• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Sering Diabaikan, Ini Pentingnya Protokol VDJ dalam Penularan Corona

Sering Diabaikan, Ini Pentingnya Protokol VDJ dalam Penularan Corona

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - COVID-19 yang disebabkan virus corona, hingga kini telah membuat banyak perubahan pada pola hidup secara drastis di berbagai dunia, termasuk negara kita. Hal yang paling kentara, membatasi interaksi dengan orang lain dan sebisa mungkin tak berpergian ke luar rumah.

Menyoal virus corona di negara kita, pada bulan ini pemerintah mulai merencanakan new normal atau kenormalan baru di beberapa daerah. Singkat kata, new normal ini memberikan kelonggaran batasan aktivitas fisik. Misalnya, sektor perkantoran yang dibuka kembali dengan syarat disiplin protokol kesehatan.

Sayangnya, tak semua orang bisa memahami konsep protokol kesehatan yang telah dicanangkan oleh pemerintah atau pula Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Padahal, konsep protokol kesehatan tersebut punya peran vital dalam menekan penyebaran virus corona.

Pertanyaanya, selain physical distancing, rajin mencuci tangan, penggunaan masker, hingga isolasi diri ketika sakit, protokol kesehatan apa saja yang kamu ketahui? Pernah mendengar protokol VDJ, alias Ventilasi-Durasi-Jarak? 

Baca juga: Hadapi Virus Corona, Ini Hal yang Harus dan Jangan Dilakukan

Tiga Aspek Penting

Konsep protokol VDJ yang diterapkan pada diri dan lingkungan ini masih terbilang baru. Ide VDJ dilempar oleh akun Instagram @pandemictalks, informasi edukatif terkait pagebluk COVID-19. Lantas, seperti apa sih protokol VDJ ini? 

V, yaitu ventilasi yang artinya berkaitan dengan sirkulasi udara. Ingat, risiko penularan virus corona lebih rendah jika ada aliran udara segar. Lain ceritanya dengan ruangan yang tertutup seperti ber-AC, di mana udara kembali resirkulasi. Enggak percaya? Menurut laporan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), ruangan ber-AC berkaitan dengan penyebaran virus corona di sebuah restoran di Guangzhou, China.

Suhu dingin diyakini berpengaruh terhadap penyebaran wabah ini. Menurut para pakar, kondisi kering dan dinginnya suhu dapat memudahkan virus menyerang manusia. Tak cuma itu saja, kondisi lingkungan seperti ini juga bisa membuat virus berkembang dalam waktu yang lebih lama.

Setelah ventilasi, ada pula aspek lainnya yang perlu diperhatikan, yaitu durasi atau “D”. Durasi ini juga menentukan penyebaran virus corona dalam satu lingkungan. Sebab, semakin lama durasi kita berinteraksi dengan seseorang yang telah terinfeksi atau mengembangkan gejala-gejala COVID-19, maka semakin besar potensi penularan terjadi. Oleh sebab itu, kini diwajibkan menggunakan masker, dan cobalah sebisa mungkin untuk mempersingkat waktu ketika melakukan kegiatan di luar rumah.

Terakhir “J”, alias jarak. Sebenarnya aspek yang satu ini telah dikemukakan lama oleh WHO dan pemerintah. Untuk mencegah penularan virus corona, setidaknya kita perlu menjaga jarak aman sejauh 2 meter dengan orang lain. 

Baca juga: Kasusnya Meningkat , Ini 8 Cara Perkuat Sistem Imun Tangkal Virus Corona

Ini bukanlah bualan belaka. Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal medis The Lancet, menjaga setidaknya satu meter dari orang lain bisa menjadi cara terbaik untuk membatasi kemungkinan terinfeksi. Para peneliti di sana mengatakan, risiko terinfeksi sekitar 13 persen ketika kita menjaga jarak sejauh satu meter. Tentunya risikonya akan semakin sedikit bila jarak semakin jauh.

Meredam Risiko Penularan, Masa Sih?

Sebenarnya ada satu cara paling jitu dan ampuh untuk mencegah penularan corona, yaitu melalui vaksin. Sayangnya, hingga kini vaksin virus corona masih dalam pengembangan. Pada 11 Februari 2020, WHO mengatakan, vaksin virus corona jenis COVID-19 akan siap dalam 18 bulan ke depan. WHO bersama berbagai negara melakukan berbagai upaya dengan menggunakan perangkat dan sumber daya yang tersedia untuk melawan virus mematikan ini.

Nah, hal inilah yang seharusnya membuat kita lebih peduli terhadap penyebaran virus corona. Vaksin virus corona masih jauh di depan saja, oleh karena itu lakukanlah berbagai upaya yang bisa meminimalkan penyebaran virusnya. Seperti apa? Seperti yang telah direkomendasikan pemerintah, WHO, dan pakar-pakar kesehatan. 

Mulai dari rajin mencuci tangan, mengisolasi diri ketika sakit, mengenakan masker, tetap di rumah, hingga mengonsumsi makanan bergizi seimbang demi memperkuat sistem imun.

Baca juga: WHO: Gejala Ringan Corona Bisa Dirawat di Rumah

Bagaimana dengan VDJ? Sebenarnya VDJ bukanlah barang baru, ketiga aspek ini telah dikemukakan oleh WHO dan pakar-pakar kesehatan di dunia sejak virus corona mulai mewabah. Ketiga aspek ini memang dapat membantu untuk menekan risiko penularan COVID-19.

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur chat dan video/call kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:
CDC. Diakses pada 2020. COVID-19 Outbreak Associated with Air Conditioning in Restaurant, Guangzhou, China, 2020. 
The Jakarta Post. Diakses pada 2020. Chinese study suggests air conditioner may help spread coronavirus.
The Conversation Diakses pada 2020. Here’s why the WHO says a coronavirus vaccine is 18 months away.
Kompas.com. Diakses pada 2020. Protokol VDJ untuk Mengurangi Risiko Penularan Corona, Apa Itu?