Ad Placeholder Image

Playing Victim: Arti Bahasa Gaul dan Contohnya!

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   09 Juni 2026

Playing Victim: Arti dalam Bahasa Gaul, Biar Gak Ketinggalan!

Playing Victim: Arti Bahasa Gaul dan Contohnya!Playing Victim: Arti Bahasa Gaul dan Contohnya!

DAFTAR ISI


Pernahkah kamu merasa selalu menjadi pihak yang bersalah dalam setiap pertengkaran dengan pasangan, meskipun sebenarnya kamu adalah pihak yang dirugikan? Kondisi ini sering kali berkaitan dengan fenomena psikologis yang dikenal sebagai playing victim atau mentalitas korban. Dalam sebuah hubungan asmara, perilaku ini merupakan salah satu bentuk manipulasi emosional yang bisa sangat merusak kesehatan mental kedua belah pihak.

Playing victim bukan sekadar perilaku sesekali untuk menghindari masalah kecil. Bagi banyak orang, ini adalah pola kepribadian yang mendarah daging di mana mereka secara konsisten memosisikan diri sebagai “korban” dari keadaan atau perilaku orang lain untuk menghindari tanggung jawab. Jika dibiarkan, pola ini akan menciptakan dinamika hubungan yang tidak sehat dan beracun (toxic relationship).

Memahami fenomena ini sangat penting agar kamu tidak terjebak dalam rasa bersalah yang tidak perlu dan dapat menjaga kesehatan mentalmu. Selain itu, mengetahui cara merespons perilaku ini dengan bijak dapat membantu kamu menentukan apakah hubungan tersebut masih layak dipertahankan atau tidak. Penting untuk diingat bahwa jika kamu merasa sangat tertekan, sebaiknya segera konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja untuk mendapatkan arahan profesional.

Nah, mau tahu apa saja ulasan mendalam mengenai playing victim dalam hubungan? Berikut ulasannya!

Apa Itu Playing Victim dalam Hubungan?

Playing victim adalah perilaku di mana seseorang memosisikan dirinya sebagai korban dalam situasi apa pun, terlepas dari fakta yang sebenarnya terjadi. Dalam psikologi, hal ini sering disebut sebagai Victim Mentality. Pelaku biasanya akan melemparkan kesalahan kepada orang lain, lingkungan, atau nasib untuk membenarkan tindakan mereka atau untuk mendapatkan simpati.

Dalam konteks hubungan romantis, pelaku playing victim akan menggunakan rasa bersalah pasangan sebagai senjata. Ketika mereka melakukan kesalahan—misalnya berselingkuh atau berbohong—mereka akan memutarbalikkan narasi sehingga seolah-olah perilaku buruk tersebut dipicu oleh kekurangan pasangannya. Tujuannya adalah untuk mengalihkan perhatian dari perilaku mereka sendiri dan membuat pasangan merasa harus “menebus” kesalahan yang sebenarnya tidak mereka lakukan.

Ciri-Ciri Pasangan yang Suka Playing Victim

Mengenali ciri-ciri pelaku playing victim bisa menjadi tantangan karena mereka sering kali terlihat sangat meyakinkan dan rapuh. Berikut adalah beberapa tanda yang perlu kamu waspadai:

1. Selalu Menyalahkan Orang Lain

Pelaku jarang atau tidak pernah mengakui kesalahan mereka. Jika ada sesuatu yang salah, itu selalu merupakan kesalahan orang lain. Mereka memiliki sejuta alasan mengapa kegagalan atau kesalahan mereka adalah tanggung jawab orang di sekitar mereka, termasuk kamu sebagai pasangan.

2. Memutarbalikkan Fakta (Gaslighting)

Mereka ahli dalam mengubah narasi sebuah kejadian. Ketika kamu mengonfrontasi mereka tentang perilaku yang menyakitkan, mereka akan membawa-bawa kejadian masa lalu di mana kamu pernah berbuat salah, sehingga diskusi beralih dari kesalahan mereka menjadi kesalahanmu.

