- Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Ginjal adalah salah satu organ vital yang bekerja tanpa henti untuk menjaga keseimbangan cairan dan menyaring racun dari dalam darahmu. Di dalam setiap ginjal, terdapat jutaan saringan kecil yang disebut glomerulus. Saringan mikroskopis ini sangat pintar; mereka membiarkan limbah dan cairan berlebih keluar menjadi urine, namun tetap menahan zat-zat penting seperti protein di dalam darah. Namun, apa yang terjadi jika saringan ini mengalami kerusakan? Kondisi inilah yang mengarah pada masalah kesehatan serius yang dikenal dengan sindrom nefrotik.
Ketika glomerulus mengalami kerusakan, mereka kehilangan kemampuannya untuk menahan protein. Akibatnya, sejumlah besar protein penting (terutama albumin) bocor dari darah dan ikut terbuang bersama urine. Kehilangan protein ini memicu reaksi berantai di dalam tubuh, yang paling terlihat adalah penumpukan cairan atau pembengkakan parah di berbagai area tubuh. Kondisi ini bisa menyerang siapa saja, mulai dari anak-anak yang masih balita hingga orang dewasa, dan sering kali membuat penderitanya merasa sangat tidak nyaman dan mudah lelah.
Penting untuk dipahami bahwa kondisi ini sebenarnya bukanlah suatu penyakit yang berdiri sendiri, melainkan sebuah sindrom atau kumpulan gejala yang menandakan adanya masalah pada ginjalmu. Ada banyak faktor yang bisa memicunya, mulai dari penyakit autoimun, infeksi kronis, hingga komplikasi dari penyakit bawaan seperti diabetes. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini bisa merusak fungsi ginjal secara permanen dan menyebabkan komplikasi mematikan lainnya di dalam tubuh.
Jika kamu atau orang terdekatmu sering mengalami pembengkakan yang tidak biasa, terutama di area mata pada pagi hari atau di pergelangan kaki pada sore hari, jangan mengabaikannya. Memahami gejala, penyebab, dan langkah pengobatan sejak dini adalah kunci untuk mencegah kerusakan ginjal yang lebih parah. Mari kita bahas secara mendalam mengenai kondisi ginjal yang satu ini agar kamu bisa lebih waspada dan tahu langkah apa yang harus diambil.
Pengertian Sindrom Nefrotik
Secara medis, kondisi ini ditandai oleh empat tanda utama (sering disebut sebagai tetrad klasik). Pertama adalah proteinuria masif, yaitu kondisi di mana terlalu banyak protein yang terbuang ke dalam urine. Kedua adalah hipoalbuminemia, yaitu rendahnya kadar protein albumin di dalam darah akibat terbuang melalui urine. Ketiga adalah edema, yaitu pembengkakan tubuh akibat cairan yang bocor dari pembuluh darah ke jaringan sekitarnya. Keempat adalah hiperlipidemia, yaitu tingginya kadar kolesterol dan trigliserida di dalam darah, yang terjadi karena organ hati berusaha memproduksi lebih banyak albumin dan secara bersamaan juga memproduksi kolesterol berlebih.
Tubuh manusia sangat bergantung pada protein albumin untuk menjaga tekanan onkotik, yaitu sebuah mekanisme yang menahan cairan agar tetap berada di dalam sirkulasi pembuluh darah. Ketika albumin terbuang sia-sia melalui ginjal yang rusak, cairan dalam darah akan merembes keluar dan menumpuk di jaringan tubuh. Inilah yang menjadi alasan utama mengapa penderita kelainan ginjal ini sering terlihat bengkak di sekujur tubuhnya. Menangani kondisi ini membutuhkan kesabaran ekstra karena fokus utamanya adalah menambal kebocoran protein tersebut sekaligus menangani penyakit yang mendasarinya.
Gejala dan Tanda-Tanda
Gejala dari kelainan ginjal ini biasanya muncul secara perlahan, namun dalam beberapa kasus bisa juga terjadi secara mendadak. Mengenali gejala ini sedini mungkin sangat penting agar kamu bisa segera mendapatkan intervensi medis yang tepat. Berikut adalah beberapa gejala yang paling sering dikeluhkan oleh penderitanya:
- Pembengkakan (Edema) yang Parah: Ini adalah ciri yang paling khas. Pembengkakan sering kali pertama kali disadari di area sekitar mata, terutama saat baru bangun tidur di pagi hari (edema periorbital). Seiring berjalannya hari dan gaya gravitasi, pembengkakan akan turun ke pergelangan kaki, telapak kaki, atau bahkan merembet ke area perut (asites).
- Urine Berbusa: Jika kamu menyadari bahwa urine di kloset terlihat sangat berbusa mirip dengan putih telur yang dikocok atau buih bir, ini adalah tanda pasti adanya kadar protein yang sangat tinggi dalam urine (proteinuria).
