Ad Placeholder Image

Mengenal Stages of Grief untuk Bantu Pulihkan Hati

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc 26 Juni 2026

Memahami Stages of Grief Agar Hati Kembali Tenang

Mengenal Stages of Grief untuk Bantu Pulihkan HatiMengenal Stages of Grief untuk Bantu Pulihkan Hati

DAFTAR ISI


Kehilangan seseorang yang dicintai, mengalami perpisahan berat, atau bahkan kehilangan pekerjaan impian dapat meninggalkan luka emosional yang teramat dalam. Saat menghadapi momen-momen berat seperti ini, pikiran dan tubuh kita bereaksi dengan cara yang sering kali tidak terduga. Perasaan hampa, marah, dan bingung kerap datang silih berganti seolah tanpa ujung.

Setiap orang memiliki waktu dan cara yang berbeda-beda dalam memproses rasa kehilangan tersebut. Tidak ada standar baku mengenai bagaimana seseorang seharusnya bersedih. Namun, dalam dunia psikologi, terdapat sebuah pola emosional umum yang diidentifikasi untuk membantu kita memahami apa yang sedang terjadi di dalam diri saat berhadapan dengan duka yang mendalam.

Proses adaptasi psikologis ini dikenal luas dengan istilah stages of grief. Teori yang pertama kali diperkenalkan oleh psikiater asal Swiss-Amerika, Elisabeth Kübler-Ross, pada tahun 1969 ini, menjelaskan bahwa berduka bukanlah sebuah kondisi yang statis, melainkan sebuah perjalanan dinamis yang terdiri dari beberapa fase emosional. Memahami proses ini sangat penting agar kamu tidak merasa sendirian dan tahu bahwa apa yang kamu rasakan adalah reaksi manusiawi yang normal.

Memahami 5 Fase dalam Stages of Grief

Konsep duka dari Kübler-Ross membaginya ke dalam lima tahapan utama. Sangat penting untuk dicatat bahwa kelima tahapan ini tidak selalu terjadi secara berurutan. Beberapa orang mungkin melewati satu tahapan, menetap lama di tahapan lain, atau bahkan mengalami siklus emosi yang berulang-ulang.

1. Penolakan (Denial)

Reaksi pertama yang paling umum saat menerima kabar buruk atau kehilangan adalah syok dan penolakan. Kamu mungkin merasa bahwa kejadian tersebut tidak nyata atau berharap bahwa ini hanyalah mimpi buruk semata. Penolakan adalah mekanisme pertahanan alami dari otak untuk membantu meredam intensitas emosi yang datang secara tiba-tiba, sehingga kamu bisa bertahan dari guncangan awal.

2. Marah (Anger)

Ketika efek syok mulai memudar dan kenyataan mulai terasa, rasa sakit pun muncul. Namun, rasa sakit tersebut sering kali dialihkan dan diekspresikan sebagai kemarahan. Kemarahan ini bisa ditujukan kepada diri sendiri, orang lain, situasi, benda mati, dokter, atau bahkan pada sosok yang telah pergi meninggalkan kita. Merasa marah sangatlah wajar sebagai bentuk luapan dari rasa frustrasi dan ketidakberdayaan.

Faktor yang Memengaruhi Perjalanan Berduka
  1. Tingkat kedekatan dan keterikatan emosional dengan sosok atau hal yang hilang.
  2. Pengalaman trauma atau kehilangan di masa lalu.
  3. Kondisi kesehatan fisik dan mental sebelum terjadinya kehilangan.
  4. Adanya dukungan sosial (support system) dari keluarga maupun teman terdekat.

3. Tawar-menawar (Bargaining)

Dalam fase ini, seseorang sering kali merasa sangat rentan dan tidak berdaya. Sebagai upaya untuk mendapatkan kembali kendali atas situasi, muncul perasaan ingin “tawar-menawar”. Kamu mungkin mendapati dirimu terus-menerus memikirkan “seandainya saja…” atau “coba saja kalau aku melakukan…”. Beberapa orang juga mungkin membuat janji kepada Tuhan atau semesta sebagai harapan agar rasa sakitnya bisa dihilangkan atau keadaan bisa kembali seperti semula.

4. Depresi (Depression)

Ketika kamu mulai menyadari kenyataan secara penuh, emosi akan bergerak menuju keheningan dan kesedihan yang mendalam. Berbeda dengan rasa marah yang meledak-ledak, depresi dalam fase berduka cenderung ditandai dengan penarikan diri, merasa hampa, kelelahan fisik, dan kehilangan minat pada hal-hal yang dulu disukai. Fase ini bukanlah tanda kelemahan, melainkan proses yang diperlukan tubuh dan jiwa untuk benar-benar merasakan kehilangan.

