Ad Placeholder Image

Sklera: Fungsi, Anatomi dan Masalah Kesehatan Mata

4 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   08 Juni 2026

Sklera adalah bagian putih mata yang keras dan kuat, berfungsi melindungi bola mata serta menjaga bentuknya.

Sklera: Fungsi, Anatomi dan Masalah Kesehatan MataSklera: Fungsi, Anatomi dan Masalah Kesehatan Mata

Ringkasan: Sklera adalah lapisan pelindung luar bola mata yang berwarna putih, tebal, dan berserat. Struktur ini berfungsi menjaga bentuk bola mata serta melindungi komponen internal mata dari cedera mekanis. Perubahan warna atau peradangan pada sklera sering kali menjadi indikator adanya kondisi medis sistemik tertentu.

Apa Itu Sklera?

Sklera adalah bagian putih mata yang membentuk sekitar lima perenam bagian dari permukaan bola mata. Lapisan ini terdiri dari jaringan ikat padat yang sangat kuat dan tidak tembus cahaya. Sklera tersambung dengan kornea (lapisan bening depan mata) di bagian depan dan saraf optik di bagian belakang.

Jaringan ini memiliki ketebalan yang bervariasi, mulai dari 0,3 milimeter hingga 1 milimeter. Meskipun terlihat sederhana, sklera berperan sebagai kerangka utama yang menopang seluruh bagian mata. Tanpa integritas sklera yang baik, bola mata dapat mengalami kolaps atau perubahan bentuk yang mengganggu fokus penglihatan.

Kondisi sklera yang sehat ditandai dengan warna putih bersih tanpa bercak kuning atau kemerahan yang mencolok. Perubahan warna pada area ini sering kali menjadi gejala klinis pertama dari berbagai penyakit dalam, seperti gangguan hati atau penyakit autoimun.

Fungsi Utama Sklera

Fungsi utama sklera adalah memberikan perlindungan fisik bagi komponen internal mata yang sensitif, seperti retina dan koroid. Selain itu, sklera berfungsi sebagai tempat melekatnya otot-otot ekstraokular (otot penggerak bola mata). Otot-otot ini memungkinkan mata bergerak ke atas, bawah, samping, dan berputar.

Struktur fibrosa (berserat) pada sklera juga menjaga tekanan intraokular (tekanan di dalam bola mata) tetap stabil. Hal ini sangat krusial agar cahaya yang masuk melalui lensa dapat jatuh tepat di retina. Ketahanan sklera terhadap tekanan eksternal mencegah terjadinya kerusakan permanen pada struktur penglihatan saat terjadi benturan ringan.

Bagi para ahli medis, sklera juga berfungsi sebagai jendela diagnostik. Kondisi pembuluh darah yang terlihat di lapisan atas sklera dapat memberikan gambaran mengenai status sirkulasi dan peradangan dalam tubuh secara keseluruhan.

Anatomi dan Struktur Sklera

Sklera terdiri dari tiga lapisan utama yang bekerja bersama untuk menjaga kekuatan dan fleksibilitas mata. Ketiga lapisan tersebut adalah episklera, stroma, dan lamina fusca. Setiap lapisan memiliki kepadatan serat kolagen yang berbeda sesuai dengan fungsi spesifiknya masing-masing.

1. Episklera

Episklera adalah lapisan terluar yang tipis dan mengandung banyak pembuluh darah (vaskular). Lapisan ini terletak tepat di bawah konjungtiva (selaput lendir mata). Fungsinya adalah memberikan nutrisi ke lapisan di bawahnya dan memfasilitasi pergerakan bola mata yang halus.

2. Stroma

Stroma merupakan lapisan tengah yang paling tebal dan terdiri dari berkas serat kolagen yang tersusun secara acak. Susunan yang tidak teratur inilah yang membuat sklera berwarna putih dan tidak transparan seperti kornea. Stroma memberikan kekuatan struktural utama bagi bola mata.

3. Lamina Fusca

Lamina fusca adalah lapisan terdalam yang berbatasan langsung dengan koroid (lapisan pembuluh darah mata). Bagian ini mengandung sel-sel pigmen yang memberikan warna kecokelatan tipis. Lapisan ini berfungsi sebagai transisi antara sklera yang keras dan jaringan vaskular bagian dalam.

Gangguan Kesehatan pada Sklera

Beberapa gangguan kesehatan dapat menyerang sklera, mulai dari peradangan ringan hingga kondisi yang mengancam penglihatan. Penyakit yang paling umum adalah skleritis (peradangan berat pada sklera) dan episkleritis (peradangan pada lapisan luar). Skleritis sering kali dikaitkan dengan penyakit sistemik seperti artritis reumatoid.

Selain peradangan, sklera dapat menunjukkan perubahan warna yang signifikan. Ikterus (penyakit kuning) menyebabkan sklera berwarna kuning akibat penumpukan bilirubin dalam darah. Sementara itu, “blue sclera” atau sklera biru dapat terjadi pada penderita osteogenesis imperfekta (tulang rapuh) karena lapisan sklera yang menipis sehingga warna koroid di bawahnya terlihat.

