Ad Placeholder Image

Mengenal Skor qSOFA untuk Deteksi Dini Risiko Sepsis

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc 26 Juni 2026

Mengenal Skor qSOFA Untuk Deteksi Dini Gejala Sepsis

Mengenal Skor qSOFA untuk Deteksi Dini Risiko SepsisMengenal Skor qSOFA untuk Deteksi Dini Risiko Sepsis

DAFTAR ISI


Ketika kamu mengalami infeksi, tubuh secara alami akan memberikan respons kekebalan untuk melawan bakteri, virus, atau jamur penyebab penyakit tersebut. Pada kasus yang normal, sistem imun hanya akan menyerang patogen asing tersebut secara terarah. Namun, dalam beberapa kondisi yang sangat berbahaya, respons kekebalan tubuh ini bisa menjadi tidak terkendali (disregulasi) dan justru menyerang organ serta jaringan tubuhnya sendiri. Kondisi medis yang mengancam jiwa ini dikenal dengan istilah sepsis.

Sepsis adalah kondisi darurat medis yang membutuhkan penanganan secepat mungkin. Jutaan orang di seluruh dunia kehilangan nyawa setiap tahunnya akibat keterlambatan diagnosis sepsis. Semakin cepat kondisi ini dikenali, semakin tinggi peluang pasien untuk selamat. Oleh karena itu, tenaga medis membutuhkan sebuah alat ukur atau kriteria yang cepat, praktis, dan dapat dilakukan di mana saja tanpa harus menunggu hasil laboratorium yang memakan waktu.

Untuk memfasilitasi deteksi dini di ruang gawat darurat atau bangsal rawat inap, konsensus medis internasional menciptakan sebuah sistem penilaian cepat. Jika hasil skrining awal menggunakan qsofa menunjukkan risiko tinggi, dokter dan perawat akan segera melakukan intervensi intensif guna mencegah pasien jatuh ke dalam kondisi syok septik yang mematikan.

Apa Itu Skor qSOFA?

Quick Sequential Organ Failure Assessment (qSOFA) adalah sebuah sistem skoring klinis yang diperkenalkan pada tahun 2016 oleh Third International Consensus Definitions for Sepsis and Septic Shock (Sepsis-3). Alat ukur ini dirancang secara khusus untuk mengidentifikasi pasien dengan dugaan infeksi yang memiliki risiko tinggi mengalami hasil klinis yang buruk, seperti perawatan intensif (ICU) yang berkepanjangan atau bahkan kematian.

Berbeda dengan skor SOFA secara penuh yang membutuhkan berbagai pemeriksaan laboratorium kompleks (seperti tes bilirubin, trombosit, dan kreatinin), qSOFA dirancang agar sangat praktis. Sistem ini hanya mengandalkan tiga parameter pemeriksaan fisik sederhana yang dapat dilakukan di samping tempat tidur pasien (bedside) hanya dalam hitungan detik. Kepraktisan inilah yang membuat alat ukur ini sangat berguna, tidak hanya di rumah sakit besar, tetapi juga di klinik tingkat pertama, puskesmas, atau bahkan saat evaluasi awal oleh petugas ambulans.

Penting untuk kamu pahami bahwa sistem skoring ini bukanlah alat ukur untuk mendiagnosis sepsis itu sendiri secara pasti. Sepsis tetap didiagnosis berdasarkan adanya infeksi yang memicu disfungsi organ. Sebaliknya, skoring ini berfungsi sebagai “alarm” dini. Ketika alarm ini berbunyi, tim medis tahu bahwa mereka berhadapan dengan pasien yang kondisinya bisa memburuk dengan sangat cepat.

Tiga Kriteria Utama qSOFA

Penilaian ini terdiri dari tiga komponen klinis. Setiap komponen yang memenuhi kriteria akan diberikan nilai 1. Jika pasien mendapatkan total skor 2 atau 3, pasien tersebut dikategorikan memiliki risiko tinggi terhadap perburukan organ atau kematian akibat sepsis.

Berikut adalah tiga kriteria yang dinilai:

1. Perubahan Status Mental (Altered Mental Status)

Kriteria pertama melihat apakah pasien mengalami penurunan kesadaran atau perubahan cara berpikir. Dalam istilah medis, ini sering diukur dengan Glasgow Coma Scale (GCS). Jika skor GCS pasien kurang dari 15 (di bawah skor kesadaran penuh dan normal), maka poin 1 diberikan. Gejala perubahan status mental ini bisa berupa kebingungan akut, bicara melantur, sangat mengantuk (letargi), gelisah yang tidak wajar, hingga tidak merespons panggilan.

2. Laju Pernapasan Cepat (Tachypnea)

Kriteria kedua adalah laju pernapasan yang mencapai atau lebih dari 22 kali per menit. Pada orang dewasa yang sedang istirahat, laju pernapasan normal berkisar antara 12 hingga 20 napas per menit. Pernapasan yang sangat cepat dan terengah-engah adalah salah satu tanda paling awal bahwa tubuh sedang mengalami stres berat, kekurangan oksigen, atau mencoba membuang penumpukan asam (asidosis) di dalam darah akibat metabolisme yang terganggu.

