• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Vaksin Corona Kemungkinan Kurang Efektif untuk Lansia, Ini Alasannya

Vaksin Corona Kemungkinan Kurang Efektif untuk Lansia, Ini Alasannya

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim

Halodoc, Jakarta - Memasuki bulan ke-lima setelah ditetapkan sebagai pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kini sudah banyak perusahaan farmasi besar yang memiliki kandidat vaksin. Pembuatan vaksin yang dimaksudkan untuk mencegah penularan virus corona lebih luas ini telah masuk ke dalam uji klinis pada manusia dengan hasil yang cukup menjanjikan. Sayangnya, ada beberapa ahli yang meragukan efektivitas vaksin ini, terutama untuk para lansia.

COVID-19 ini telah banyak merenggut nyawa para lansia. Melansir The Conversation, data menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan terkait usia. Mereka yang berusia di atas 60 tahun memiliki tingkat kematian kasus sebesar 4,5 persen. Sementara mereka yang berusia 30 hingga 60 tahun tingkat fatalitasnya sebesar 1,4 persen, dan mereka yang di bawah 30 tahun hanya berkisar antara nol hingga 0,19 persen. 

Baca juga: Tiba di Indonesia, Kapan Vaksin Corona Bisa Digunakan?

Lantas, apa yang menyebabkan vaksin yang tengah dikembangkan ini kemungkinan tidak efektif untuk lansia? Ada beberapa alasan menarik yang perlu kamu pahami berikut:

Faktor Imunosenesensi

Para ahli imunologi juga mengevaluasi seberapa baik para ilmuwan dalam menyesuaikan strategi imunisasi untuk seluruh populasi. Kesimpulan yang mereka dapatkan sejauh ini, para ahli sebagian besar telah gagal memfokuskan penelitian mereka untuk menyesuaikan teknologi vaksin guna mendorong respons kekebalan yang kuat pada lansia.

Ada faktor penting yang membuat lansia lebih rentan terhadap penyakit menular, ahli imunologi menyebutnya “imunosenesensi”. Ini adalah kondisi penurunan fungsi sistem kekebalan seiring bertambahnya usia. Ini juga terkait dengan peningkatan kejadian penyakit radang, karena tubuh lansia cenderung dalam keadaan peradangan kronis tingkat rendah. Peradangan terkait pertambahan usia ini adalah salah satu alasan orang tua memiliki kecenderungan untuk timbul bentuk penyakit pernapasan yang lebih parah. Selain itu, imunosenesensi juga mengakibatkan berkurangnya respons terhadap vaksinasi. 

Memang sejauh ini vaksin flu tahunan terkenal kurang efektif pada orang tua, dan seharusnya sejak awal para ahli melakukan peninjauan ulang dan tidak mengabaikan fakta ini. Pasalnya, pengembangan vaksin adalah hal yang krusial, tak hanya menyangkut kesehatan masyarakat secara keseluruhan, tetapi juga dana yang telah diinvestasikan oleh banyak pihak dalam pengembangan vaksin. 

Baca juga: Vaksin Corona Belum Tersedia, Begini Cara Tekan Angka Penularan

Uji Klinis Tak Pernah Masukkan Lansia ke Dalam Prioritas

Untuk kamu yang gemar melihat lebih detail dan memeriksa bagaimana sebuah penelitian dilakukan, ada hal menarik yang perlu kamu ketahui. Sejauh ini, tikus adalah hewan yang paling umum digunakan dalam penelitian vaksin praklinis dan sebagian besar tikus yang jadi bahan percobaan adalah tikus yang berusia 12 minggu atau lebih muda.

Ini setara dengan orang yang berusia 20 tahun ke bawah. Relatif jauh lebih jarang bagi penelitian untuk menggunakan tikus yang memiliki kondisi imunosenesensi yang berusia minimal 18 bulan dan setara dengan manusia lanjut usia. 

Uji klinis fase awal berfokus pada keamanan, bukan kemanjuran vaksin. Akibatnya, banyak vaksin yang tidak pernah diuji untuk mengetahui kemanjurannya untuk semua tingkatan umur karena fokusnya hanya untuk keamanan saja. 

Vaksin Corona untuk Lansia 

Orang berusia 65 tahun memang merasakan gejala paling parah akibat COVID19 dan memiliki tingkat kematian tertinggi. Jika tujuannya adalah untuk memiliki vaksin COVID-19 yang siap digunakan untuk umum pada awal 2021, satu-satunya yang memiliki peluang adalah yang sedang dalam uji klinis. Meski kemungkinan besar vaksin ini tidak akan efektif untuk populasi lansia yang paling membutuhkannya. 

Meski terkesan terlambat, namun sangat penting untuk mengetahui bahwa para peneliti masih dalam fase praklinis menggabungkan pengujian head-to-head dari kandidat vaksin mereka pada hewan muda versus hewan tua dan mengembangkan strategi untuk mengoptimalkannya. 

Untuk itu, fokus pada orang tua harus dimasukkan ke dalam program pengembangan vaksin lainnya. Pasalnya, tidak sedikit negara di dunia yang memiliki populasi lebih besar pada kalangan lansia. Sehingga pengembangan vaksin yang efektif bagi lansia akan sangat penting bagi negara-negara ini. 

Baca juga: Sampai Kapan Pandemi Corona Akan Berlangsung? Ini Perkiraan Para Ahli

Sudah menjadi tugas kita bersama untuk bahu membahu menghentikan penyebaran virus corona. Caranya dengan menerapkan physical distancing, hanya keluar rumah jika diperlukan, rajin mencuci tangan dengan air dan sabun, menjaga kebersihan diri serta menerapkan pola hidup sehat dengan olahraga, mengonsumsi makanan bergizi, dan mengelola stres.

Namun, jika kamu merasakan gejala penyakit yang mirip COVID-19, periksakan dulu dengan dokter di aplikasi Halodoc. Dengan fitur chat, kamu tidak perlu keluar rumah untuk mendapatkan layanan kesehatan. Praktis, bukan? Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang!

Referensi:
Scientific American. Diakses pada 2020. Coronavirus Vaccines May Not Work for the Elderly—and This Lab Aims to Change That.
The Conversation. Diakses pada 2020. Why Vaccines Are Less Effective in the Elderly, and What It Means for COVID-19.
Wall Street Journal. Diakses pada 2020. Efforts for Coronavirus Vaccine Focus on Vulnerable Group: Older Adults.