3. Menggunakan Simpati untuk Manipulasi

Setiap kali mereka merasa terpojok, mereka akan menunjukkan kesedihan yang berlebihan atau menceritakan trauma masa lalu mereka. Hal ini dilakukan agar kamu merasa kasihan dan akhirnya berhenti menuntut pertanggungjawaban dari mereka.

4. Merasa Tidak Berdaya

Mereka sering menunjukkan sikap “aku tidak bisa apa-apa” atau “nasibku memang selalu buruk”. Dengan merasa tidak berdaya, mereka memiliki alasan untuk tidak berusaha memperbaiki diri atau mengubah keadaan dalam hubungan.

Tanda Red Flag yang Harus Diwaspadai
  1. Mereka membuat kamu merasa bersalah saat kamu mengekspresikan kebutuhanmu sendiri.
  2. Mereka sering mengatakan kalimat seperti, “Setelah semua yang aku lakukan untukmu, beginikah caramu memperlakukanku?”
  3. Mereka menolak untuk berkomunikasi secara asertif dan lebih memilih diam (silent treatment) sambil menunjukkan ekspresi tersakiti.

Mengapa Seseorang Melakukan Playing Victim?

Sebagai apoteker dan praktisi kesehatan, saya melihat bahwa perilaku ini sering kali berakar pada masalah psikologis yang kompleks. Berikut beberapa alasan medis dan psikologis di baliknya:

  • Trauma Masa Kecil: Seseorang yang tumbuh dalam lingkungan di mana mereka benar-benar menjadi korban tanpa perlindungan mungkin mengembangkan mentalitas ini sebagai mekanisme pertahanan (defense mechanism) untuk bertahan hidup.
  • Gangguan Kepribadian: Perilaku playing victim yang ekstrem bisa menjadi gejala dari gangguan kepribadian tertentu, seperti Borderline Personality Disorder (BPD) atau Narcissistic Personality Disorder (NPD).
  • Rendahnya Self-Esteem: Mereka merasa tidak memiliki kontrol atas hidup mereka, sehingga menjadi “korban” adalah satu-satunya cara bagi mereka untuk mendapatkan perhatian dan validasi dari orang lain.
  • Menghindari Konsekuensi: Secara sederhana, menjadi korban adalah cara termudah untuk menghindari tanggung jawab emosional yang berat dan konsekuensi dari tindakan buruk.

Dampak Playing Victim bagi Kesehatan Mental Pasangan

Berada dalam hubungan dengan seseorang yang terus-menerus playing victim dapat menyebabkan kelelahan emosional yang luar biasa bagi pasangannya. Dampaknya meliputi:

Pertama, kamu mungkin mulai meragukan realitasmu sendiri (akibat gaslighting). Kamu akan sering merasa bingung, cemas, dan selalu merasa “berjalan di atas kulit telur” agar tidak menyinggung perasaan pasangan. Kedua, stres kronis dalam hubungan ini dapat memicu masalah fisik. Stres yang berkepanjangan meningkatkan hormon kortisol dalam tubuh yang dapat menurunkan sistem imun. Jika kamu merasa tubuh sering lemas atau mudah sakit akibat stres hubungan, kamu bisa beli obat online di Halodoc seperti vitamin C atau multivitamin untuk menjaga daya tahan tubuh, namun solusi utamanya tetaplah menangani sumber stres tersebut.

Cara Menghadapi Pasangan dengan Mentalitas Korban

Menghadapi perilaku ini memerlukan kesabaran dan batasan yang tegas. Berikut langkah-langkah yang bisa kamu ambil:

1. Tetapkan Batasan yang Jelas (Setting Boundaries)

Jangan biarkan diri kamu terseret ke dalam drama mereka. Jika mereka mulai menyalahkan kamu atas sesuatu yang bukan tanggung jawabmu, sampaikan dengan tenang namun tegas: “Aku mengerti kamu merasa sedih, tapi aku tidak bertanggung jawab atas keputusan yang kamu ambil.”

2. Jangan Memberi Validasi Berlebihan pada “Status Korban” Mereka

Kamu bisa berempati tanpa harus membenarkan posisi mereka sebagai korban. Alih-alih mengatakan “Oh, kasihan sekali kamu,” cobalah bertanya “Apa yang bisa kamu lakukan untuk memperbaiki situasi ini?”. Ini mendorong mereka untuk mengambil tanggung jawab.

