Ad Placeholder Image

Kenapa Seseorang Suka Berbohong dan Cara Menyikapinya

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc 29 Juni 2026

Cara Mudah Mengenali Seseorang yang Sedang Berbohong

Kenapa Seseorang Suka Berbohong dan Cara MenyikapinyaKenapa Seseorang Suka Berbohong dan Cara Menyikapinya

DAFTAR ISI


Hampir setiap orang di dunia ini pasti pernah berbohong, setidaknya sekali dalam seumur hidupnya. Mulai dari kebohongan kecil demi menjaga perasaan orang lain (white lies), hingga kebohongan besar yang dilakukan untuk menutupi kesalahan fatal. Secara umum, berbohong adalah tindakan menyembunyikan kebenaran atau menyampaikan informasi yang tidak sesuai dengan fakta yang ada.

Namun, bagaimana jika berbohong menjadi sebuah kebiasaan yang tidak bisa dihentikan? Dalam ranah psikologi dan medis, kondisi di mana seseorang berbohong secara terus-menerus dan seringkali tanpa motif yang jelas disebut sebagai pembohong patologis atau pembohong kompulsif (mythomania). Orang dengan kondisi ini bahkan bisa meyakini bahwa kebohongan yang mereka ciptakan adalah sebuah kebenaran.

Menghadapi seseorang yang suka berbohong, baik itu pasangan, anggota keluarga, teman, maupun rekan kerja, tentu sangat melelahkan secara emosional. Kepercayaan yang rusak tidak mudah untuk dibangun kembali. Oleh karena itu, penting untuk memahami apa yang mendasari perilaku ini agar kamu bisa merespons dan menyikapinya dengan cara yang bijak dan tepat. Jika kamu atau orang terdekat tidak bisa menghentikan kebiasaan ini hingga memicu kecemasan hebat, melakukan konsultasi dokter spesialis kejiwaan adalah langkah penanganan yang sangat disarankan.

Apa Itu Berbohong Kompulsif?

Berbohong kompulsif atau berbohong patologis adalah kondisi di mana seseorang memiliki dorongan kronis untuk berbohong secara berlebihan. Berbeda dengan kebohongan biasa yang biasanya didorong oleh alasan yang jelas (seperti menghindari hukuman atau mencari keuntungan finansial), pembohong patologis seringkali berbohong tanpa alasan yang logis. Mereka berbohong seolah-olah hal tersebut adalah respons otomatis atau refleks terhadap suatu situasi.

Dalam beberapa kasus parah, kebohongan ini tumbuh menjadi cerita yang sangat kompleks dan detail, sehingga sang pembohong sendiri kesulitan membedakan antara realitas dan imajinasi mereka. Gangguan ini sering kali terkait dengan kondisi kesehatan mental lainnya, seperti gangguan kepribadian antisosial, gangguan kepribadian ambang (borderline personality disorder), narsisme, maupun bentuk trauma psikologis di masa lalu.

Jenis-Jenis Kebohongan yang Perlu Diketahui

Sebelum menghakimi seseorang yang suka berbohong, penting untuk mengidentifikasi jenis kebohongan apa yang sedang mereka lakukan. Berikut adalah beberapa jenis kebohongan yang paling umum ditemukan dalam interaksi sosial:

  • White Lies (Kebohongan Putih): Kebohongan kecil yang dilakukan untuk menghindari menyakiti perasaan orang lain. Misalnya, memuji masakan teman meski rasanya kurang enak.
  • Broken Promises (Janji Palsu): Ketidakmampuan atau ketidakinginan seseorang untuk menepati janji yang telah dibuatnya, sering kali diiringi dengan berbagai alasan yang dibuat-buat.
  • Fabrication (Pemalsuan Fakta): Menceritakan sesuatu yang sama sekali tidak pernah terjadi dan menyajikannya sebagai sebuah kebenaran untuk terlihat lebih hebat atau menarik simpati.
  • Bold-Faced Lies (Kebohongan Nyata): Kebohongan yang diucapkan dengan sangat percaya diri meskipun semua orang tahu bahwa hal tersebut adalah bohong.
  • Omission (Kebohongan dengan Menghilangkan Fakta): Berbohong dengan cara tidak menceritakan sebagian fakta atau kebenaran untuk menggiring opini atau menutupi sesuatu.

