Ad Placeholder Image

Mengenal Hipotensi: Si Darah Rendah yang Bikin Pusing

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   12 Mei 2026

Pahami Hipotensi: Ini Tekanan Darah Rendah dan Cirinya

Mengenal Hipotensi: Si Darah Rendah yang Bikin PusingMengenal Hipotensi: Si Darah Rendah yang Bikin Pusing

Memahami Apa yang Dimaksud dengan Hipotensi: Kondisi Tekanan Darah Rendah dan Penanganannya

Hipotensi adalah kondisi medis yang ditandai dengan tekanan darah di bawah normal, yaitu di bawah 90/60 mmHg. Pada kondisi ini, aliran darah yang menuju ke otak dan organ vital lainnya dapat berkurang. Meskipun seringkali tanpa gejala yang jelas, hipotensi bisa menyebabkan berbagai keluhan seperti pusing, lemas, penglihatan kabur, hingga pingsan. Penting untuk memahami apa yang dimaksud dengan hipotensi karena kondisi ini bisa menjadi indikasi dehidrasi, kehamilan, atau bahkan gejala dari penyakit lain yang lebih serius.

Apa yang Dimaksud dengan Hipotensi?

Secara medis, hipotensi didefinisikan sebagai kondisi ketika pembacaan tekanan darah sistolik berada di bawah 90 milimeter merkuri (mmHg) atau tekanan darah diastolik berada di bawah 60 mmHg. Angka 90/60 mmHg ini menjadi patokan standar untuk menentukan bahwa tekanan darah seseorang berada dalam kategori rendah.

Tekanan darah adalah gaya yang diberikan darah pada dinding arteri saat jantung memompa. Tekanan darah sistolik (angka atas) menunjukkan tekanan saat jantung berdetak, sedangkan tekanan darah diastolik (angka bawah) menunjukkan tekanan saat jantung beristirahat di antara detak. Tekanan darah rendah ini menyebabkan pasokan darah yang kaya oksigen dan nutrisi ke organ-organ penting tubuh seperti otak, jantung, dan ginjal menjadi tidak mencukupi, yang dapat mengganggu fungsi normal organ dan memicu berbagai gejala.

Tanda dan Gejala Hipotensi

Meskipun beberapa orang mungkin tidak merasakan gejala apa pun, hipotensi dapat menimbulkan serangkaian tanda dan gejala yang mengganggu. Tanda-tanda ini sering muncul ketika aliran darah ke otak tidak memadai atau tubuh tidak mendapatkan suplai oksigen yang cukup.

  • Pusing atau sakit kepala ringan: Terutama saat perubahan posisi dari duduk atau berbaring menjadi berdiri, kondisi ini dikenal sebagai hipotensi ortostatik.
  • Penglihatan kabur atau sensasi berkunang-kunang di mata: Akibat kurangnya aliran darah ke mata.
  • Kelemahan atau rasa lelah: Dapat terjadi karena organ tubuh tidak menerima oksigen dan nutrisi yang cukup.
  • Mual atau muntah: Beberapa individu mungkin mengalami gangguan pencernaan.
  • Kulit dingin dan lembap: Merupakan respons tubuh terhadap penurunan tekanan darah.
  • Sulit berkonsentrasi atau kebingungan: Indikasi bahwa otak tidak mendapatkan suplai darah yang optimal.
  • Pingsan (sinkop): Kondisi hilangnya kesadaran sementara akibat berkurangnya aliran darah ke otak secara drastis.

Gejala-gejala ini dapat bervariasi tingkat keparahannya dan mungkin muncul secara tiba-tiba, memerlukan perhatian medis jika berulang atau parah.

Penyebab Hipotensi

Hipotensi dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi sementara hingga masalah kesehatan yang lebih serius. Identifikasi penyebab sangat penting untuk penanganan yang efektif dan tepat.

