Thompson Test: Deteksi Cedera Achilles, Cepat dan Akurat

DAFTAR ISI
- Apa Itu Thomson Test?
- Mengenal Anatomi Tendon Achilles dan Betis
- Gejala Robekan Tendon Achilles yang Perlu Diwaspadai
- Prosedur dan Cara Melakukan Thomson Test
- Interpretasi Hasil: Positif vs Negatif
- Pemeriksaan Pendukung Selain Thomson Test
- Kapan Harus ke Dokter?
- Studi Terkait
- FAQ
Pernahkah kamu merasakan sensasi seperti dipukul atau ditendang dengan keras di area betis belakang saat sedang berolahraga, padahal tidak ada siapa-siapa di belakangmu? Jika iya, kamu mungkin mengalami cedera serius yang dikenal sebagai robekan tendon Achilles. Tendon ini adalah jaringan ikat terkuat di tubuh manusia, namun ia tetap rentan terhadap cedera, terutama pada individu yang aktif berolahraga secara intermiten.
Dalam dunia medis, mendiagnosis robekan tendon Achilles secara cepat sangatlah krusial untuk mencegah komplikasi jangka panjang seperti kelemahan permanen pada kaki. Salah satu pemeriksaan fisik paling sederhana namun sangat akurat untuk mendeteksi kondisi ini adalah Thomson test, atau sering juga disebut Thompson squeeze test. Tes ini dapat dilakukan dalam hitungan detik tanpa memerlukan alat medis yang canggih.
Memahami bagaimana Thomson test bekerja dapat membantu kamu memberikan pertolongan pertama yang tepat bagi diri sendiri maupun orang di sekitarmu yang dicurigai mengalami cedera tendon. Ketepatan diagnosis awal akan sangat menentukan apakah penanganan selanjutnya memerlukan tindakan bedah atau bisa dilakukan dengan terapi konservatif.
Nah, mau tahu lebih lanjut mengenai prosedur, tingkat akurasi, hingga langkah selanjutnya setelah menjalani tes ini? Yuk, simak pembahasan lengkapnya berikut ini!
Apa Itu Thomson Test?
Thomson test adalah pemeriksaan fisik yang digunakan oleh dokter, fisioterapis, atau tenaga medis profesional untuk mengevaluasi integritas tendon Achilles. Dinamai menurut ahli bedah Inggris, Simmonds dan kemudian dipopulerkan oleh Thompson, tes ini dirancang untuk melihat apakah koneksi mekanis antara otot betis dan tulang tumit masih utuh.
Tendon Achilles menghubungkan otot gastrocnemius dan soleus (otot betis) ke tulang calcaneus (tumit). Secara normal, saat otot betis berkontraksi atau diperas, tendon ini akan menarik tumit sehingga kaki bergerak ke arah bawah (gerakan jinjit atau plantarflexion). Jika tendon Achilles robek total, tarikan mekanis ini akan hilang, dan Thomson test bertujuan untuk membuktikan hilangnya fungsi tersebut.
Mengenal Anatomi Tendon Achilles dan Betis
Untuk memahami mengapa Thomson test begitu efektif, kamu perlu mengenal anatomi kaki bagian belakang. Kompleks otot triceps surae terdiri dari dua kepala otot gastrocnemius dan satu otot soleus yang terletak di bawahnya. Ketiga bagian otot ini menyatu menjadi satu jaringan fibrosa yang kuat dan tebal, yakni tendon Achilles.
Tendon ini memiliki panjang sekitar 15 sentimeter dan merupakan struktur yang memfasilitasi gerakan berjalan, berlari, dan melompat. Meskipun sangat kuat, tendon Achilles memiliki area “zona hipovaskular” sekitar 2-6 cm di atas tumit. Di area ini, suplai darah cenderung lebih sedikit, sehingga lebih rentan mengalami degenerasi dan robekan mendadak dibandingkan bagian lainnya.
Siapa yang Berisiko Mengalami Cedera Ini?
- Pemain olahraga “High Impact” seperti badminton, basket, atau tenis.
- Pria berusia 30-50 tahun (sering dijuluki weekend warriors).
- Pengguna obat-obatan golongan fluoroquinolone atau injeksi steroid di sekitar tendon.
Gejala Robekan Tendon Achilles yang Perlu Diwaspadai
Sebelum melakukan Thomson test, biasanya penderita akan merasakan beberapa tanda klinis yang khas. Memahami gejala ini penting agar kamu segera melakukan pemeriksaan atau konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja guna mendapatkan penanganan medis segera.
- Mendengar bunyi “pop” yang keras saat cedera terjadi.
- Nyeri hebat yang muncul mendadak di bagian belakang tumit atau betis.
- Pembengkakan dan memar di area bawah kaki.
- Ketidakmampuan untuk berjinjit atau menekan pedal gas saat mengemudi.
- Adanya celah (gap) yang bisa dirasakan di sepanjang tendon saat diraba.
Prosedur dan Cara Melakukan Thomson Test
Thomson test sangat mudah dilakukan dan tidak menimbulkan nyeri tambahan yang berarti bagi pasien. Berikut adalah langkah-langkah proseduralnya:
1. Persiapan Posisi Pasien
Pasien diminta untuk berbaring telungkup (posisi prone) di atas meja periksa. Pastikan kedua kaki menjuntai di tepi meja, sehingga pergelangan kaki berada dalam posisi bebas dan rileks. Posisi ini sangat penting agar gravitasi tidak memengaruhi gerakan alami kaki.
2. Teknik Pemerasan (The Squeeze)
Pemeriksa akan berdiri di samping pasien dan meletakkan tangan pada bagian tengah betis yang mengalami cedera. Pemeriksa kemudian melakukan tekanan atau “meremas” otot betis (gastrocnemius-soleus complex) dengan cukup kuat namun terkontrol.