Alasan Psikologis Seseorang Suka Berbohong

Mengapa seseorang memilih untuk tidak jujur? Secara psikologis, ada banyak pemicu yang membuat seseorang menjadikan kebohongan sebagai mekanisme pertahanan diri. Berikut adalah beberapa alasan utamanya:

  • Rasa Takut yang Berlebihan: Ini adalah alasan paling umum. Takut akan penolakan, takut akan hukuman, takut mengecewakan orang lain, atau takut kehilangan sesuatu yang berharga membuat seseorang memilih jalan pintas dengan berbohong.
  • Kebutuhan untuk Diakui (Validasi): Seseorang dengan harga diri (self-esteem) yang rendah sering kali melebih-lebihkan cerita atau berbohong tentang pencapaian mereka agar terlihat lebih berharga di mata orang lain.
  • Menghindari Konflik: Orang yang tidak suka atau tidak mampu menghadapi konfrontasi emosional cenderung berbohong demi menjaga suasana tetap damai, meskipun hal tersebut hanya bersifat sementara.
  • Sikap Manipulatif: Dalam beberapa kasus yang berkaitan dengan gangguan kepribadian narsistik atau sosiopat, berbohong digunakan secara sadar sebagai alat untuk mengontrol dan memanipulasi orang lain demi keuntungan pribadi.
Tanda-Tanda Fisik Seseorang Sedang Berbohong
  1. Menghindari kontak mata atau justru menatap terlalu tajam tanpa berkedip.
  2. Bahasa tubuh yang kaku dan tidak natural.
  3. Sering menyentuh wajah, terutama bagian hidung, mulut, atau menggaruk leher.
  4. Memberikan terlalu banyak detail yang tidak diminta untuk meyakinkan pendengar.
  5. Adanya jeda waktu yang lama sebelum menjawab pertanyaan sederhana.

Cara Tepat Menyikapi Seseorang yang Suka Berbohong

Jika kamu berhadapan dengan seseorang yang memiliki kebiasaan berbohong, baik itu intensitasnya ringan maupun kronis, kamu perlu strategi yang tepat agar tidak terseret ke dalam drama emosional mereka. Berikut adalah beberapa cara alami dan psikologis untuk menyikapinya:

1. Tetap Tenang dan Jangan Langsung Menyerang
Saat kamu menyadari seseorang sedang berbohong, respons alami adalah marah dan langsung mengonfrontasi mereka. Namun, hal ini sering kali membuat mereka bersikap defensif dan menciptakan kebohongan baru untuk menutupi kebohongan lama. Cobalah untuk tetap tenang, kumpulkan fakta, dan bicarakan secara perlahan.

2. Berikan Ruang untuk Jujur
Terkadang, seseorang berbohong karena merasa terpojok. Kamu bisa memberikan kesempatan dengan mengatakan, “Aku merasa ada bagian dari cerita ini yang kurang pas. Apakah ada hal lain yang ingin kamu sampaikan kepadaku?” Pendekatan yang empati seperti ini dapat menurunkan pertahanan diri mereka.

3. Fokus pada Perasaan, Bukan Pada Kebohongannya
Alih-alih terus menuduh mereka sebagai “pembohong”, sampaikan bagaimana tindakan mereka berdampak pada perasaan dan kepercayaanmu. Misalnya, “Saat kamu tidak mengatakan yang sebenarnya, aku merasa tidak dihargai dan sulit untuk mempercayaimu lagi.”

4. Tetapkan Batasan yang Sehat (Boundaries)
Jika orang tersebut terus berbohong dan hal itu mulai memengaruhi kesehatan mentalmu, saatnya untuk membuat batasan yang tegas. Kamu berhak untuk menjaga jarak secara emosional dan fisik dari seseorang yang terus-menerus merusak kepercayaan.

Kapan Harus ke Dokter?

Kebiasaan berbohong yang dilakukan secara terus-menerus dan di luar kendali dapat merusak hubungan sosial, karier, dan kesehatan mental penderitanya. Jika gejalamu tidak membaik dalam 2–3 hari atau semakin parah, segera konsultasi dengan Psikolog atau Psikiater di Halodoc.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Kenapa Harus Beli Obat di Halodoc?

Kamu bisa mendapatkan obat (termasuk obat rutin), vitamin/suplemen, dan produk kesehatan lainnya di Halodoc.