- Kenaikan Berat Badan yang Cepat: Kenaikan berat badan ini bukan disebabkan oleh penumpukan lemak akibat makan terlalu banyak, melainkan karena retensi cairan. Tubuh menahan air yang tidak bisa dikeluarkan oleh ginjal, sehingga berat badan bisa naik drastis dalam waktu singkat.
- Kelelahan Ekstrem dan Kelemahan: Kehilangan protein membuat tubuh kekurangan nutrisi esensial. Selain itu, pembengkakan yang parah membuat tubuh terasa lebih berat, sehingga kamu akan mudah merasa letih, lesu, dan tidak bertenaga meskipun sudah cukup beristirahat.
- Hilangnya Nafsu Makan: Pembengkakan yang terjadi di area perut dan usus bisa membuat sistem pencernaan terasa tidak nyaman, kembung, dan menekan lambung, yang berujung pada penurunan nafsu makan yang drastis.
Penyebab dan Faktor Risiko
Penyebab dari kondisi ini diklasifikasikan menjadi dua kelompok besar, yaitu penyebab primer (kelainan yang berasal langsung dari ginjal) dan penyebab sekunder (kelainan sistemik atau penyakit lain yang berdampak pada ginjal). Mengetahui penyebab pastinya sangat penting bagi dokter untuk menentukan jenis pengobatan yang paling efektif.
Penyebab Primer meliputi:
- Minimal Change Disease (Penyakit Perubahan Minimal): Ini adalah penyebab paling umum pada anak-anak. Disebut “minimal” karena saat jaringan ginjal diperiksa di bawah mikroskop biasa, jaringan tersebut terlihat normal atau hanya mengalami perubahan yang sangat kecil, namun fungsi penyaringannya sangat terganggu.
- Focal Segmental Glomerulosclerosis (FSGS): Kondisi ini ditandai dengan terbentuknya jaringan parut (sklerosis) pada beberapa bagian glomerulus. FSGS bisa terjadi tanpa alasan yang jelas atau bisa dipicu oleh obesitas, infeksi, maupun efek samping obat tertentu. Ini lebih umum terjadi pada orang dewasa.
- Nefropati Membranosa: Gangguan ini terjadi akibat penebalan selaput glomerulus ginjal. Penebalan ini biasanya dipicu oleh endapan kompleks imun yang salah menyerang jaringan ginjal itu sendiri.
Penyebab Sekunder meliputi:
- Nefropati Diabetik: Diabetes yang tidak terkontrol dalam jangka waktu panjang dapat merusak pembuluh darah kecil di seluruh tubuh, termasuk glomerulus di dalam ginjal.
- Lupus Eritematosus Sistemik (SLE): Penyakit autoimun ini dapat menyebabkan peradangan serius pada ginjal, yang dalam dunia medis dikenal dengan istilah nefritis lupus.
- Amiloidosis: Suatu kondisi langka di mana protein abnormal yang disebut amiloid menumpuk pada berbagai organ tubuh, termasuk organ ginjal, sehingga merusak sistem filtrasinya.
Faktor Pemicu dan Risiko Sindrom Nefrotik
- Memiliki riwayat penyakit sistemik seperti diabetes atau penyakit autoimun (Lupus).
- Menderita infeksi kronis, termasuk infeksi HIV, Hepatitis B, Hepatitis C, atau penyakit malaria.
- Penggunaan obat-obatan tertentu secara sembarangan, seperti obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) untuk mengatasi nyeri sendi.
Komplikasi yang Bisa Terjadi
Karena protein yang bocor memiliki fungsi ganda untuk menjaga keseimbangan berbagai sistem di tubuh, sindrom nefrotik yang tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan rentetan komplikasi yang serius, antara lain:
- Penggumpalan Darah (Trombosis): Saat protein bocor melalui urine, tubuh juga kehilangan protein khusus yang berfungsi mencegah pembekuan darah. Hal ini sangat meningkatkan risiko terbentuknya gumpalan darah di dalam pembuluh vena, yang bisa berakibat fatal jika gumpalan tersebut berjalan menuju paru-paru.
- Tingginya Risiko Infeksi: Tubuh kehilangan antibodi atau protein kekebalan tubuh (imunoglobulin) melalui urine. Tanpa perlindungan yang cukup dari antibodi, penderita akan jauh lebih rentan terhadap infeksi bakteri dan virus, terutama infeksi saluran pernapasan.
- Kekurangan Gizi: Pembuangan protein yang terus-menerus bisa menyebabkan tubuh kekurangan gizi (malnutrisi) dan penurunan berat badan otot (muscle wasting), meskipun berat badan secara keseluruhan mungkin terlihat naik karena penumpukan cairan.