3. Fokus pada Fakta, Bukan Emosi

Saat berdiskusi, tetaplah pada fakta-fakta yang terjadi. Jangan biarkan mereka membelokkan pembicaraan ke arah emosional yang tidak relevan atau kesalahan masa lalu. Jika pembicaraan mulai tidak produktif, lebih baik beri jeda dan lanjutkan nanti.

Kapan Harus Menghubungi Tenaga Profesional?

Perilaku playing victim yang terus-menerus bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan mental yang lebih dalam. Kamu harus mempertimbangkan bantuan profesional jika:

  • Kamu merasa depresi, cemas, atau kehilangan kepercayaan diri secara drastis.
  • Pasangan menunjukkan tanda-tanda gangguan kepribadian yang mengganggu fungsi harian.
  • Terdapat kekerasan verbal, emosional, atau fisik dalam hubungan.
  • Kamu merasa tidak sanggup lagi menangani dinamika hubungan sendirian.

Konsultasi dengan psikolog atau psikiater dapat memberikan perspektif objektif dan strategi koping yang lebih efektif untuk menyelamatkan kesehatan mentalmu atau bahkan hubunganmu.

Studi Mengenai Playing Victim

Scientific Reports menerbitkan studi di tahun 2020 yang menjelaskan bahwa Interpersonal Victimhood adalah kepribadian yang stabil di mana individu merasa dirinya secara konsisten menjadi korban dalam berbagai jenis hubungan sosial.

Studi ini menemukan bahwa individu dengan skor tinggi pada dimensi “victimhood” memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk memendam dendam, merasa superior secara moral, dan kurang memiliki empati terhadap orang lain. Hal ini memperkuat teori bahwa playing victim adalah pola perilaku yang memerlukan intervensi psikologis yang serius untuk bisa diubah.

Menghadapi perilaku playing victim dalam hubungan memang tidak mudah dan memerlukan ketegasan emosional. Jangan biarkan dirimu terjebak dalam rasa bersalah yang berkepanjangan karena setiap individu bertanggung jawab atas tindakannya masing-masing.

Jika stres akibat masalah ini mulai mengganggu kesehatan fisikmu, kamu bisa mendapatkan produk kesehatan pendukung di Toko Kesehatan Halodoc. Selain itu, sangat disarankan untuk berbicara dengan ahli untuk mendapatkan solusi yang tepat.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu punya keluhan kesehatan atau merasa terbebani secara emosional, tapi bingung mulai dari mana? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!

HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
Gabay, R., et al. (2020). Scientific Reports. The Interpersonal Victimhood Personality Dimension.
Psychology Today. Diakses pada 2026. How to Spot a Victim Mentality.
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Mental health: Overcoming a victim mentality.
Healthline. Diakses pada 2026. How to Deal with a Victim Mentality.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2026. Understanding the Narcissistic Victimhood.

FAQ

1. Apakah playing victim termasuk gangguan jiwa?

Playing victim sendiri bukanlah diagnosis gangguan jiwa tunggal, namun sering kali menjadi gejala atau fitur dari gangguan kepribadian seperti Narcissistic atau Borderline Personality Disorder.

2. Bisakah orang yang suka playing victim berubah?

Bisa, namun mereka harus memiliki kesadaran diri dan kemauan kuat untuk menjalani terapi psikologis jangka panjang guna mengubah pola pikir dan mekanisme pertahanan diri mereka.

3. Bagaimana cara membedakan korban sungguhan dengan playing victim?

Korban sungguhan biasanya mencari solusi dan berusaha pulih, sedangkan pelaku playing victim cenderung menikmati status “korban” untuk mendapatkan keuntungan atau menghindari tanggung jawab tanpa ada niat memperbaiki diri.

4. Apakah playing victim termasuk dalam kekerasan emosional?

Ya, jika dilakukan secara konsisten untuk memanipulasi, mengontrol, atau merendahkan pasangan, perilaku ini dikategorikan sebagai bentuk kekerasan emosional atau psikologis.