• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ini Perkembangan Pandemi Corona dari Berbagai Negara

Ini Perkembangan Pandemi Corona dari Berbagai Negara

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim

Halodoc, Jakarta – Hingga hari ini (8/4), pandemik COVID-19 tampaknya belum akan mendekati episode akhir. Berdasarkan data dari Johns Hopkins University, total kasus virus corona secara total di seluruh dunia sudah melebihi angka 1,4 juta kasus. Sementara lebih dari 82.000 orang telah kehilangan nyawa akibat virus yang berasal dari Wuhan, Tiongkok ini.

Di Indonesia, per Selasa (7/4) kasus COVID-19 sudah menembus 2.738 kasus, dengan 204 sembuh dan 221 di antaranya telah meninggal. Tidak hanya di Indonesia, pandemi ini telah menjadi mimpi paling buruk bagi banyak negara. Tiap negara telah berjuang menekan angka penyebaran virus ini dan menerapkan berbagai kebijakan pendukungnya. Mari simak perkembangan pandemi COVID-19 dari berbagai negara berikut ini.

Baca juga: Bukan Cuma Batuk, Virus Corona juga Bisa Menular Saat Bicara

Jakarta Akan Menerapkan PSBB Mulai Jumat

Rencana penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akhirnya resmi akan diterapkan di DKI Jakarta. Anies Baswedan selaku Gubernur DKI Jakarta telah mengumumkan pelaksanaannya mulai berjalan sejak Jumat, (10/4) mendatang. Menurut Anies, secara prinsip PSBB ini sudah berjalan selama tiga minggu.

Imbauan untuk bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah sudah sejak lama diterapkan, begitu juga dengan pembatasan transportasi. Anies juga mengatakan ada beberapa prinsip yang ditegakkan. Kelak semua fasilitas umum akan tutup, baik fasilitas hiburan milik pemerintah maupun milik swasta. Ini termasuk balai pertemuan, RPTRA, balai olahraga, hingga museum.

Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson Pindah ke Perawatan Intensif

Perdana Menteri Inggris Raya, Boris Johnson kini telah dipindahkan ke perawatan intensif setelah gejala COVID-19 yang ia alami semakin memburuk. Kabar ini sudah dikonfirmasi di Downing Street pada Senin malam. Boris Johnson dirawat di rumah sakit St Thomas di Westminster pada hari Minggu setelah gejala COVID-19 bertahan selama 10 hari.

Namun, setelah dirawat di rumah sakit untuk tes dan observasi, dokter menyarankan agar Boris dirawat di perawatan intensif. Oleh karena itu, untuk sementara waktu Dominic Raab, selaku Sekretaris Luar Negeri akan bertindak sebagai pelaksana tugas. 

Baca juga: Ini Alasan Tingkat Kematian Akibat Corona Berbeda Tiap Wilayah

Angka Kematian di AS Tembus 12.000 Orang

Jumlah orang yang meninggal di Amerika Serikat setelah tertular COVID-19 kini telah melampaui 12.000. Ini berarti AS memiliki jumlah kematian tertinggi ketiga di dunia setelah Italia dan Spanyol. Para ahli medis Gedung Putih memperkirakan bahwa antara 100.000 dan 240.000 orang Amerika dapat kehilangan nyawa selama pandemi, bahkan jika perintah untuk tinggal di rumah sudah diikuti.

Penduduk AS pun bersiap-siap untuk menghadapi apa yang diperingatkan oleh dokter di negara itu sebagai "pekan yang paling sulit dan paling menyedihkan" dalam hidup mereka. Pandemi ini kelak dikenang seperti peristiwa menyedihkan lainnya di negara tersebut, seperti momen pemboman Pearl Harbor dan tragedi 9/11. Namun, di tengah berita yang mengerikan itu, ada juga secercah harapan, angka kematian di New York tampaknya mulai melambat. 

Harimau di Kebun Binatang New York Positif Virus Corona

Seekor harimau di Kebun Binatang Bronx dinyatakan positif mengidap COVID-19. Ia diyakini sebagai infeksi pertama pada hewan yang diketahui di AS. Harimau Melayu berusia empat tahun ini bernama Nadia, dan enam harimau dan singa lain yang juga jatuh sakit. Mereka diyakini telah terinfeksi oleh seorang karyawan kebun binatang yang menjadi silent carrier

Nadia mulai menunjukkan gejala pada 27 Maret, namun ia akan baik-baik saja dan segera pulih. Temuan ini menimbulkan pertanyaan baru tentang penularan virus pada hewan yang hingga kini kasusnya terbilang langka. 

Baca juga: Fakta Seputar Hewan Peliharaan dan Virus Corona

Mulai Mencabut Kebijakan Lockdown, Tiongkok Tetap Waspada Gelombang Kedua

Tiongkok sebagai negara pertama virus corona dilaporkan mulai mencabut kebijakan lockdown yang telah berlangsung selama 14 minggu pada hari ini. Namun, ada kekhawatiran infeksi tersebut belum dapat dikalahkan meskipun terjadi pengurangan kasus yang besar di negara ini.

Tiongkok Daratan melaporkan 39 kasus COVID-19 terbaru pada hari Minggu, naik dari 30 hari sebelumnya, dan jumlah kasus tanpa gejala juga melonjak ketika pemerintah berjanji akan melakukan kontrol yang lebih ketat di perbatasan darat. Kasus impor dan silent carrier pun kini menjadi perhatian utama di Tiongkok. 

Mari ringankan kerja pemerintah dalam menangani pandemi ini dengan cara menerapkan physical distancing, menjaga kebersihan diri, dan segera memeriksakan diri jika ada gejala yang mencurigakan.

Namun, jika kamu khawatir untuk datang ke rumah sakit atau klinik, kamu bisa chat dengan dokter di Halodoc perihal kondisi kesehatan yang kamu alami. Dengan begini, kamu tidak perlu keluar rumah untuk mendapatkan layanan kesehatan. Praktis, bukan? Yuk, download Halodoc sekarang di smartphone kamu!

Referensi:
BBC News. Diakses pada 2020. Coronavirus: Boris Johnson Moved To Intensive Care As Symptoms Worsen
CNBC Indonesia. Diakses pada 2020. Ini Penjelasan Lengkap Anies Soal PSBB DKI yang berlaku Jumat.
Huffington Post. Diakses pada 2020. Things You Need To Know About Coronavirus Today.