- Tekanan Darah Tinggi: Kerusakan pada ginjal akan mengganggu hormon yang mengatur tekanan darah, serta retensi natrium yang berlebihan, sehingga tekanan darah dapat melonjak drastis dan membahayakan jantung.
- Kerusakan Ginjal Akut hingga Kronis: Jika kebocoran protein terlalu berat dan suplai darah ke ginjal terganggu akibat cairan tubuh yang tidak seimbang, ginjal bisa tiba-tiba berhenti berfungsi secara akut, atau perlahan-lahan menurun fungsinya menjadi penyakit ginjal kronis yang mengharuskan cuci darah (dialisis).
Cara Dokter Mendiagnosis
Untuk menegakkan diagnosis yang akurat, dokter biasanya tidak hanya mengandalkan keluhan pembengkakan semata. Diperlukan serangkaian tes laboratorium dan pencitraan medis untuk mengonfirmasi kerusakan pada glomerulus. Beberapa prosedur medis yang akan direkomendasikan dokter antara lain:
1. Tes Urine (Urinalisis)
Langkah pertama yang selalu dilakukan adalah memeriksa sampel urine. Tes dipstick biasa dapat langsung mendeteksi jumlah protein yang abnormal. Terkadang, dokter akan meminta kamu untuk mengumpulkan urine selama 24 jam penuh. Tujuannya adalah untuk mengukur secara presisi seberapa banyak protein yang terbuang dalam sehari. Jika angkanya melebihi 3 gram per hari, hal ini mengindikasikan adanya kerusakan nefron yang parah.
2. Tes Darah Lengkap
Tes darah bertujuan untuk melihat kadar protein albumin di dalam peredaran darahmu. Pada penderita kondisi ini, kadar albumin darah akan terlihat sangat rendah. Selain itu, dokter juga akan memeriksa profil lipid (kolesterol dan trigliserida) yang biasanya melonjak drastis, serta memeriksa kadar kreatinin dan ureum darah untuk mengevaluasi seberapa baik sisa fungsi ginjalmu yang masih bekerja.
3. Biopsi Ginjal
Dalam banyak kasus, mengetahui bahwa ginjal bocor saja tidak cukup; dokter perlu mengetahui *apa* yang menyebabkan kebocoran tersebut. Prosedur biopsi ginjal dilakukan dengan menusukkan jarum tipis khusus ke punggung bagian bawah hingga mencapai ginjal untuk mengambil secuil jaringan mikroskopis. Jaringan ini akan diteliti di bawah mikroskop elektron di laboratorium patologi. Hasil biopsi ini adalah kunci utama untuk membedakan apakah kamu menderita FSGS, nefropati membranosa, atau penyakit perubahan minimal, sehingga pengobatannya bisa disesuaikan.
Pengobatan dan Perawatan Mandiri
Proses pengobatan bertujuan untuk menghentikan kebocoran protein, mengurangi penumpukan cairan yang membuat tubuh bengkak, menurunkan tekanan darah, dan mencegah risiko komplikasi mematikan. Pengobatan biasanya merupakan kombinasi antara obat-obatan medis resep dokter dan perubahan gaya hidup serta pola makan yang ketat.
Dari segi pengobatan medis, dokter sering kali meresepkan obat penurun tekanan darah dari golongan ACE inhibitors atau ARBs (seperti Captopril atau Losartan). Ajaibnya, obat ini tidak hanya menurunkan tekanan darah, tetapi juga terbukti sangat efektif untuk mengurangi tekanan di dalam glomerulus sehingga kebocoran protein bisa ditekan. Selanjutnya, untuk membuang cairan tubuh yang menumpuk, dokter akan meresepkan pil air atau diuretik (seperti Furosemide). Selain itu, untuk menekan sistem imun tubuh yang secara keliru merusak ginjal, obat kortikosteroid atau obat penekan sistem imun lainnya akan diberikan secara bertahap.
Pengobatan tidak akan maksimal tanpa pengaturan pola makan yang tepat. Penderita diwajibkan untuk menjalankan diet rendah garam (natrium) yang sangat ketat. Mengonsumsi makanan asin hanya akan menahan lebih banyak air di dalam tubuh dan memperburuk pembengkakan. Kamu dianjurkan untuk memasak makanan sendiri tanpa tambahan garam meja, MSG, atau kaldu instan, serta menghindari makanan kaleng dan makanan olahan sosis atau kornet.
Selain garam, asupan protein juga harus dijaga keseimbangannya. Dulu, penderita sering disuruh makan banyak protein untuk menggantikan protein yang hilang, tetapi studi terbaru menunjukkan bahwa diet terlalu tinggi protein justru memperberat beban kerja ginjal yang sedang sakit. Oleh karena itu, konsumsilah protein dalam jumlah sedang atau sesuai dengan petunjuk dari dokter spesialis gizi klinik. Kamu juga disarankan untuk mengurangi asupan lemak jenuh untuk membantu mengontrol kadar kolesterol yang biasanya ikut melonjak saat ginjal bermasalah.
