Ad Placeholder Image

Roundup Obat Apa Simak Fungsi Dan Cara Pakai Yang Tepat

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc 29 Juni 2026

Roundup Obat Apa Serta Fungsi Untuk Pembasmi Rumput Liar

Roundup Obat Apa Simak Fungsi Dan Cara Pakai Yang TepatRoundup Obat Apa Simak Fungsi Dan Cara Pakai Yang Tepat

DAFTAR ISI


Banyak orang di masyarakat yang masih sering keliru dan bertanya-tanya, sebenarnya roundup obat apa? Perlu ditegaskan sejak awal bahwa Roundup bukanlah obat untuk manusia maupun hewan. Roundup adalah merek dagang populer untuk herbisida atau cairan pembasmi gulma (rumput liar) yang mengandung bahan aktif kimia bernama glifosat.

Cairan kimia ini sangat lazim digunakan di berbagai sektor, mulai dari pertanian skala besar, perkebunan, hingga perawatan pekarangan rumah tangga biasa. Karena tujuan utamanya adalah sebagai racun pembasmi tanaman liar, produk ini sangat beracun dan berbahaya apabila sampai tertelan, terhirup, atau bersentuhan langsung dengan kulit dan mata manusia tanpa perlengkapan keamanan yang memadai.

Mengingat bahayanya, siapa pun yang menyimpan atau menggunakan produk ini harus ekstra waspada. Tidak jarang terjadi kasus keracunan karena cairan ini disimpan sembarangan di dalam botol air minum kemasan, sehingga tidak sengaja terminum oleh anak-anak maupun orang dewasa. Jika hal ini terjadi, kamu memerlukan pertolongan medis segera. Sebagai langkah kewaspadaan, apabila kamu atau orang terdekat mengalami gejala paparan bahan beracun, segera lakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja untuk mendapatkan instruksi medis darurat yang tepat waktu.

Apa Itu Roundup dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Roundup pertama kali diperkenalkan ke publik pada tahun 1970-an dan dengan cepat menjadi salah satu bahan kimia pertanian yang paling banyak digunakan di seluruh dunia. Bahan aktif utamanya adalah glifosat, sebuah senyawa kimia sintetik yang bekerja secara sistemik pada tanaman. Artinya, ketika cairan ini disemprotkan pada daun tanaman, zat tersebut akan diserap dan didistribusikan ke seluruh bagian tanaman hingga ke akar-akarnya.

Glifosat bekerja dengan cara menghambat enzim spesifik bernama EPSP sintase, yang sangat krusial bagi pertumbuhan tanaman. Enzim ini bertugas untuk membantu tanaman memproduksi protein dan asam amino tertentu yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup. Tanpa enzim tersebut, tanaman akan perlahan menguning, layu, dan akhirnya mati dalam hitungan hari hingga minggu setelah proses penyemprotan.

Selain glifosat, produk-produk herbisida seperti ini umumnya juga mengandung bahan tambahan lain (surfaktan), salah satu yang paling umum adalah polyethoxylated tallow amine (POEA). Fungsi dari surfaktan ini adalah memecah tegangan permukaan air, sehingga cairan racun bisa lebih mudah menempel, menyebar, dan menembus lapisan pelindung alami daun. Secara medis, justru bahan surfaktan seperti POEA inilah yang seringkali menyebabkan efek kerusakan sel yang lebih parah dan iritasi kuat apabila mengenai jaringan tubuh manusia, dibandingkan dengan glifosat murni itu sendiri.

Dampak Roundup pada Kesehatan Manusia

Meskipun diformulasikan khusus untuk tanaman, paparan herbisida ini pada manusia dapat memicu berbagai masalah kesehatan yang serius, baik secara akut (jangka pendek) maupun kronis (jangka panjang).

Secara akut, bahaya paling utama muncul jika cairan tertelan secara tidak sengaja. Sistem pencernaan bagian atas, mulai dari mulut, kerongkongan, hingga lambung dapat mengalami luka bakar kimiawi dan peradangan hebat. Dalam dosis yang besar, racun dapat masuk ke dalam aliran darah, menyebabkan penurunan tekanan darah secara drastis, merusak fungsi ginjal, hingga memicu gagal napas yang berpotensi fatal.

