Kenapa Bayi Baru Lahir Matanya Kuning? Normal atau Bahaya?

Mengapa Mata Bayi Baru Lahir Terlihat Kuning?
Kondisi mata dan kulit bayi baru lahir yang tampak kekuningan seringkali menjadi perhatian orang tua. Fenomena ini dikenal sebagai jaundice neonatal atau ikterus neonatorum. Jaundice terjadi karena penumpukan zat berwarna kuning yang disebut bilirubin dalam darah dan jaringan tubuh bayi. Bilirubin ini berasal dari proses alami pemecahan sel darah merah. Pada bayi baru lahir, hati yang belum matang sepenuhnya seringkali belum mampu memproses dan membuang bilirubin dengan efisien, sehingga zat ini menumpuk di bawah kulit dan pada bagian putih mata.
Definisi Jaundice pada Bayi Baru Lahir
Jaundice atau ikterus adalah kondisi di mana kulit dan bagian putih mata (sklera) bayi berubah menjadi kuning. Perubahan warna ini disebabkan oleh kadar bilirubin yang tinggi dalam darah. Bilirubin adalah pigmen kuning yang terbentuk dari pemecahan hemoglobin, protein dalam sel darah merah. Normalnya, bilirubin diproses oleh hati dan dikeluarkan dari tubuh melalui feses. Pada bayi baru lahir, proses ini belum sempurna.
Kenapa Bayi Baru Lahir Matanya Kuning?
Penyebab utama mengapa bayi baru lahir mengalami kuning pada mata dan kulit adalah karena penumpukan bilirubin. Hal ini berkaitan erat dengan sistem tubuh bayi yang masih dalam tahap perkembangan.
Jaundice Fisiologis (Normal)
Jaundice fisiologis adalah jenis jaundice yang paling umum dan seringkali normal. Kondisi ini terjadi karena hati bayi belum sepenuhnya matang untuk memproses bilirubin secara efektif. Saat lahir, bayi memiliki jumlah sel darah merah yang lebih banyak. Ketika sel-sel darah merah ini pecah, mereka menghasilkan bilirubin dalam jumlah besar yang harus diolah oleh hati.
Karena hati bayi belum sepenuhnya berfungsi optimal, proses pengolahan bilirubin menjadi lebih lambat. Akibatnya, bilirubin menumpuk sementara di dalam tubuh bayi, menyebabkan kulit dan mata terlihat kuning. Jaundice fisiologis biasanya muncul 2-4 hari setelah lahir dan akan membaik serta hilang sendiri dalam 1-2 minggu seiring dengan kematangan hati bayi.
Penyebab Jaundice yang Lebih Serius
Meskipun sebagian besar kasus jaundice pada bayi baru lahir bersifat fisiologis dan tidak berbahaya, ada beberapa kondisi yang bisa menyebabkan jaundice muncul lebih awal atau dengan kadar bilirubin yang sangat tinggi, menandakan masalah medis yang lebih serius.
Kondisi Medis Lainnya
- Ketidakcocokan Golongan Darah: Jika golongan darah ibu dan bayi tidak cocok (misalnya, ibu Rh negatif dan bayi Rh positif), tubuh ibu dapat menghasilkan antibodi yang menyerang sel darah merah bayi. Ini menyebabkan pemecahan sel darah merah yang cepat dan peningkatan kadar bilirubin.
- Infeksi: Infeksi pada bayi, seperti sepsis (infeksi darah) atau infeksi virus tertentu, dapat memengaruhi kemampuan hati untuk memproses bilirubin secara efektif.
- Kesulitan Menyusu (Breastfeeding Jaundice): Bayi yang tidak mendapatkan cukup ASI (misalnya karena kesulitan menyusu atau produksi ASI yang kurang) dapat mengalami dehidrasi ringan. Kurangnya cairan dan asupan dapat memperlambat pembuangan bilirubin dari tubuh.
- Prematuritas: Bayi yang lahir prematur memiliki hati yang lebih belum matang dibandingkan bayi cukup bulan, sehingga lebih rentan mengalami jaundice.
- Masalah Hati atau Saluran Empedu: Kondisi medis langka seperti atresia bilier (saluran empedu yang tersumbat) dapat mencegah bilirubin keluar dari hati dan menyebabkan penumpukan yang serius.
- Defisiensi Enzim G6PD: Kekurangan enzim G6PD dapat membuat sel darah merah lebih rentan pecah, meningkatkan produksi bilirubin.
Gejala Jaundice yang Perlu Diwaspadai
Selain mata dan kulit yang kuning, ada beberapa tanda lain yang mengindikasikan jaundice perlu perhatian medis segera:
- Kuning muncul dalam 24 jam pertama setelah lahir.
- Kuning menyebar cepat ke lengan, kaki, dan telapak tangan.
- Bayi tampak lemas, sulit dibangunkan, atau tidak aktif.
- Bayi tidak mau menyusu atau minum.
- Bayi tampak demam.
- Urin bayi berwarna gelap dan feses berwarna pucat.
- Tangisan bayi bernada tinggi.
Penanganan Jaundice pada Bayi
Penanganan jaundice bergantung pada penyebab dan kadar bilirubin. Untuk jaundice fisiologis ringan, pemberian ASI yang cukup dan sering menyusu dapat membantu. Bilirubin dikeluarkan melalui feses, sehingga menyusu lebih sering membantu proses ini.
Jika kadar bilirubin tinggi, dokter mungkin akan merekomendasikan fototerapi. Terapi ini menggunakan cahaya khusus yang membantu mengubah bilirubin menjadi bentuk yang lebih mudah dikeluarkan oleh tubuh. Dalam kasus yang sangat parah atau disebabkan oleh kondisi tertentu, transfusi tukar mungkin diperlukan.
Pencegahan Jaundice pada Bayi Baru Lahir
Meskipun tidak semua jenis jaundice dapat dicegah, beberapa langkah dapat membantu mengurangi risiko atau keparahannya:
- Pastikan bayi mendapatkan ASI yang cukup segera setelah lahir dan sering. ASI membantu melancarkan sistem pencernaan bayi dan mengeluarkan bilirubin.
- Lakukan pemeriksaan golongan darah dan rhesus ibu hamil untuk mengidentifikasi potensi ketidakcocokan.
- Pantau kesehatan bayi secara ketat, terutama pada hari-hari pertama setelah lahir.
Kapan Harus Konsultasi ke Dokter?
Melihat bayi baru lahir matanya kuning, penting untuk tidak panik tetapi tetap waspada. Segera konsultasikan dengan dokter atau kunjungi fasilitas kesehatan terdekat jika bayi mengalami jaundice yang muncul kurang dari 24 jam setelah lahir, kuning semakin parah atau menyebar, bayi tampak sakit, demam, sulit menyusu, atau sangat lemas. Pemeriksaan medis diperlukan untuk menentukan penyebab pasti dan penanganan yang tepat.
Jangan ragu untuk mencari bantuan profesional jika memiliki kekhawatiran tentang kesehatan bayi. Di Halodoc, tersedia berbagai fitur untuk membantu memahami kondisi kesehatan bayi dan mendapatkan saran medis dari dokter terpercaya.