Studi Terkait
Penelitian medis terus berkembang untuk menemukan solusi terbaik bagi gangguan ginjal ini. Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam Journal of Nephrology Advances pada tahun 2026 mengungkapkan bahwa penggunaan terapi agen biologis yang secara spesifik menargetkan sel B dalam sistem kekebalan tubuh, terbukti mampu meningkatkan angka remisi (kesembuhan klinis) secara signifikan pada pasien dewasa dengan sindrom nefrotik yang resisten terhadap pengobatan steroid konvensional. Terapi target ini dianggap lebih aman karena mengurangi kerusakan jaringan ginjal akibat efek samping penggunaan steroid jangka panjang.
Selain itu, publikasi lain dalam Pediatric Kidney Journal (2026) menekankan pentingnya pemeriksaan skrining genetik mutasi podosit (sel-sel pada ginjal) pada anak-anak. Studi tersebut menyimpulkan bahwa lebih dari 30% kasus resistensi obat pada anak-anak ternyata dipicu oleh kelainan genetik yang sudah ada sejak lahir, sehingga memandu para dokter untuk beralih menggunakan inhibitor kalsineurin sejak dini alih-alih memaksakan pemberian prednison berdosis tinggi yang berisiko memperlambat tumbuh kembang anak.
Kapan Harus ke Dokter?
Jika gejalamu tidak membaik dalam 2–3 hari, atau pembengkakan semakin parah hingga menyebabkan sesak napas saat berbaring dan jumlah urine yang keluar sangat sedikit, segera konsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Halodoc.
Pembengkakan Tak Kunjung Hilang? Tanya ke HILDA Dulu!
Kamu punya keluhan pembengkakan di mata atau kaki tapi bingung mulai dari mana? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!
HILDA adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
FAQ
1. Apakah sindrom nefrotik bisa disembuhkan secara total?
Peluang kesembuhan sangat bergantung pada penyebab dasarnya. Pada anak-anak dengan kelainan minimal, kondisi ini sering kali dapat sembuh sepenuhnya setelah pengobatan. Namun, pada orang dewasa atau kondisi kronis, penyakit ini mungkin akan kambuh dan memerlukan pengelolaan jangka panjang agar ginjal tidak rusak permanen.
2. Berapa lama pengobatan biasanya berlangsung?
Pengobatan, terutama dengan menggunakan kortikosteroid, biasanya memakan waktu beberapa minggu hingga beberapa bulan. Penghentian obat harus dilakukan secara bertahap (tapering off) di bawah pengawasan ketat dokter, dan tidak boleh dihentikan mendadak meskipun gejala bengkak sudah hilang.
3. Apakah saya boleh minum air dalam jumlah banyak agar ginjal bersih?
Tidak selalu. Jika tubuhmu sedang mengalami pembengkakan yang sangat parah (edema), dokter justru akan menyarankan agar kamu membatasi asupan cairan harianmu untuk mencegah cairan semakin menumpuk di paru-paru dan organ tubuh lainnya.
4. Apa bedanya kondisi ini dengan gagal ginjal?
Kondisi nefrotik mengacu pada “kebocoran” saringan ginjal yang mengeluarkan banyak protein, namun fungsi ginjal untuk menyaring racun sering kali masih bekerja. Sedangkan gagal ginjal adalah kondisi akhir di mana organ ginjal sudah sepenuhnya rusak dan kehilangan kemampuannya untuk menyaring racun dari tubuh.
Mengelola kesehatan ginjal memang membutuhkan kesabaran dan kedisiplinan yang tinggi, baik dalam mematuhi jadwal minum obat maupun menjaga pantangan makanan sehari-hari. Jika dokter telah meresepkan obat untuk meringankan gejala dan mengontrol kondisi ginjalmu, kini kamu bisa mendapatkan kemudahan tebus resep secara online tanpa perlu repot antre. Buka aplikasi Toko Kesehatan Halodoc sekarang juga, pesan obat yang kamu butuhkan, dan pesananmu akan diantar dengan aman dan cepat langsung ke pintu rumahmu.
Referensi
- PubMed Central (2026). Advances in Nephrotic Syndrome Management and Targeted Biologic Therapies.
- Mayo Clinic (2023). Nephrotic Syndrome – Symptoms, Causes, and Diagnosis.
- World Health Organization (WHO) (2022). Chronic Kidney Disease and Glomerular Disorders.
- Kementerian Kesehatan RI (2022). Panduan Penatalaksanaan Penyakit Ginjal dan Hipertensi di Indonesia.








