• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Gejala dan Cara Penularan Ebola yang Mewabah di Kongo

Gejala dan Cara Penularan Ebola yang Mewabah di Kongo

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Pandemi COVID-19 belum selesai, Kongo kini harus berurusan lagi dengan wabah Ebola. Padahal, sekitar 2 bulan lalu, Kongo baru saja akan mendeklarasikan secara resmi berhentinya wabah Ebola, setelah berlangsung hampir 2 tahun dan menewaskan lebih dari 2.275 jiwa. 

Kembali mewabahnya Ebola di Kongo ini diumumkan oleh Menteri Kesehatan Kongo, yang mengatakan ada 5 orang yang meninggal akibat Ebola, di sebuah distrik di kota bagian barat, Mbandaka. Belum jelas diketahui mengapa Ebola muncul di distrik kota tersebut. Namun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan akan segera mengirimkan bantuan untuk menangani Ebola di Kongo.

Baca juga: Masih Terjadi, Benarkah Penyebaran Virus Ebola Sulit Dikendalikan?

Apa Itu Ebola?

Ebola adalah penyakit mematikan yang disebabkan oleh infeksi virus. Gejala awalnya adalah demam, sakit kepala, menggigil, tubuh terasa lemah, serta nyeri otot dan sendi. Gejala tersebut dapat muncul dalam 2-21 hari setelah terpapar virus atau berkontak dengan pengidapnya. Seiring berjalannya waktu, ada beberapa gejala tambahan yang dapat terjadi, yaitu:

  • Muncul ruam kulit.
  • Mata merah.
  • Sakit tenggorokan.
  • Nyeri dada.
  • Sakit maag.
  • Mual dan muntah.
  • Diare, bisa disertai darah.
  • Berat badan turun drastis.
  • Keluar darah melalui mulut, hidung, mata, atau telinga.

Perlu diketahui bahwa penularan virus Ebola terjadi sangat cepat dan mematikan. Jika kamu atau anggota keluarga ada yang mengalami gejala-gejala tersebut, segera download aplikadi Halodoc untuk berbicara pada dokter atau kunjungi rumah sakit terdekat untuk menjalani pemeriksaan dan mendapatkan penanganan.

Baca juga: Virus Ebola Bisa Menular Lewat Air Mani Pria, Benarkah?

Bagaimana Cara Penularan Ebola?

Virus Ebola diduga pertama kali menyebar dari interaksi antara manusia dengan hewan yang terinfeksi, seperti kelelawar, monyet, atau simpanse. Sejak saat itu, penularan virus Ebola mulai terjadi antar manusia, lewat darah atau cairan tubuh pengidapnya dari luka pada kulit atau lapisan dalam hidung, mulut, dan dubur. Cairan tubuh yang dimaksud dapat berupa air liur, muntah, keringat, ASI, urine, tinja, dan air mani.

Selain secara langsung, virus Ebola juga dapat menular melalui kontak dengan benda yang terkontaminasi oleh cairan tubuh pengidapnya, seperti pakaian, seprai, perban, dan jarum suntik. Namun, Ebola tidak ditularkan melalui udara, atau melalui gigitan nyamuk. Pengidap Ebola juga tidak dapat menularkan virus ke orang lain hingga gejala penyakit muncul.

Ada beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena infeksi virus Ebola, yaitu:

  • Bepergian ke negara tempat Ebola sedang mewabah, seperti Kongo.
  • Merawat pasien Ebola tanpa menggunakan pakaian pelindung. Risiko ini biasanya dimiliki oleh petugas medis.
  • Tinggal serumah dengan pengidap Ebola.
  • Melakukan penelitian terhadap hewan primata yang didatangkan dari Afrika atau yang terinfeksi virus Ebola.
  • Mempersiapkan pemakaman untuk pengidap Ebola yang meninggal. Sebab, jasad pengidap Ebola masih berisiko menularkan virus.

Baca juga: Perkembangan Ebola dari Masa ke Masa

Pencegahan untuk Penyakit Ebola

Hingga saat ini, memang belum ditemukan kasus Ebola di Indonesia. Namun, sikap waspada dan langkah pencegahan terhadap penyakit yang mewabah di Kongo ini tetap perlu dilakukan. Salah satunya adalah dengan menjaga kebersihan dan menerapkan gaya hidup sehat setiap hari.

Hindari juga bepergian ke negara atau wilayah yang memiliki riwayat Ebola. Namun, jika memang ada kondisi yang mengharuskan kamu tetap pergi ke negara tersebut, lakukan beberapa upaya pencegahan berikut:

  • Jaga kebersihan tangan dengan cara rutin mencuci tangan menggunakan air dan sabun atau pembersih tangan berbahan dasar alkohol.
  • Hindari kontak langsung dengan orang yang sedang demam dan diduga memiliki gejala Ebola.
  • Hindari menyentuh benda yang telah terkontaminasi darah atau cairan tubuh pengidap Ebola.
  • Hindari kontak langsung dengan hewan yang berpotensi menularkan virus, termasuk darah, kotoran, dan dagingnya.
  • Hindari pergi ke rumah sakit tempat pengidap Ebola menjalani perawatan.

Segera periksakan diri ke dokter setelah kamu kembali dari wilayah tersebut, untuk mendeteksi kemungkinan infeksi virus Ebola. Dengan melakukan berbagai upaya pencegahan dan deteksi dini, kamu dapat membantu mencegah penyebaran Ebola.

Referensi:
New York Post. Diakses pada 2020. New Ebola outbreak reported in Congo.
World Health Organization. Diakses pada 2020. Ebola Virus Disease.
US Department of Health and Human Services. CDC. Diakses pada 2020. Ebola.
NHS Choices UK. Diakses pada 2020. Health A-Z. Ebola Virus Disease.
Healthline. Diakses pada 2020. Ebola Virus and Disease.
WebMD. Diakses pada 2020. Ebola Virus Infection.