  • Tebus resep. Melalui fitur Tebus Resep, kamu bisa menebus obat langsung dari rumah atau tempat lainnya dengan cepat dan praktis! 
  • Praktis dan mudah. Tidak perlu antre dan keluar rumah. 
  • Resep resmi: Untuk obat resep, resep obat online diberikan oleh dokter berlisensi (memiliki legalitas resmi atau STR dan SIP) setelah sesi konsultasi.
  • Beli obat tinggal chat di WhatsApp (WA). Simpan nomor Official WhatsApp Halodoc +62 815-8830-780, lalu mulai chat dan pesan obat yang kamu butuhkan.  
  • Apotek resmi. Setiap obat yang dipesan melalui Pharmacy Delivery Halodoc  (apotek online Halodoc), dan disuplai oleh apotek resmi yang memiliki SIA (Surat Izin Apotek).
  • Jaminan asli: Produknya 100% asli (segel resmi utuh, terdapat nomor batch & expiry date) dan terdaftar BPOM.
  • Privasi terjaga: Kemasan rapi, tertutup, dan tanpa label nama obat di bagian luar.
  • Cepat. Diantar hanya dalam 1 jam langsung dari apotek terdekat (24 Jam) dari lokasi kamu berada. 
  • Official Store on E-commerce: Shopee, Tokopedia, Lazada, Tiktok Shop, Gomart, dan Blibli.
  • Gratis rekomendasi obat dan vitamin. Tanya HILDA. HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) asisten AI dari Halodoc yang siap membantu pertanyaan kesehatan umum.

Studi Terkait

Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Journal of Psychiatric Research pada tahun 2026 mengungkapkan wawasan baru tentang neurobiologi kebohongan patologis. Studi tersebut menggunakan pemindaian MRI fungsional tingkat lanjut dan menemukan bahwa individu yang terbiasa berbohong secara kompulsif memiliki aktivitas konektivitas yang lebih tinggi antara amigdala dan korteks prefrontal. Hal ini menunjukkan bahwa otak mereka lebih mahir dalam menekan respons emosional saat menyembunyikan fakta, membuat mereka lebih tenang dan tidak menunjukkan tanda kecemasan saat berbohong dibandingkan orang pada umumnya.

Selain itu, studi komprehensif dari American Journal of Clinical Psychology (2026) menyoroti bahwa pendekatan Terapi Perilaku Kognitif (CBT) yang dikombinasikan dengan manajemen trauma masa lalu terbukti efektif menurunkan frekuensi berbohong kompulsif hingga 65% pada pasien dewasa yang memiliki riwayat gangguan kepribadian.

FAQ

1. Apakah berbohong merupakan sebuah penyakit mental?
Berbohong pada dasarnya adalah perilaku, bukan diagnosis penyakit mental. Namun, kebiasaan berbohong secara kronis dan tanpa alasan yang jelas (berbohong patologis) sering kali menjadi gejala dari masalah kesehatan mental yang mendasarinya, seperti gangguan kepribadian atau trauma psikologis.

2. Mengapa anak-anak sering berbohong?
Anak-anak biasanya berbohong karena mereka sedang mengeksplorasi batas imajinasi, takut akan hukuman, atau sekadar ingin mendapatkan perhatian. Seiring bertambahnya usia dan perkembangan moral, kebiasaan ini umumnya akan berkurang jika diberikan pengertian dan arahan yang tepat dari orang tua.

3. Apakah kebiasaan suka berbohong bisa disembuhkan?
Bisa. Jika kebohongan tersebut bersifat kompulsif, penderita memerlukan bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater. Terapi perilaku kognitif (CBT) sangat membantu untuk mengidentifikasi pemicu kebohongan dan mengajarkan mekanisme koping yang lebih sehat.

4. Bagaimana cara menghadapi pasangan yang terus-menerus berbohong?
Langkah pertama adalah mengomunikasikan dampak kebohongannya terhadap rasa percaya di antara kalian secara tenang. Jika pasangan menolak untuk berubah atau kebohongannya sudah masuk ke tahap manipulatif (gaslighting), mempertimbangkan konseling pernikahan atau mengevaluasi ulang hubungan tersebut adalah tindakan yang bijak demi menjaga kesehatan mentalmu.


Referensi:

  • World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Mental Health: Strengthening Our Response.
  • Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Menjaga Kesehatan Mental dan Hubungan Sosial.
  • Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Antisocial Personality Disorder: Symptoms and Causes.
  • PubMed Central. Diakses pada 2024. The Psychology of Lying and Deception.