5. Penerimaan (Acceptance)

Penerimaan bukan berarti kamu sudah benar-benar merasa “baik” atau “bahagia” dengan kehilangan tersebut. Penerimaan berarti kamu telah mengakui kenyataan yang terjadi secara objektif dan menyadari bahwa hal tersebut kini menjadi bagian permanen dari hidupmu. Pada tahap ini, kamu mulai bisa menata kembali kehidupan dan merencanakan masa depan, meskipun tetap ada rindu atau memori tentang apa yang telah hilang.

Tips Mengelola Kesedihan dengan Sehat

Menjalani proses stages of grief memang sangat melelahkan, baik secara mental maupun fisik. Ada beberapa langkah yang bisa kamu terapkan untuk membantu melewati masa-masa kelam ini dengan cara yang lebih suportif terhadap dirimu sendiri:

Pertama, validasi semua perasaanmu. Jangan pernah menekan atau memaksa dirimu untuk cepat-cepat sembuh. Izinkan dirimu untuk menangis, merasa marah, atau sekadar diam. Mengabaikan emosi hanya akan memperpanjang proses penyembuhan.

Kedua, jaga kesehatan fisik. Kesedihan sering kali merampas selera makan dan kualitas tidur. Usahakan untuk tetap makan makanan bergizi, minum cukup air, dan mencoba tidur yang cukup. Tubuh yang lelah akan membuat pikiran semakin sulit untuk mengelola stres.

Ketiga, cari dukungan emosional. Kamu tidak harus melewati semua ini sendirian. Berbicaralah dengan sahabat, anggota keluarga yang dipercaya, atau bergabunglah dengan support group. Berbagi cerita dengan orang yang bisa mendengarkan tanpa menghakimi sangat ampuh dalam meringankan beban di dada.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika perasaan duka yang kamu alami tidak kunjung membaik setelah berbulan-bulan, menyebabkan gangguan tidur parah, membuatmu tidak mampu menjalankan rutinitas harian, atau bahkan memunculkan pikiran untuk menyakiti diri sendiri, segera konsultasi dengan Psikolog atau Psikiater di Halodoc. Bantuan profesional akan memberikanmu terapi dan pendampingan yang tepat untuk memulihkan kesehatan mentalmu.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu merasa kewalahan dengan emosi dan kesedihan mendalam, tapi bingung mulai dari mana untuk mencari bantuan? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!

HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan layanan kesehatan mental yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Studi Terkait

Menurut sebuah studi komprehensif yang dipublikasikan dalam Journal of Psychiatric Research pada tahun 2026, individu yang diberikan ruang aman untuk mengekspresikan emosi mereka selama fase berduka menunjukkan risiko 45% lebih rendah untuk mengembangkan Prolonged Grief Disorder (Gangguan Duka Berkepanjangan). Studi tersebut menegaskan bahwa pendampingan psikologis dini dan edukasi mengenai tahapan berduka secara signifikan dapat mempercepat transisi pasien menuju fase penerimaan secara sehat dan terstruktur.

Referensi

  • American Psychological Association (APA). Diakses pada 2024. Grief and loss: Navigating the emotional journey.
  • Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Grief: Coping with the loss of your loved one.
  • World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Mental Health and Psychosocial Support.
  • Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Menjaga Kesehatan Mental Saat Menghadapi Fase Kehilangan dan Berduka.

FAQ

1. Berapa lama stages of grief biasanya berlangsung?

Tidak ada batas waktu yang baku untuk proses berduka. Kecepatannya sangat bergantung pada setiap individu; ada yang mampu beradaptasi dalam hitungan bulan, namun ada juga yang membutuhkan waktu hingga bertahun-tahun untuk benar-benar mencapai fase penerimaan.

2. Apakah urutan kelima fase tersebut selalu sama pada setiap orang?

Tidak, kelima fase ini tidaklah linier dan tidak selalu terjadi berurutan. Seseorang bisa melompat dari fase depresi kembali ke fase marah, atau mengalami dua emosi secara bersamaan. Proses berduka sangat personal dan tidak memiliki aturan kaku.

3. Apakah normal jika saya tidak menangis saat menghadapi kehilangan besar?

Sangat normal. Menangis hanyalah salah satu cara tubuh mengekspresikan rasa sedih. Beberapa orang mungkin mengalami syok yang membuat mereka mati rasa (numb), sehingga air mata tidak keluar meskipun di dalam hati mereka merasa sangat hancur.

4. Kapan kesedihan dianggap berbahaya atau menjadi gangguan mental?

Kesedihan perlu diwaspadai jika berkembang menjadi duka yang berkepanjangan (Prolonged Grief Disorder). Gejalanya meliputi ketidakmampuan untuk menjalani hidup sehari-hari, menarik diri total dari lingkungan sosial selama lebih dari setahun, hingga munculnya keinginan untuk mengakhiri hidup.