• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ini 3 Mitos tentang Liburan Secara Psikologi

Ini 3 Mitos tentang Liburan Secara Psikologi

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Perasaan bahagia dan penuh semangat menjadi satu hal yang umumnya didapat setelah berlibur. Namun tahukah kamu, ternyata tidak semua orang akan mengalami perasaan yang sama. Nyatanya, ada orang yang mungkin mengalami pengalaman sebaliknya usai berlibur. Kondisi ini disebut dengan post holiday blues alias sindrom yang muncul setelah liburan. 

Kondisi ini ditandai dengan perasaan tidak puas dan tidak bersemangat dalam menjalani aktivitas harian, padahal baru saja bersenang-senang selama liburan. Sindrom ini bisa membuat orang yang mengalaminya merasa kacau dan hanya ingin bermalas-malasan. Malahan, ada sejumlah mitos yang membayangi atau sering dikaitkan dengan sindrom liburan, salah satunya meningkatkan keinginan bunuh diri. Benarkah?

Mitos Sindrom Post-Holiday Blues 

Secara garis besar, sindrom post holiday blues adalah kondisi yang menyebabkan seseorang merasa galau dan tidak memiliki semangat untuk menjalani aktivitas. Sayangnya, sindrom ini sering dikaitkan dengan mitos, di antaranya: 

  • Keinginan Bunuh Diri 

Ada mitos yang beredar dan disebut bisa terjadi selama masa liburan, terutama di bulan Desember, yaitu meningkatnya keinginan seseorang untuk bunuh diri. Nyatanya, terbawa suasana pada momen pergantian tahun ini diyakini bisa menjadi salah satu alasan seseorang memiliki pikiran demikian. Namun, belum ada bukti yang menunjukkan kebenaran di balik mitos tersebut. 

  • Risiko Depresi 

Apakah benar bahwa seseorang bisa mengalami Seasonal Affective Disorder (SAD)? Jawabannya iya! Nyatanya, ada kemungkinan seseorang bisa mengalami post holiday blues atau stres setelah liburan. Hal itu yang disebut bisa meningkatkan risiko terjadinya depresi. Meski begitu, bukan berarti hal ini tidak bisa dicegah sama sekali. Selain itu, tidak selalu orang yang selesai liburan pasti akan mengalami depresi atau kondisi yang sama.

  • Berpikir Positif, Mitos atau Fakta? 

Mito atau fakta bahwa berpikir positif bisa menurunkan risiko terjadinya depresi atau stres sehabis liburan? Jawabannya fakta! Nyatanya, berpikiran baik dan positif bisa membantu meningkatkan perasaan bahagia sehingga kesehatan mental pun akan lebih terjaga. 

Mengatasi Sindrom Post Holiday Blues 

Risiko sindrom post holiday blues bisa muncul pada siapa saja. Kondisi ini bisa menyebabkan seseorang merasa kacau dan enggan untuk kembali ke kenyataan. Lantas, apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi perasaan yang mengganggu tersebut? Mulai dengan membiasakan berpikiran positif. Sadari bahwa liburan memang sudah berakhir, tetapi kamu bisa mengulanginya lagi saat dibutuhkan. 

Untuk meningkatkan perasaan positif dan semangat bekerja, coba buat rencana liburan baru. Kamu bisa melibatkan teman atau kerabat dalam menyusun rencana perjalanan berikutnya. Namun ingat, hal ini sebaiknya tidak dilakukan berlebihan. Rencanakan liburan selanjutnya secukupnya saja, sehingga produktivitas dan aktivitas harian tidak terganggu. 

Untuk sejenak mengalihkan perhatian, cobalah untuk lebih banyak bergaul dan bercerita dengan orang sekitar. Selain itu, coba mulai terapkan gaya hidup sehat, tidur cukup, dan berolahraga. Dengan tidur, tubuh memiliki kesempatan untuk memperbaiki dan mendapatkan kembali energi untuk rutinitas sehari-hari. Tak hanya itu, olahraga nyatanya bisa meningkatkan kesejahteraan fisik dan emosional.

Punya masalah kesehatan dan butuh saran dokter segera? Pakai aplikasi Halodoc saja. Kamu bisa dengan mudah menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat, kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah. Kamu juga bisa menyampaikan keluhan atau masalah kesehatan yang dialami pada ahlinya. Dapatkan informasi seputar kesehatan dan tips hidup sehat dari dokter terpercaya. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play! 

Referensi:
Psychology Today. Diakses pada 2020. 3 Holiday Depression Myths.
Web MD. Diakses pada 2020. Holiday Depression and Stress.