  • Dehidrasi: Kekurangan cairan dalam tubuh akibat asupan air yang tidak cukup atau kehilangan cairan berlebih (misalnya karena diare, muntah, atau keringat berlebihan) dapat menurunkan volume darah dan menyebabkan hipotensi.
  • Kehamilan: Selama kehamilan, sistem peredaran darah wanita mengalami perubahan signifikan, termasuk peningkatan volume darah. Namun, pelebaran pembuluh darah juga bisa terjadi, yang seringkali menyebabkan tekanan darah sedikit menurun pada trimester pertama dan kedua.
  • Masalah Jantung: Kondisi seperti bradikardia (detak jantung sangat lambat), masalah katup jantung, serangan jantung, atau gagal jantung dapat menghambat kemampuan jantung memompa darah secara efektif ke seluruh tubuh.
  • Masalah Endokrin: Gangguan hormon dari kelenjar endokrin seperti tiroid (hipotiroidisme), kelenjar adrenal (penyakit Addison), atau gula darah rendah (hipoglikemia) dapat memicu hipotensi.
  • Infeksi Berat (Sepsis): Ketika infeksi menyebar ke seluruh tubuh, dapat menyebabkan penurunan tekanan darah yang berbahaya (syok septik).
  • Reaksi Alergi Berat (Anafilaksis): Reaksi alergi yang parah dapat menyebabkan penurunan tekanan darah drastis dan syok anafilaktik.
  • Kehilangan Darah: Kehilangan darah dalam jumlah besar akibat cedera atau perdarahan internal dapat secara signifikan menurunkan volume darah dan tekanan darah.
  • Obat-obatan: Beberapa jenis obat, seperti diuretik, obat tekanan darah tinggi (penghambat alfa, beta-blocker), antidepresan, atau obat disfungsi ereksi, dapat memiliki efek samping menurunkan tekanan darah.

Kapan Harus Mendapatkan Bantuan Medis untuk Hipotensi?

Meskipun hipotensi seringkali tidak berbahaya, penting untuk segera mencari bantuan medis jika mengalami gejala-gejala berat atau persisten. Kondisi ini bisa menjadi tanda masalah kesehatan yang mendasari yang memerlukan intervensi medis.

  • Pingsan berulang atau kehilangan kesadaran.
  • Nyeri dada yang parah atau sesak napas.
  • Kebingungan mendadak atau perubahan status mental yang signifikan.
  • Kulit pucat, dingin, dan lembap, yang bisa menjadi tanda syok.
  • Detak jantung sangat cepat atau tidak teratur.
  • Adanya tanda-tanda syok, seperti napas cepat dan dangkal.

Deteksi dini dan penanganan yang tepat oleh profesional kesehatan sangat penting untuk mencegah komplikasi serius dan memastikan kondisi kesehatan dapat dikelola dengan baik.

Penanganan dan Pencegahan Hipotensi

Penanganan hipotensi sangat bergantung pada penyebab yang mendasarinya. Setelah diagnosis oleh dokter, rencana pengobatan dapat disesuaikan. Beberapa strategi umum meliputi:

  • Meningkatkan Asupan Cairan: Minum air yang cukup untuk mencegah dehidrasi, terutama saat berolahraga atau cuaca panas.
  • Meningkatkan Asupan Garam: Dalam beberapa kasus (atas saran dokter), meningkatkan asupan garam dapat membantu menaikkan tekanan darah. Namun, ini harus dilakukan di bawah pengawasan medis karena dapat berbahaya bagi penderita kondisi tertentu.
  • Hindari Minuman Beralkohol: Alkohol dapat menyebabkan dehidrasi dan menurunkan tekanan darah.
  • Makan Porsi Kecil dan Sering: Ini dapat membantu mencegah penurunan tekanan darah yang drastis setelah makan, yang dikenal sebagai hipotensi postprandial.
  • Perubahan Posisi Secara Perlahan: Hindari berdiri terlalu cepat dari posisi duduk atau berbaring untuk mencegah pusing atau pingsan.
  • Kenakan Stoking Kompresi: Dapat membantu meningkatkan sirkulasi darah di kaki dan mencegah penumpukan darah di ekstremitas bawah.
  • Penyesuaian Obat: Jika hipotensi disebabkan oleh efek samping obat-obatan, dokter mungkin akan menyesuaikan dosis atau mengganti obat.
  • Atasi Kondisi Medis yang Mendasari: Pengobatan penyakit jantung, masalah endokrin, atau infeksi akan membantu menstabilkan tekanan darah secara keseluruhan.

Pencegahan hipotensi juga melibatkan gaya hidup sehat, menjaga hidrasi tubuh, dan pemantauan kondisi kesehatan secara teratur.

Kesimpulan dan Rekomendasi Halodoc

Hipotensi adalah kondisi yang perlu diwaspadai, meskipun seringkali bersifat ringan. Memahami apa yang dimaksud dengan hipotensi, gejala, dan penyebabnya adalah langkah awal yang krusial untuk menjaga kesehatan. Jika merasakan gejala hipotensi yang mengganggu, berulang, atau memiliki kekhawatiran terkait tekanan darah rendah, sangat disarankan untuk segera berkonsultasi dengan profesional kesehatan.

Melalui platform Halodoc, dapat dengan mudah menghubungi dokter spesialis untuk mendapatkan diagnosis akurat, saran medis yang tepat, dan rencana penanganan yang personal. Jangan ragu untuk memanfaatkan layanan telekonsultasi atau membuat janji temu dengan dokter melalui aplikasi Halodoc untuk penanganan yang cepat dan efektif sesuai kebutuhan medis.