• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ini Penyebab Orang dengan Disabilitas Lebih Rentan Alami Corona

Ini Penyebab Orang dengan Disabilitas Lebih Rentan Alami Corona

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim

Halodoc, Jakarta – Selama situasi sulit akibat pandemi virus corona yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2, tidak hanya orang berusia lanjut saja yang memiliki risiko tinggi. Secara umum, kondisi yang tengah terjadi sekarang ini membuat kekhawatiran yang lebih besar kepada orang-orang dengan disabilitas (kemudian disebut sebagai difabel). 

Orang-orang difabel dianggap juga cukup rentan terkena COVID-19 karena beberapa alasan. Salah satunya karena kebanyakan di antara mereka memiliki kondisi kesehatan yang mendasarinya. Akibatnya, risiko fatalitas menjadi lebih tinggi jika mereka tertular COVID-19. Selain itu, banyak pemerintah suatu negara yang belum memprioritaskan kebutuhan dan fasilitas kesehatan untuk orang-orang difabel. Faktor ini yang menyebabkan mereka jadi kelompok yang paling rentan selama pandemi. 

Baca juga: Alasan Pria Dinilai Lebih Rentan Mengidap Corona

Orang-Orang dengan Disabilitas Sudah Sejak Awal Dirugikan

Melansir The Conversation, satu dari lima orang di Australia memiliki disabilitas. Dari jumlah tersebut, lebih dari tiga perempat melaporkan kecacatan fisik. Mereka berisiko mengalami kondisi fatal karena penyakit bawaan yang mereka alami, seperti diabetes, asma, dan penyakit obstruktif paru kronis. Selain itu, orang-orang difabel juga cenderung menjadi lebih miskin, tidak bekerja, dan lebih terisolasi secara sosial. Hal ini menyebabkan tingkat kesehatan mereka menjadi semakin buruk selama pandemi berlangsung.

Melansir The Guardian, orang-orang difabel bahkan tidak diprioritaskan untuk mendapat bantuan makanan dan bahan pokok karena dilewatkan dari daftar orang rentan terhadap virus corona oleh pemerintah Inggris. 

Daftar online dibuat oleh pemerintah Inggris untuk menjangkau rumah tangga "sangat rentan" untuk menjamin perlindungan dengan cara menawarkan paket makanan melalui otoritas lokal atau menghubungkan mereka dengan supermarket besar untuk diprioritaskan dalam pengiriman online. Namun, sejumlah besar orang-orang difabel dan orang lanjut usia dikeluarkan dari skema ini karena kriteria yang sangat selektif.

Seratus orang dengan kecacatan parah dan penyakit kronis mengatakan mereka telah ditolak untuk mendaftar oleh pemerintah Inggris. Dengan demikian, mereka dibiarkan tanpa dukungan dalam upaya mengakses makanan dan kebutuhan pokok lainnya. Akibatnya, mereka harus keluar rumah sendiri untuk mendapatkan makanan dan bahan pokok. Kondisi ini akhirnya membuat salah satu di antara mereka telah terjangkit COVID-19.

Informasi kesehatan juga jarang disajikan dalam format yang dapat diakses untuk anak-anak dan orang dewasa dengan cacat intelektual, seperti Easy English (gaya penulisan yang sederhana dan ringkas) dan/atau format gambar. Apalagi dengan diwajibkannya penggunaan masker saat keluar rumah, orang-orang tuna rungu yang mengandalkan bahasa bibir menjadi semakin sulit untuk berkomunikasi. 

Baca juga: Ini 4 Risiko yang Terjadi pada Ibu Hamil yang Positif Corona

Bagaimana dengan Nasib Orang-Orang dengan Disabilitas di Indonesia?

Nurul Saadah Andriani, selaku Direktur Sentra Advokasi Perempuan Difabel dan Anak (Sapda) menilai pemerintah hingga saat ini belum mengeluarkan pernyataan atau kebijakan rencana yang terukur untuk memastikan akses layanan dan jaminan kesehatan bagi difabel dalam situasi sulit ini.

Ia juga menilai bahwa informasi tentang pencegahan agar tidak tertular, bentuk penularan, pemeriksaan gejala, pengobatan serta layanan pengaman sosial selama proses penyembuhan seharusnya juga dibuat dengan mempertimbangkan akses bagi difabel. Pemberian layanan yang bisa diakses kelompok difabel juga dinilai masih jauh.

Sistem jaminan sosial atau perlindungan sosial bagi kelompok difabel juga menjangkau mereka. Nurul mencontohkan para difabel tuna netra yang sebagian besar berprofesi sebagai pemijat. Mereka kini tidak dapat memilih dan memilah pelanggan yang sudah terpapar atau belum dengan COVID-19. Selain itu, mereka juga tidak dapat berhenti bekerja karena tidak memiliki sumber penghasilan lain.

Baca juga: Tak Pandang Usia, Kaum Muda Juga Bisa Terinfeksi Virus Corona

Apa yang Bisa Dilakukan untuk Melindungi Kaum Disabilitas dari COVID-19? 

Terdapat tindakan yang dibutuhkan untuk melindungi orang-orang difabel ketika pandemi berlangsung, yakni:

  • Membentuk komite ahli dengan anggota yang memiliki keahlian di bidang disabilitas dan kesehatan untuk memberi nasihat kepada pemerintah.

  • Mengembangkan rencana perawatan kesehatan COVID-19 untuk kaum difabel, sehingga mereka tahu cara menerapkan langkah-langkah menjaga jarak dan kebersihan sosial, dan bagaimana mengakses tes dan perawatan.

  • Membuat hotline informasi terkait COVID-19 khusus untuk para difabel yang dikelola oleh orang-orang dengan pemahaman mendalam tentang masalah-masalah disabilitas dan masalah-masalah kesehatan yang mendasarinya.

  • Menyediakan peralatan perlindungan pribadi (masker, sarung tangan) untuk melindungi tenaga kerja pendukung kaum difabel, seperti pada perawat pribadi atau pekerja di panti disabilitas.

  • Memberikan jaminan pendapatan untuk pekerja perawatan, serta memobilisasi tenaga kerja disabilitas yang lebih luas, misalnya dengan menarik mahasiswa kesehatan.

Meski tindakan-tindakan ini tidak akan mengatasi semua ketidakadilan yang dihadapi oleh para difabel, tetapi itu bisa menjadi awal yang baik untuk dilakukan.

Sementara itu, jika kamu tinggal dengan anggota keluarga yang mengalami disabilitas, dan ia mengalami gejala yang mencurigakan, sebaiknya hubungi dokter di aplikasi Halodoc. Diskusikan kesehatan yang dialami terlebih dahulu dengan dokter melalui fitur chat. Cara ini efektif untuk mencegah penularan yang mungkin bisa terjadi di rumah sakit. Tunggu apa lagi? Segera download aplikasi Halodoc sekarang!

Referensi:
The Guardian. Diakses pada 2020. Disabled People Left Off Coronavirus Vulnerable List Go Without Food.
The Conversation. Diakses pada 2020. People With A Disability Are More Likely To Die From Coronavirus – But We Can Reduce This Risk.
VOA Indonesia. Diakses pada 2020. Difabel Kelompok Yang Paling Rentan Terdampak Virus Corona.