• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Hati-Hati, Skullbreaker Challenge Bisa Berakibat Fatal

Hati-Hati, Skullbreaker Challenge Bisa Berakibat Fatal

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim

Halodoc, Jakarta - Semakin banyak aplikasi nyeleneh yang beredar, semakin banyak pula tantangan-tantangan aneh yang muncul. Aplikasi TikTok, misalnya, salah satu aplikasi yang sedang sangat naik daun setelah lama tenggelam, bahkan diblokir penggunaannya di Indonesia. Setelah penny challenge dan flashlight in eye, aplikasi ini hadir kembali dengan tantangan baru yang tidak kalah membahayakannya, skullbreaker challenge. 

Permainan ini dimainkan oleh tiga orang dengan posisi berdiri berjajar. Dua orang yang berdiri di sisi kanan dan kiri akan melompat terlebih dahulu, lalu disusul oleh orang ketiga yang berada di posisi tengah yang melompat ketika kedua temannya sudah kembali menapakkan kaki ke tanah. Nah, ketika orang yang berada di tengah ini melompat, teman yang berada di sisi kanan dan kiri akan menjegal bagian belakang lututnya hingga orang yang berada di tengah ini terjatuh. 

Waspada Risiko di Balik Viralnya Skullbreaker Challenge

Mulanya, tantangan ini dianggap sebagai gurauan di antara para siswa sekolah di Spanyol. Namun, unggahan videonya di aplikasi TikTok ini menjadi sangat viral. Tidak lama, banyak sekali pengguna aplikasi ini yang turut menjajal tantangan ini dan mengunggahnya di aplikasi yang sama. Segera, keadaan menjadi tidak terkontrol karena tidak sedikit pula beredar video yang merekam dampak serius dari tantangan satu ini. 

Baca juga: Filter TikTok Dapat Sebabkan Kebutaan, Benarkah?

Risiko paling utama dari tantangan ini selain rasa sakit adalah cedera serius. Semua tantangan yang pernah beredar dan viral di aplikasi ini dan media sosial lainnya, cenderung memberikan dampak negatif bagi para pelakunya. Nah, khusus untuk skullbreaker challenge ini, dampak paling buruk yang bisa terjadi adalah cedera punggung, panggul, hingga cedera kepala serius. 

Pasalnya, tantangan ini membuat pihak yang berada di tengah terjatuh tanpa perlindungan, sehingga sangat berpotensi menimbulkan memar ringan hingga patah tulang belakang, gegar otak, hingga ligamen sobek yang dapat berakibat sangat buruk, yaitu kematian. Tren ini juga sangat mungkin dijadikan sebagai tindakan intimidasi atau perundungan pada anak-anak di bawah umur, sehingga penting bagi orangtua untuk mengendalikan konten-konten yang dilihat oleh anak-anak. 

Baca juga: Aturan Aman Penggunaan Gadget pada Anak

Cedera Kepala dan Tulang Belakang 

Laman Mayo Clinic mengatakan, cedera kepala mudah terjadi akibat dari benturan keras pada bagian kepala, sehingga berpotensi memicu masalah pada fungsi otak. Tidak hanya luka ringan, cedera kepala juga termasuk pembengkakan, memar pada kulit kepala, patah tulang tengkorak, dislokasi, hingga perdarahan. Ini bergantung pada sekeras apa benturan terjadi dan kronologis dari terjadinya benturan pada kepala. 

Sama halnya dengan cedera kepala, benturan keras akibat dari skullbreaker challenge ini bisa mengakibatkan cedera saraf tulang belakang. Sudah pasti, dampak cedera kepala yang tidak segera mendapatkan penanganan adalah penurunan kesadaran rusaknya saraf, kejang yang terjadi berulang kali, infeksi, kerusakan pada pembuluh darah, terkumpulnya cairan pada otak, dan penyakit terkait degenerasi otak termasuk penyakit Parkinson dan Alzheimer. 

Sementara dampak dari cedera saraf tulang belakang bergantung pada lokasi terjadinya cedera. Jika terjadi pada bagian bawah, seperti pada area pinggang, cedera ini bisa mengakibatkan kelumpuhan pada kaki. Jika cedera terjadi pada area leher, kelumpuhan bisa menyerang kedua lengan maupun tungkai kaki. Bahkan, cedera yang menyerang area leher atas bisa mengakibatkan kesulitan bernapas

Baca juga: Risiko Fatal di Balik Cedera Kepala

Jadi, jangan pernah mencoba untuk melakukan berbagai tantangan yang sudah pasti terlihat membahayakan, karena ini bisa berdampak fatal pada kondisi kesehatan kamu, bahkan bisa berujung pada kematian. Kalau kamu merasa ada gejala yang tidak biasa pada tubuh, coba tanyakan langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc, jadi kamu bisa mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat. 

Referensi: 
IndiaTV. Diakses pada 2020. Beware! Parents Stop Your Kids from Doing TikTok’s Viral Skullbreaker Challenge. 
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Traumatic Brain Injury. 
Healthline. Diakses pada 2020. Spinal Cord Injury.