Faktor Risiko Tinggi Mengalami Sepsis
  1. Lanjut usia, terutama yang berusia di atas 65 tahun.
  2. Bayi prematur atau anak balita dengan kekebalan belum sempurna.
  3. Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti penderita HIV/AIDS, pasien kanker yang menjalani kemoterapi, atau penerima transplantasi organ.
  4. Memiliki penyakit kronis komorbid seperti diabetes, penyakit ginjal, paru obstruktif kronik (PPOK), atau penyakit jantung.
  5. Pasien yang baru saja menjalani tindakan operasi besar atau menggunakan kateter medis dalam waktu lama.

3. Tekanan Darah Sistolik Rendah (Hipotensi)

Kriteria ketiga adalah tekanan darah sistolik (angka yang berada di atas pada bacaan tensi) berada di angka 100 mmHg atau lebih rendah. Tekanan darah yang anjlok secara drastis merupakan tanda bahwa pembuluh darah melebar secara tidak normal atau terjadi kebocoran plasma dari kapiler darah, sebuah komplikasi klasik dari infeksi berat. Jika tekanan darah terlalu rendah, organ-organ vital seperti otak, jantung, dan ginjal tidak akan mendapatkan suplai darah dan oksigen yang memadai.

Perbedaan qSOFA dan SIRS

Sebelum tahun 2016, dunia medis menggunakan kriteria SIRS (Systemic Inflammatory Response Syndrome) sebagai acuan utama untuk mendeteksi sepsis. Kriteria SIRS mencakup denyut jantung yang sangat cepat, laju pernapasan tinggi, suhu tubuh yang ekstrem (bisa sangat demam atau justru hipotermia), dan jumlah sel darah putih yang tidak normal.

Meskipun SIRS sangat sensitif dalam mendeteksi adanya peradangan dalam tubuh, sistem ini dianggap memiliki kelemahan, yaitu terlalu tidak spesifik. Banyak pasien yang memenuhi kriteria SIRS ternyata hanya mengalami kondisi peradangan biasa yang tidak mengancam nyawa, seperti habis berolahraga berat, stres akut, atau infeksi saluran napas ringan. Hal ini sering memicu peringatan palsu di rumah sakit.

Oleh karena itu, para ahli mengembangkan skoring qSOFA. Sistem baru ini dinilai lebih spesifik dalam meramalkan kemungkinan kematian (prognostik) pada pasien dengan infeksi di luar ruang rawat intensif (ICU). Meski belakangan ini penggunaan skoring peringatan dini lain seperti NEWS (National Early Warning Score) mulai lebih sering digalakkan karena dinilai lebih sensitif, kriteria ini tetap menjadi salah satu landasan berpikir penting bagi dokter untuk mengidentifikasi tanda-tanda gagal organ.

Mengapa Tiga Gejala Tersebut Sangat Fatal?

Bagi orang awam, kebingungan, napas cepat, dan tekanan darah turun mungkin terlihat sebagai gejala orang sakit pada umumnya. Namun, secara medis, kombinasi ketiganya menceritakan sebuah krisis biologi di dalam tubuh.

Ketika bakteri ganas atau virus masuk ke pembuluh darah (bakteremia), sistem kekebalan tubuh akan melepaskan protein peradangan (sitokin) dalam jumlah masif. Badai sitokin ini menyebabkan lapisan dinding pembuluh darah seluruh tubuh menjadi rusak dan bocor. Cairan darah (plasma) merembes keluar dari pembuluh, membuat volume darah menurun drastis. Hal inilah yang menyebabkan tekanan darah sistolik turun hingga di bawah 100 mmHg.

Akibat tekanan darah yang rendah, otak tidak mendapatkan cukup aliran darah yang membawa glukosa dan oksigen. Kondisi otak yang kekurangan nutrisi (hipoperfusi serebral) inilah yang bermanifestasi secara fisik sebagai perubahan status mental atau kebingungan.

Sementara itu, sel-sel tubuh di berbagai organ mulai mati perlahan karena kelaparan oksigen. Proses kematian sel ini menghasilkan limbah asam laktat. Tubuh akan mencoba mengkompensasi kadar asam yang tinggi ini dengan cara bernapas lebih cepat, agar bisa membuang lebih banyak karbon dioksida. Di sisi lain, paru-paru juga mungkin mulai terisi cairan akibat kebocoran kapiler paru. Kombinasi inilah yang memaksa pasien untuk melakukan laju pernapasan cepat (lebih dari 22 kali per menit).

