Advertisement

Stres dan Gaya Hidup Aktif Picu Cacar Api? Ini Faktanya

6 menit
Ditinjau oleh  dr. Erlian Dimas SpDVE   14 Mei 2025

Stres berat dan gaya hidup yang sangat aktif dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh.

Stres dan Gaya Hidup Aktif Picu Cacar Api? Ini FaktanyaStres dan Gaya Hidup Aktif Picu Cacar Api? Ini Faktanya

DAFTAR ISI

  1. Apakah Stres dan Gaya Hidup Aktif Berpengaruh?
  2. Gejala Cacar Api yang Perlu Diwaspadai
  3. Faktor Risiko Cacar Api
  4. Cara Mengatasi Cacar Api
  5. Pencegahan Cacar Api: Langkah-langkah Efektif
  6. Kapan Harus ke Dokter?
  7. Hubungi Dokter di Halodoc untuk Mengatasi Cacar Api

Cacar api, atau herpes zoster, adalah infeksi virus yang disebabkan oleh reaktivasi virus varicella-zoster (VZV). Virus ini adalah penyebab cacar air.

Setelah sembuh dari cacar air, VZV tidak sepenuhnya hilang dari tubuh. Virus ini tetap tidak aktif (dormant) di dalam sel saraf.

Cacar api muncul ketika virus ini aktif kembali. Kondisi ini menyebabkan ruam kulit yang menyakitkan, biasanya berbentuk seperti garis atau area kecil di satu sisi tubuh. Ruam ini dapat muncul di mana saja, tetapi paling sering terjadi di sekitar dada, punggung, atau wajah.

Apakah Stres dan Gaya Hidup Aktif Berpengaruh?

Stres berat dan gaya hidup yang sangat aktif dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh. Ketika tubuh mengalami stres, produksi hormon kortisol meningkat. Peningkatan kortisol dalam jangka panjang dapat menekan fungsi sistem imun.

Sistem kekebalan tubuh yang melemah memberikan kesempatan bagi virus varicella-zoster yang tidak aktif untuk kembali aktif dan menyebabkan cacar api.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa periode stres tinggi sering kali mendahului munculnya gejala cacar api.

Gaya hidup aktif yang berlebihan tanpa istirahat yang cukup juga dapat memicu stres fisik pada tubuh, sehingga berdampak serupa pada sistem kekebalan.

Gejala Cacar Api yang Perlu Diwaspadai

Gejala cacar api biasanya dimulai dengan rasa sakit, gatal, atau kesemutan pada area kulit tertentu. Beberapa hari kemudian, ruam akan muncul di area yang sama.

Gejala lainnya meliputi:

  • Ruam yang biasanya hanya muncul di satu sisi tubuh
  • Lepuh berisi cairan yang mudah pecah
  • Rasa sakit yang bisa terasa seperti terbakar, menusuk, atau ngilu
  • Demam
  • Sakit kepala
  • Sensitif terhadap cahaya

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), rasa sakit akibat cacar api bisa sangat parah dan berlangsung beberapa minggu atau bahkan bulan setelah ruam sembuh.

Faktor Risiko Cacar Api

Selain stres dan gaya hidup aktif, ada beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko terkena cacar api:

  • Usia: Risiko meningkat seiring bertambahnya usia, terutama setelah 50 tahun.
  • Sistem kekebalan tubuh yang lemah: Disebabkan oleh penyakit seperti HIV/AIDS, kanker, atau pengobatan imunosupresan.
  • Riwayat cacar air: Setiap orang yang pernah menderita cacar air berisiko terkena cacar api.

Cara Mengatasi Cacar Api

Pengobatan cacar api bertujuan untuk mengurangi rasa sakit dan mempercepat penyembuhan ruam. Beberapa pilihan pengobatan meliputi:

  • Obat antivirus: Seperti acyclovir, valacyclovir, atau famciclovir. Obat ini paling efektif jika diminum dalam 72 jam pertama setelah ruam muncul.
  • Obat pereda nyeri: Seperti paracetamol atau ibuprofen untuk mengurangi rasa sakit. Dalam kasus yang lebih parah, dokter mungkin meresepkan obat pereda nyeri yang lebih kuat.
  • Kompres dingin: Dapat membantu mengurangi rasa sakit dan gatal pada ruam.
  • Krim atau losion anti-gatal: Seperti losion kalamin, dapat membantu meredakan gatal.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menekankan pentingnya konsultasi dengan dokter segera setelah gejala cacar api muncul untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Pencegahan Cacar Api: Langkah-langkah Efektif

Cara paling efektif untuk mencegah cacar api adalah dengan vaksinasi. Vaksin cacar api (zoster) sangat direkomendasikan untuk orang dewasa berusia 50 tahun ke atas, bahkan jika mereka pernah menderita cacar air.