3. Observasi Gerakan Kaki
Saat betis diremas, pemeriksa akan memperhatikan gerakan pada pergelangan kaki dan telapak kaki pasien. Reaksi otomatis yang dicari adalah gerakan plantarflexion, di mana telapak kaki menekuk ke arah bawah menjauhi tulang kering.
Interpretasi Hasil: Positif vs Negatif
Hasil dari Thomson test dapat dikategorikan menjadi dua jenis:
- Hasil Negatif (Normal): Saat betis diremas, kaki bergerak menekuk ke bawah (plantarflexion). Ini menandakan bahwa tendon Achilles masih utuh dan tersambung dengan baik ke otot betis.
- Hasil Positif (Abnormal): Saat betis diremas, kaki tetap diam atau tidak bergerak sama sekali. Hal ini menunjukkan adanya robekan total pada tendon Achilles karena tarikan dari otot betis tidak tersampaikan ke tulang tumit.
Penting untuk dicatat bahwa Thomson test sangat efektif untuk mendeteksi robekan total (complete rupture), namun mungkin memberikan hasil yang ambigu jika robekan hanya terjadi sebagian (partial tear).
Pemeriksaan Pendukung Selain Thomson Test
Meskipun Thomson test memiliki sensitivitas yang tinggi, dokter terkadang memerlukan tes tambahan untuk memperkuat diagnosis, terutama jika terjadi pembengkakan hebat yang menyulitkan perabaan. Beberapa pemeriksaan penunjang tersebut meliputi:
- Matles Test: Pasien berbaring tengkurap dan menekuk lutut 90 derajat. Jika kaki pada sisi yang cedera terlihat lebih datar dibandingkan kaki yang sehat, maka dicurigai ada robekan.
- Ultrasonografi (USG): Menggunakan gelombang suara untuk melihat visualisasi tendon secara real-time.
- MRI: Merupakan standar baku emas (gold standard) untuk melihat detail kerusakan jaringan lunak dan menentukan apakah robekan bersifat parsial atau total.
Kapan Harus ke Dokter?
Jika kamu mendapati hasil Thomson test positif atau merasakan nyeri yang tidak tertahankan di area betis, jangan menunda waktu. Robekan tendon Achilles yang tidak segera ditangani dapat menyebabkan jaringan tendon memendek atau terbentuk jaringan parut yang buruk, yang akan mempersulit proses pemulihan atau pembedahan di masa depan.
Segera lakukan penanganan awal dengan metode RICE (Rest, Ice, Compression, Elevation). Setelah itu, kamu bisa beli obat online di Halodoc untuk pereda nyeri ringan yang tersedia di apotek, seperti produk kategori obat bebas yang aman dikonsumsi sesuai aturan pakai.
Studi Mengenai Thomson Test
The Journal of Bone and Joint Surgery menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa Thompson test memiliki sensitivitas hingga 96% dalam mendeteksi robekan tendon Achilles akut. Angka ini menunjukkan bahwa tes fisik ini sangat dapat diandalkan oleh tenaga kesehatan profesional di unit gawat darurat sebagai skrining awal.
Penelitian tersebut juga menekankan pentingnya melakukan pemeriksaan pada kedua kaki untuk membandingkan respons gerakan motorik. Kecepatan diagnosis melalui tes ini terbukti menurunkan risiko kesalahan diagnosis yang sering kali dianggap hanya sebagai terkilir biasa (ankle sprain) oleh pasien.
Kesimpulannya, Thomson test adalah alat diagnostik yang sangat berharga karena kesederhanaan dan akurasinya. Jika kamu atau orang terdekat mengalami cedera saat berolahraga, melakukan pemeriksaan ini secara mandiri sebagai langkah awal sangat disarankan sebelum mencari bantuan medis profesional.
Jangan biarkan cedera kaki menghambat mobilitasmu dalam jangka panjang. Jika ragu, segera konsultasikan dengan dokter spesialis ortopedi untuk mendapatkan evaluasi menyeluruh.
Nyeri Betis Tak Kunjung Sembuh? Tanya ke HILDA Dulu!
Kamu punya keluhan kesehatan seperti nyeri pada betis atau tumit, tapi bingung mulai dari mana? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Achilles tendon rupture – Symptoms and causes.
Orthobullets. Diakses pada 2026. Achilles Tendon Rupture and Thompson Test.
Physiopedia. Diakses pada 2026. Thompson Test for Achilles Tendon Rupture.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2026. Achilles Tendon Injuries: Care and Treatment.
FAQ
1. Apakah Thomson test bisa dilakukan sendiri di rumah?
Bisa, namun disarankan dilakukan dengan bantuan orang lain agar posisi kaki tetap rileks dan pengamatan gerakan kaki bisa dilakukan secara objektif oleh orang yang meremas betis.
2. Apakah Thomson test sakit saat dilakukan?
Tes ini biasanya tidak menimbulkan nyeri hebat tambahan. Namun, karena area betis mungkin sedang memar atau bengkak akibat cedera, tekanan saat meremas mungkin akan terasa tidak nyaman.
3. Apakah hasil negatif berarti tendon Achilles benar-benar aman?
Belum tentu. Hasil negatif berarti tidak ada robekan total. Namun, kamu mungkin masih mengalami robekan sebagian (partial tear) atau tendinitis yang tetap memerlukan pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter.
4. Apa perbedaan Thomson test dengan Simmonds test?
Keduanya sebenarnya merujuk pada prosedur yang sama, yaitu meremas otot betis untuk memicu gerakan pada pergelangan kaki. Nama Thompson lebih populer digunakan secara klinis saat ini.