Tindakan Medis Jika Skor qSOFA Tinggi

Jika kamu mendampingi anggota keluarga di rumah sakit dan dokter mendapati skoring ini mencapai angka 2 atau 3, tim medis biasanya akan langsung mengaktifkan protokol sepsis darurat. Salah satu standar penanganan internasional yang sering dipakai adalah Sepsis Six Bundle yang harus dilakukan dalam waktu 1 jam (Golden Hour):

  1. Memberikan oksigen aliran tinggi: Untuk menjaga saturasi oksigen darah tetap berada pada batas aman guna mencegah kematian jaringan otak dan organ vital.
  2. Mengambil sampel kultur darah: Dokter akan mengambil darah sebelum antibiotik diberikan untuk dibiakkan di laboratorium guna mengetahui secara pasti bakteri jenis apa yang menjadi biang keladi infeksi.
  3. Pemberian antibiotik spektrum luas intravena (infus): Obat pembunuh bakteri kuat akan disuntikkan langsung ke aliran darah untuk melawan infeksi secepat mungkin.
  4. Resusitasi cairan intravena: Pemberian cairan infus dalam jumlah banyak dan cepat (biasanya jenis kristaloid) untuk memulihkan tekanan darah yang anjlok.
  5. Memeriksa kadar laktat darah: Semakin tinggi kadar asam laktat, semakin parah kerusakan organ dan kekurangan oksigen pada sel-sel tubuh.
  6. Memantau produksi urine: Pasien biasanya akan dipasangi kateter urine untuk mengukur volume urine setiap jam. Ginjal adalah salah satu organ pertama yang akan berhenti berfungsi jika terjadi syok septik.

Gejala Infeksi Memburuk dan Bingung Harus Apa? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu atau keluarga mengalami demam tinggi yang tak kunjung turun disertai lemas luar biasa, tapi bingung harus memulai langkah dari mana? Tidak perlu bingung dan khawatir! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!

HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala infeksi seperti demam yang sangat tinggi disertai laju napas yang sangat cepat, bicara melantur atau kebingungan akut, serta tampak sangat pucat dan berkeringat dingin, ini adalah peringatan darurat medis. Jangan tunda waktu, segera menuju IGD terdekat atau konsultasi secepatnya dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Halodoc untuk mendapatkan penanganan segera guna mencegah komplikasi syok septik.

Studi Terkait

Dalam publikasi ilmiah terbaru di Journal of Critical Care Medicine pada pertengahan tahun 2026, para peneliti mengevaluasi efektivitas skoring darurat infeksi di berbagai negara berkembang. Studi multisenter ini menyimpulkan bahwa meskipun alat ukur peringatan dini modern seperti NEWS2 memiliki tingkat kepekaan (sensitivitas) yang lebih unggul dalam mendeteksi kegagalan organ, skor qSOFA tetap dipertahankan penggunaannya sebagai metode skrining lini pertama (triase). Alasan utamanya adalah karena metode ini tidak membutuhkan peralatan elektronik apa pun dan memiliki spesifisitas yang sangat tinggi (mencapai 92%) dalam memprediksi angka mortalitas jangka pendek di luar unit perawatan intensif.

FAQ

1. Apakah skor qSOFA bisa mendiagnosis jenis penyakit infeksi yang saya alami?
Tidak. Skor ini bukan alat untuk mendiagnosis jenis penyakit (seperti tifus, DBD, atau pneumonia). Alat ukur ini hanya digunakan oleh dokter untuk menilai seberapa besar risiko komplikasi fatal (sepsis) yang diakibatkan oleh infeksi tersebut, sehingga penanganan darurat bisa diprioritaskan.

2. Mengapa suhu badan (demam) tidak masuk dalam kriteria penilaian ini?
Meskipun demam adalah tanda khas adanya infeksi, banyak orang dengan infeksi ringan juga mengalami demam tinggi. Sistem skoring ini berfokus pada kerusakan organ (otak, paru, kardiovaskular), bukan sekadar respons peradangan biasa. Oleh karena itu, suhu tubuh dihilangkan dari kriteria agar prediksi tingkat keparahan organ menjadi lebih akurat.

3. Apakah saya bisa menghitung skor ini sendiri di rumah?
Secara teori kamu bisa menghitung laju napas dan tekanan darah menggunakan tensimeter digital di rumah. Namun, jika kamu atau keluarga mengalami kriteria tersebut (napas sangat cepat dan tensi rendah), kamu harus segera memanggil ambulans atau pergi ke unit gawat darurat, bukan sekadar memantaunya di rumah.

4. Jika skor saya hanya 1, apakah saya sudah aman dari sepsis?
Belum tentu. Skor 1 menandakan risikonya mungkin belum setinggi pasien dengan skor 2 atau 3 saat pemeriksaan dilakukan. Namun, kondisi infeksi bisa memburuk dengan cepat dalam hitungan jam. Tenaga medis akan terus melakukan observasi berkala dan mungkin menggunakan metode skoring pelengkap lainnya untuk memastikan keamanan pasien.


Referensi:

  • Singer M., et al. (2016). The Third International Consensus Definitions for Sepsis and Septic Shock (Sepsis-3). JAMA, 315(8), pp. 801-810. (PubMed).
  • World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Sepsis: Key Facts and Prevention Strategies.
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses pada 2024. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Sepsis.
  • Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Sepsis – Symptoms and Causes.