Ad Placeholder Image

Penyebab Epifora Mata Berair Terus Dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   17 April 2026

Kenali Penyebab Epifora Mata Berair Dan Cara Mengatasinya

Penyebab Epifora Mata Berair Terus Dan Cara MengatasinyaPenyebab Epifora Mata Berair Terus Dan Cara Mengatasinya

Mengenal Epifora Sebagai Kondisi Mata Berair Berlebihan

Epifora adalah mata yang mengalami kondisi pengeluaran air mata secara berlebihan yang tidak berkaitan dengan respons emosional seperti menangis. Secara medis, fenomena ini terjadi ketika terdapat ketidakseimbangan antara produksi air mata dengan sistem drainase atau pembuangan air mata melalui saluran nasolakrimalis. Kondisi ini dapat terjadi secara sementara maupun kronis, bergantung pada penyebab dasar yang memicunya.

Berdasarkan data medis dari Cleveland Clinic, epifora dapat menyerang individu pada segala usia, mulai dari bayi baru lahir hingga lansia. Air mata yang diproduksi secara berlebihan ini seringkali menumpuk di area kelopak mata bawah dan kemudian mengalir ke pipi tanpa kendali. Meskipun sering dianggap sebagai gangguan ringan, epifora yang tidak ditangani dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunkan kualitas penglihatan secara temporer.

Sistem air mata manusia berfungsi untuk menjaga kelembapan mata dan membuang partikel asing. Namun, pada penderita epifora, mekanisme ini mengalami malfungsi. Hal ini bisa disebabkan oleh stimulasi berlebih pada kelenjar lakrimal atau adanya hambatan fisik yang menghalangi air mata masuk ke dalam hidung melalui saluran pembuangan alami.

Memahami bahwa epifora adalah mata yang mengalami gangguan fungsional sangat penting untuk menentukan langkah penanganan yang tepat. Diagnosis yang akurat diperlukan untuk membedakan apakah kondisi ini murni masalah pada mata atau merupakan gejala dari kondisi kesehatan sistemik yang lebih kompleks.

Gejala dan Tanda Klinis Epifora

Gejala utama dari epifora adalah mata yang senantiasa terlihat basah atau tergenang air mata. Pasien seringkali harus menyeka mata berkali-kali dalam sehari karena air mata yang terus mengalir ke area wajah. Intensitas aliran air mata ini dapat meningkat saat terpapar faktor eksternal seperti angin kencang atau cahaya yang sangat terang.

Selain produksi air mata yang melimpah, terdapat beberapa gejala penyerta yang sering dilaporkan oleh penderita epifora:

  • Penglihatan menjadi kabur atau tidak fokus akibat lapisan air mata yang terlalu tebal di permukaan kornea.
  • Terjadi iritasi atau kemerahan pada area putih mata (sklera) dan tepi kelopak mata.
  • Munculnya rasa sakit atau sensasi nyeri tekan di sekitar pangkal hidung, terutama jika terjadi penyumbatan saluran.
  • Adanya kotoran mata atau sekret yang lengket, terutama jika kondisi ini disebabkan oleh infeksi bakteri.
  • Pembengkakan pada kelopak mata yang membuat penderita merasa tidak nyaman saat berkedip.

Gejala-gejala ini dapat muncul pada salah satu mata saja (unilateral) atau pada kedua mata secara bersamaan (bilateral). Jika epifora disertai dengan rasa nyeri yang hebat atau penurunan ketajaman penglihatan yang mendadak, konsultasi medis segera sangat disarankan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut pada jaringan okular.

Penyebab Umum Terjadinya Epifora

Penyebab epifora secara garis besar dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu kelebihan produksi air mata dan kegagalan sistem pembuangan air mata. Kelebihan produksi biasanya merupakan respons protektif mata terhadap iritasi. Sementara itu, kegagalan pembuangan berkaitan dengan anatomi saluran air mata yang tersumbat atau menyempit.

Beberapa faktor spesifik yang menjadi pemicu epifora meliputi:

  • Penyumbatan saluran air mata (Dacrostenoisi) yang bisa terjadi sejak lahir atau akibat proses penuaan.
  • Ektropion atau kondisi kelopak mata yang melipat ke arah luar, sehingga air mata tidak dapat masuk ke punctum (lubang drainase).
  • Entropion atau kelopak mata yang melipat ke dalam, menyebabkan bulu mata menggesek permukaan mata dan memicu produksi air mata berlebih.
  • Infeksi pada mata seperti konjungtivitis atau peradangan pada kantong air mata (dakriosistitis).
  • Alergi terhadap debu, serbuk sari, atau bulu hewan yang merangsang reaksi inflamasi.
  • Paparan zat kimia, asap, atau polusi udara yang bersifat iritan bagi selaput lendir mata.