Selain vaksinasi, ada beberapa langkah lain yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko terkena cacar api:

  • Kelola stres: Temukan cara sehat untuk mengatasi stres, seperti olahraga teratur, meditasi, atau yoga.
  • Istirahat yang cukup: Pastikan untuk mendapatkan tidur yang cukup setiap malam.
  • Jaga sistem kekebalan tubuh: Konsumsi makanan bergizi seimbang, olahraga teratur, dan hindari merokok serta konsumsi alkohol berlebihan.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera konsultasikan dengan dokter jika kamu mengalami gejala cacar api, terutama:

  • Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah.
  • Mengalami rasa sakit yang parah.
  • Ruam muncul di dekat mata, karena dapat menyebabkan masalah penglihatan.

Stres dan gaya hidup aktif yang tidak diimbangi dengan istirahat cukup dapat meningkatkan risiko terkena cacar api.

Oleh karena itu, penting untuk mengelola stres dengan baik dan menjaga sistem kekebalan tubuh tetap kuat.

Hubungi Dokter di Halodoc untuk Mengatasi Cacar Api

Jika kamu mengalami masalah cacar api, jangan ragu untuk menghubungi dokter spesialis kulit dan kelamin di Halodoc.

Mereka bisa memberikan saran perawatan yang tepat sekaligus merekomendasikan produk terbaik.

Jangan ragu, dokter di Halodoc telah berpengalaman serta mendapatkan penilaian baik dari pasien yang sebelumnya mereka tangani.

Berikut dokter di Halodoc yang bisa kamu hubungi:

1. dr. Dyah Ayu Nirmalasari Sp.D.V.E

Dokter pertama yang bisa kamu hubungi adalah dr. Dyah Ayu Nirmalasari Sp.D.V.E. Ia merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada 2013 dan Universitas Hasanuddin pada 2022.

Saat ini, dokter Dyah Ayu Nirmalasari Sp.D.V.E berpraktik di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.

Ia juga tergabung sebagai anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) dengan nomor STR 7321602322144303.

Berpengalaman sebagai dokter spesialis kulit selama 10 tahun, dr. Dyah Ayu Nirmalasari Sp.D.V.E mampu memberikan layanan konsultasi di Halodoc terkait berbagai masalah cacar api.

Chat dr. Dyah Ayu Nirmalasari Sp.D.V.E dari Rp 59.000,- di Halodoc.

2. dr. Made Martina W. M.Biomed, Sp.D.V.E

Kamu juga bisa menghubungi Made Martina W. M.Biomed, Sp.D.V.E apabila membutuhkan pengobatan terkait cacar api.

Ia merupakan alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya pada 2011 dan Universitas Udayana pada 2017. 

Ia kini berpraktik di Denpasar, Bali dan tergabung sebagai tergabung sebagai anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) dengan nomor STR 5121 602423127230.

Berbekal pengalaman selama 12 tahun, dr. Made Martina W. M.Biomed, Sp.D.V.E memberikan layanan konsultasi di Halodoc seputar masalah cacar api

Chat dr. Made Martina W. M.Biomed, Sp.D.V.E mulai dari Rp 59.000,- di Halodoc. 

Jika dokter sedang tidak tersedia atau offline, kamu tak perlu khawatir.

Sebab kamu tetap bisa membuat janji konsultasi di lain waktu melalui aplikasi Halodoc atau berkonsultasi dengan dokter lainnya.

Tunggu apa lagi? Yuk pakai Halodoc sekarang!

Referensi:
Johnson, R. W., & McElhaney, J. Diakses pada 2025. Herpes zoster in the elderly. Neurology, 91(2 Suppl 1), S16-S25.
National Institute of Neurological Disorders and Stroke. Diakses pada 2025. Shingles.