• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Pernah Melakukan CPR Berisiko Sindrom Mallory Weiss

Pernah Melakukan CPR Berisiko Sindrom Mallory Weiss

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia

Halodoc, Jakarta - Sindrom Mallory-Weiss (MWS) terjadi ketika ada robekan pada permukaan lapisan dalam kerongkongan bawah yang terletak dekat dengan lambung, yaitu gastroesophageal junction. Robekan ini berbentuk horizontal dan dapat memanjang sampai ke bagian kerongkongan tengah. Tergantung pada keparahan robekannya, pendarahan yang terjadi bisa ringan sampai berat.

Pada kasus yang ringan, penyembuhan dapat terjadi dalam 7-10 hari. Jika perdarahan berlangsung secara terus-menerus, biasanya disertai faktor pemberat lain seperti mengonsumsi pengencer darah, dapat menyebabkan kematian. 

Akibat robekan ini, maka seseorang bisa mengalami beberapa gejala, seperti muntah dan BAB berdarah. Muntah dapat disebabkan oleh beberapa kondisi, seperti GERD, konsumsi alkohol yang berlebih, atau bulimia. Pada kasus yang langka, menerima resusitasi jantung atau paru (tindakan CPR) juga bisa menyebabkan sindrom Mallory-Weiss.

Baca juga: Kondisi Darurat, Seberapa Perlu CPR Dilakukan pada Pengidap Fibrilasi Ventrikel?

Tindakan CPR Penyebab Sindrom Mallory Weiss

Melansir Science Direct, robekan mukosa lambung, atau robekan Mallory-Weiss, adalah komplikasi yang jarang terjadi setelah resusitasi kardiopulmoner (CPR). Distensi lambung karena ventilasi mulut ke mulut atau ventilasi bag-mask selama CPR dapat meningkatkan pada tekanan lambung.

Selain itu, kompresi dada yang dilakukan pada pasien darurat yang alami henti jantung juga bisa meningkatkan tekanan intragastrik dan menginduksi robekan mukosa lambung atau sindrom Mallory-Weiss. Komplikasi ini jarang terjadi, tetapi ketika itu terjadi, kondisi ini cukup mengancam jiwa.  

Masih dalam sumber yang sama, terdapat sebuah laporan yang menyebutkan bahwa pernah tercatat pasien wanita berusia 62 tahun yang mengalami sindrom Mallory-Weiss yang parah setelah berhasil selamat berkat dilakukan tindakan resusitasi kardiopulmoner (CPR).

Tindakan ini dilakukan oleh penyedia layanan kesehatan di departemen gawat darurat. Pendarahan berlanjut selama lima hari, dan wanita tersebut dilaporkan kehilangan darah sekitar 3.000 mL. Setelah 7 hari, pasien meninggal karena sindrom gangguan pernapasan. Sindrom Mallory-Weiss yang parah setelah CPR kemudian dianggap sebagai komplikasi yang berpotensi serius. 

Baca juga: Komplikasi yang Disebabkan oleh Sindrom Mallory Weiss

Penyebab Lain dari Sindrom Mallory Weiss

Sementara itu, ada beberapa penyebab umum sindrom Mallory–Weiss yang perlu diketahui. Muntah berat atau berkepanjangan ini paling umum terjadi pada kasus penyalahgunaan alkohol kronis atau bulimia. Kondisi lain yang dapat memperparah robekan pada esofagus, di antaranya:

  • GERD atau penyakit asam lambung;
  • Bulimia nervosa;
  • Batuk terus-menerus,
  • Hipertensi portal;
  • Trauma tumpul abdomen;
  • Kejang;
  • Pada wanita ketika proses melahirkan atau hiperemesis gravidarum (mual dan muntah berat selama kehamilan).

Sindrom Mallory–Weiss lebih sering terjadi pada pecandu alkohol. Selain itu, orang yang berusia antara 40-60 tahun lebih mungkin terkena sindrom ini. Namun, beberapa kasus yang cukup jarang tercacat dialami anak–anak dan orang dewasa muda. 

Baca juga: Apa Saja Pilihan Pengobatan Sindrom Mallory Weiss?

Nah, itulah beberapa informasi mengenai sindrom Mallory-Weiss yang perlu diketahui. Apabila kamu mengalami gejala seperti kebingungan dan penurunan kewaspadaan, muntah, berkeringat dan kulit memucat, detak jantung dan napas menjadi lebih cepat, segera periksakan diri ke dokter. Supaya lebih mudah dan tidak perlu mengantre, kamu bisa langsung membuat janji dengan dokter di rumah sakit terdekat melalui aplikasi Halodoc

Referensi:
Drugs. Diakses pada 2020. Mallory–Weiss Syndrome.
Healthline. Diakses pada 2020. Mallory–Weiss Syndrome.
Science Direct. Diakses pada 2020. Acute Mallory–Weiss Syndrome After Cardiopulmonary Resuscitation.