Selain faktor di atas, sindrom mata kering justru seringkali menyebabkan epifora. Ketika permukaan mata terlalu kering, saraf sensorik mengirimkan sinyal ke otak untuk memproduksi air mata darurat dalam jumlah besar. Namun, air mata darurat ini biasanya tidak memiliki kualitas pelumasan yang baik, sehingga mata tetap terasa tidak nyaman meskipun basah.

Contoh Kasus Epifora Berdasarkan Kelompok Usia

Karakteristik epifora dapat bervariasi tergantung pada usia individu yang mengalaminya. Pada bayi baru lahir, epifora seringkali disebabkan oleh kondisi kongenital di mana saluran air mata belum terbuka secara sempurna. Kondisi ini biasanya akan membaik dengan sendirinya seiring perkembangan anatomi bayi sebelum mencapai usia satu tahun.

Pada kelompok dewasa dan lansia, penyebab yang paling dominan adalah degenerasi jaringan. Kelopak mata yang mulai mengendur akibat faktor usia dapat menyebabkan gangguan pada mekanisme pompa air mata saat berkedip. Selain itu, jaringan parut akibat infeksi masa lalu atau penggunaan obat-obatan jangka panjang juga dapat mempersempit saluran drainase.

Reaksi lingkungan menjadi penyebab umum pada individu yang aktif di luar ruangan. Paparan angin dingin secara terus-menerus atau paparan asap kendaraan dapat memicu produksi air mata drastis sebagai upaya pembersihan mata secara alami. Dalam kasus ini, epifora bersifat episodik dan akan mereda setelah faktor pemicu lingkungan dihilangkan.

Langkah Penanganan dan Pengobatan

Penanganan untuk epifora sangat bergantung pada diagnosis penyebabnya. Jika disebabkan oleh infeksi bakteri, dokter biasanya akan meresepkan tetes mata antibiotik. Jika penyebabnya adalah alergi, penggunaan antihistamin dapat membantu mengurangi reaksi inflamasi dan menghentikan produksi air mata yang berlebihan.

Penyumbatan saluran air mata yang bersifat mekanis mungkin memerlukan tindakan medis lebih lanjut seperti prosedur probing untuk membuka sumbatan. Pada kasus ektropion atau entropion yang parah, tindakan bedah kecil seringkali menjadi solusi permanen untuk memperbaiki posisi kelopak mata. Hal ini bertujuan agar air mata dapat mengalir secara normal ke dalam sistem drainase nasolakrimalis.

Pencegahan dan Perawatan Mandiri

Meskipun tidak semua kasus epifora dapat dicegah, langkah-langkah perlindungan dapat meminimalisir risiko terjadinya iritasi mata. Menggunakan kacamata pelindung saat berada di lingkungan berangin atau berdebu sangat disarankan. Selain itu, menjaga kebersihan tangan sebelum menyentuh area mata dapat mencegah perpindahan bakteri atau virus yang memicu infeksi.

Bagi penderita mata kering yang mengalami epifora sekunder, penggunaan air mata buatan (artificial tears) secara rutin dapat membantu menjaga stabilitas lapisan air mata. Hindari penggunaan riasan mata yang sudah kadaluwarsa atau mengandung bahan kimia keras. Melakukan kompres hangat pada area pangkal hidung juga dapat membantu memperlancar aliran air mata jika terdapat sumbatan ringan.

Konsultasi Medis Melalui Halodoc

Epifora adalah kondisi yang membutuhkan perhatian medis jika terus berlanjut atau mengganggu fungsi penglihatan. Mengabaikan gejala mata berair dapat meningkatkan risiko infeksi kronis pada kantong air mata. Oleh karena itu, penting untuk mendapatkan pemeriksaan menyeluruh dari tenaga kesehatan profesional.

Masyarakat dapat memanfaatkan layanan konsultasi di Halodoc untuk berbicara langsung dengan dokter spesialis mata. Melalui platform ini, pemeriksaan awal dapat dilakukan secara daring untuk menentukan tingkat keparahan kondisi. Jika diperlukan, dokter di Halodoc akan memberikan rekomendasi pengobatan yang tepat atau merujuk penderita untuk pemeriksaan fisik lebih lanjut di fasilitas kesehatan terdekat.