Untuk paparan kronis atau jangka panjang, banyak perdebatan dan studi medis yang masih berlangsung. International Agency for Research on Cancer (IARC), yang merupakan bagian dari World Health Organization (WHO), pada tahun 2015 mengklasifikasikan glifosat ke dalam Grup 2A, yaitu bahan yang “kemungkinan besar bersifat karsinogenik (pemicu kanker) pada manusia”. Hal ini didasarkan pada temuan peningkatan risiko limfoma non-Hodgkin (sejenis kanker darah) pada pekerja pertanian yang sering terpapar bahan tersebut dalam durasi bertahun-tahun. Meski begitu, lembaga regulasi lain di berbagai negara masih terus mengevaluasi batas aman penggunaan bahan kimia ini.

Gejala Keracunan yang Harus Diwaspadai

Efek racun dari herbisida ini sangat bergantung pada bagaimana seseorang terpapar, seberapa banyak konsentrasinya, dan berapa lama paparannya terjadi. Gejala bisa bervariasi dari ringan hingga mengancam nyawa.

Jika cairan mengenai kulit secara langsung, terutama dalam jumlah yang banyak atau durasi yang lama, ia dapat merusak lapisan kulit. Gejalanya meliputi kemerahan, rasa gatal yang hebat, sensasi terbakar, dan dermatitis kontak. Jika cairan tak sengaja memercik ke dalam mata, ia dapat memicu konjungtivitis kimia, pembengkakan kelopak mata, rasa perih luar biasa, hingga risiko kerusakan kornea jika tidak segera dibilas.

Sementara itu, jika uap kimia dari cairan tersebut terhirup dalam ruang yang sempit dan kurang ventilasi, ia akan mengiritasi saluran pernapasan. Korban akan merasakan sensasi terbakar pada hidung dan tenggorokan, batuk-batuk, dan dalam kasus yang lebih parah bisa menyebabkan pembengkakan pada saluran napas.

Faktor Pemicu dan Risiko Keracunan Herbisida
  1. Melakukan penyemprotan tanpa menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap seperti sarung tangan karet, masker, kacamata pelindung, dan sepatu bot.
  2. Menyimpan sisa cairan ke dalam botol minuman, sirup, atau wadah makanan tanpa label peringatan yang jelas.
  3. Tidak mencuci tangan dengan bersih menggunakan sabun setelah selesai melakukan proses penyemprotan.
  4. Melakukan penyemprotan pada saat angin bertiup kencang, sehingga kabut beracun berbalik arah dan mengenai wajah atau tubuh pengguna.

Langkah Penanganan Pertama Jika Terpapar

Tindakan yang cepat dan tepat sangat krusial dalam meminimalisir kerusakan sel pada tubuh korban keracunan zat kimia ini. Jika terjadi insiden, ada beberapa pedoman penting yang harus segera dilakukan sebelum tim medis mengambil alih:

1. Jika terkena kulit
Segera lepaskan pakaian yang terkontaminasi cairan. Bilas bagian kulit yang terkena di bawah aliran air mengalir dan gunakan sabun secara perlahan setidaknya selama 15 menit. Jangan menggosok kulit terlalu keras karena dapat memperparah iritasi. Pakaian yang terkena racun harus dicuci terpisah dari cucian lainnya.

2. Jika masuk ke dalam mata
Jangan mengucek mata. Segera siram mata yang terdampak dengan air mengalir atau cairan saline (NaCl 0.9%) yang bersih dan sejuk selama kurang lebih 15 hingga 20 menit. Mintalah bantuan orang lain untuk memandu proses pembilasan. Pastikan untuk melepas lensa kontak jika korban menggunakannya.

3. Jika terhirup uapnya
Segera pindahkan korban ke area terbuka yang memiliki udara segar. Longgarkan pakaian di sekitar leher dan dada agar korban bisa bernapas dengan lebih lega. Jika korban mengalami kesulitan bernapas yang parah, berikan bantuan pernapasan dan segera cari unit gawat darurat terdekat.

4. Jika cairan tertelan
Ini adalah kondisi paling kritis. Jangan pernah mencoba memancing korban untuk muntah dengan cara memasukkan jari ke tenggorokan atau memberikan cairan lain, karena tindakan tersebut dapat membuat kerongkongan kembali terbakar (luka ganda) saat racun naik ke atas. Jangan memberikan susu. Segera bawa korban ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) di rumah sakit terdekat. Bawalah juga botol kemasan produk tersebut agar dokter mengetahui dengan pasti zat kimia apa yang tertelan dan dapat memberikan terapi antidotum atau pembilasan lambung (kumbah lambung) dengan prosedur medis yang tepat.

Cara Pencegahan dan Penggunaan yang Aman

Untuk mencegah insiden keracunan, edukasi dan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan kerja adalah kunci utama. Jika kamu memang harus menggunakan produk herbisida berbahan glifosat untuk kebutuhan merawat lahan pertanian, pastikan selalu membaca instruksi pada label kemasan dengan saksama.