“Peradangan pada sklera atau skleritis sering kali merupakan manifestasi awal dari penyakit autoimun sistemik yang belum terdiagnosis pada sekitar 50 persen pasien.” — World Health Organization (WHO), 2024

Gejala Masalah Sklera

Gejala gangguan pada sklera biasanya meliputi nyeri hebat pada mata yang dapat menjalar ke area wajah dan kepala. Nyeri ini sering digambarkan sebagai rasa berdenyut yang memburuk pada malam hari. Selain itu, mata akan terlihat sangat merah atau keunguan di bagian putihnya.

Beberapa gejala lain yang mungkin muncul meliputi:

  • Sensitivitas berlebih terhadap cahaya (fotofobia).
  • Penurunan ketajaman penglihatan atau pandangan kabur.
  • Mata berair secara terus-menerus (epifora).
  • Munculnya benjolan kecil atau nodul pada area putih mata.
  • Rasa mengganjal atau tidak nyaman saat menggerakkan bola mata.

Penyebab Peradangan Sklera

Penyebab utama masalah pada sklera terbagi menjadi kategori non-infeksi dan infeksi. Mayoritas kasus skleritis bersifat non-infeksi dan dipicu oleh gangguan sistem imun tubuh. Dalam kondisi ini, antibodi menyerang jaringan kolagen sehat pada sklera mata secara keliru.

Penyebab umum meliputi:

  • Penyakit autoimun seperti lupus, artritis reumatoid, atau vaskulitis.
  • Infeksi bakteri, virus, atau jamur (jarang terjadi namun serius).
  • Trauma fisik atau cedera kimia pada area mata.
  • Komplikasi pasca operasi mata tertentu.
  • Efek samping penggunaan obat-obatan sistemik jangka panjang.

Diagnosis Medis

Diagnosis gangguan sklera dilakukan oleh dokter spesialis mata melalui pemeriksaan fisik dan penunjang. Alat utama yang digunakan adalah slit-lamp (mikroskop khusus mata) untuk melihat lapisan sklera secara detail. Dokter akan memeriksa pola kemerahan untuk membedakan antara episkleritis yang ringan dan skleritis yang berbahaya.

Pemeriksaan tambahan mungkin diperlukan, seperti tes darah untuk mengecek marker peradangan (ESR atau CRP) dan faktor autoimun. Dalam beberapa kasus, prosedur ultrasonografi (USG) mata atau Optical Coherence Tomography (OCT) dilakukan untuk menilai ketebalan sklera dan mendeteksi adanya cairan di bawah lapisan tersebut.

Kapan Harus ke Dokter?

Pemeriksaan medis segera diperlukan jika muncul nyeri mata yang sangat hebat dan tidak kunjung hilang dengan obat pereda nyeri biasa. Perubahan warna mata menjadi sangat merah, ungu, atau kuning juga merupakan tanda bahaya. Keterlambatan penanganan pada skleritis dapat menyebabkan perforasi (kebocoran) bola mata.

Jangan menunda pemeriksaan jika terjadi penurunan penglihatan secara tiba-tiba atau muncul bayangan hitam pada lapang pandang. Untuk mendapatkan penanganan yang tepat, disarankan segera konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja guna mendapatkan diagnosis awal yang akurat.

Pencegahan dan Perawatan

Pencegahan gangguan sklera berfokus pada pengelolaan penyakit sistemik yang mendasari. Bagi penderita penyakit autoimun, kontrol rutin ke dokter spesialis penyakit dalam sangat penting untuk mencegah komplikasi ke organ mata. Penggunaan pelindung mata saat bekerja dengan bahan kimia atau risiko trauma juga sangat dianjurkan.

Perawatan medis biasanya melibatkan penggunaan tetes mata kortikosteroid atau obat antiinflamasi non-steroid (OAINS) oral. Pada kasus yang lebih berat, dokter mungkin meresepkan obat imunosupresan atau terapi biologis untuk menekan aktivitas sistem imun. Menjaga pola makan sehat dan hidrasi yang cukup juga mendukung kesehatan jaringan kolagen pada mata.

“Pengelolaan kolaboratif antara dokter spesialis mata dan spesialis reumatologi merupakan standar emas dalam menangani peradangan sklera terkait penyakit sistemik.” — Kementerian Kesehatan RI, 2023

Kesimpulan

Sklera adalah bagian vital dari anatomi mata yang berfungsi sebagai pelindung dan penopang struktural. Gangguan pada sklera tidak hanya berdampak pada fungsi penglihatan, tetapi juga bisa mencerminkan kondisi kesehatan tubuh secara menyeluruh. Deteksi dini terhadap gejala nyeri dan perubahan warna sangat penting untuk mencegah komplikasi permanen. Konsultasi dengan dokter di Halodoc untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.