Selalu gunakan Alat Pelindung Diri (APD) secara utuh. Jangan pernah makan, minum, atau merokok di saat proses pencampuran bahan maupun saat melakukan penyemprotan. Ketika proses tersebut selesai, segera mandi dan bersihkan diri dengan sabun yang banyak.

Simpanlah bahan kimia pertanian di lemari yang terkunci dengan baik, diletakkan di tempat yang cukup tinggi, dan jauh dari jangkauan anak-anak serta hewan peliharaan. Pertahankan produk di kemasan aslinya. Jika botol aslinya bocor, pindahkan ke wadah khusus bahan kimia lainnya yang telah dilabeli “Racun” dengan jelas.

Studi Terkait

Menurut pembaruan literatur medis yang diterbitkan dalam Journal of Medical Toxicology (2026), paparan glifosat, khususnya yang tercampur dengan surfaktan pekat (seperti POEA), dapat menyebabkan kerusakan mitokondria yang berkontribusi pada nekrosis sel (kematian sel) yang signifikan pada jaringan mukosa saluran cerna. Studi klinis tersebut juga menggarisbawahi bahwa tingkat kematian pasien akibat konsumsi herbisida berbanding lurus dengan rentang waktu keterlambatan penanganan sebelum masuk ke ruang Instalasi Gawat Darurat, di mana sebagian besar pasien yang tiba lebih dari 2 jam setelah konsumsi menunjukkan tingkat keparahan yang lebih fatal.

Selain itu, jurnal Occupational and Environmental Medicine (2026) turut mengamati pekerja pertanian yang terpapar herbisida secara tidak sengaja dalam dosis rendah melalui inhalasi (pernapasan). Hasil observasi menyimpulkan perlunya penggunaan masker respirator standar industri secara ketat untuk mencegah radang paru kronis (pneumonitis kimia).

Punya Keluhan Kesehatan Akibat Bahan Kimia? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu punya keluhan kesehatan akibat paparan bahan kimia, tapi bingung mulai dari mana? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!

HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kamu atau orang di sekitarmu mengalami paparan bahan kimia pembasmi gulma dan mulai menunjukkan tanda-tanda sesak napas, mual, sakit tenggorokan hebat, hingga pusing atau iritasi parah pada kulit dan mata, jangan menunda pertolongan. Segera konsultasikan kondisimu dengan Dokter Umum di Halodoc untuk mendapatkan arahan pertolongan darurat atau langsung segera menuju fasilitas Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit terdekat.

Referensi

  • Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Chemical Burns: First Aid.
  • World Health Organization (WHO). Diakses pada 2026. Glyphosate and Health.
  • Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2026. Pedoman Penatalaksanaan Keracunan Pestisida.
  • PubMed. Diakses pada 2026. Acute Poisoning with Glyphosate-Surfactant Herbicide: A Review.

FAQ

1. Apakah Roundup aman digunakan tanpa sarung tangan?
Tidak. Produk ini merupakan cairan kimia keras yang dapat menyebabkan iritasi berat hingga kerusakan jaringan pada kulit dan memicu penyerapan zat beracun ke dalam tubuh. Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) seperti sarung tangan karet dan masker mutlak diperlukan.

2. Apa yang harus dilakukan jika herbisida tidak sengaja tertelan anak?
Hal ini adalah kondisi gawat darurat medis. Jangan memancing anak untuk muntah dan jangan memberikan minuman apa pun. Segera bawa anak ke IGD terdekat beserta kemasan botol racun tersebut agar dokter bisa memberikan tindakan bilas lambung dengan segera.

3. Apakah paparan Roundup bisa menyebabkan kanker?
Terdapat perdebatan ilmiah dan penelitian yang masih berlangsung mengenai hal ini. Namun, lembaga IARC dari WHO telah mengklasifikasikan bahan utama glifosat ke dalam kelompok bahan yang berkemungkinan memicu kanker (karsinogenik), terutama pada paparan kronis selama bertahun-tahun di bidang pekerjaan pertanian.

4. Bagaimana cara menetralisir racun herbisida jika mengenai kulit?
Segera lepaskan pakaian yang terkontaminasi bahan kimia tersebut. Cuci kulit yang terpapar di bawah air bersih yang mengalir secara terus-menerus dengan menggunakan sabun ringan selama minimal 15 menit. Jika setelahnya muncul ruam atau luka bakar, segera periksakan diri ke dokter.