• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ibu, Waspada Penularan Difteri Lewat Udara

Ibu, Waspada Penularan Difteri Lewat Udara

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Ibu, terkadang ada beberapa penyakit yang muncul tanpa adanya gejala hingga akhirnya penyakit berkembang ke tahapan yang lebih serius. Ada pula beberapa jenis penyakit yang langsung menunjukkan gejalanya, biasanya dua hingga tiga hari setelah terjadinya infeksi. Salah satunya adalah difteri, infeksi yang menyerang hidung dan tenggorokan. 

Difteri menjadi penyakit yang harus segera mendapatkan penanganan. Pasalnya, terlambatnya penanganan atau tanpa adanya penanganan, difteri bisa berkembang menjadi kondisi yang terbilang serius karena bisa merusak beberapa organ tubuh, termasuk ginjal, jantung, bahkan otak. Terlebih lagi, difteri termasuk penyakit menular yang berbahaya dan berpotensi mengancam nyawa. 

Kenali Berbagai Cara Penularan Difteri

Anak menjadi kelompok yang paling rentan terserang difteri, terlebih jika tidak dilakukan imunisasi. Ini artinya, ibu harus waspada akan penyakit satu ini. Salah satu caranya adalah mengenali bagaimana penyakit ini menular dari satu orang ke orang lainnya, sehingga bisa dilakukan tindakan antisipasi dan pencegahan yang tepat. 

Baca juga: Kenapa Difteri Lebih Mudah Menyerang Anak-Anak?

Salah satu cara penularan difteri yang perlu ibu waspadai adalah melalui udara. Bakteri penyebab difteri sangat mudah menular dan mengontaminasi orang lain yang menghirup udara dari pengidap difteri yang batuk dan bersin. Namun tidak hanya itu, penularan difteri pun bisa terjadi melalui kontak langsung, baik dengan manusia maupun dengan hewan yang sudah terkontaminasi serta bergantian dalam menggunakan benda-benda pribadi, misalnya pakaian, alat mandi, hingga peralatan makan, dan konsumsi susu yang belum melalui proses sterilisasi. 

Biasanya, gejala difteri akan muncul antara dua hingga lima hari setelah terjadinya infeksi. Oleh karena tidak semua pengidap mengalami gejala, maka ibu perlu mengenali gejala khasnya dengan lebih baik, yaitu adanya selaput berwarna abu-abu yang menutupi amandel dan bagian tenggorokan. Setelahnya, tenggorokan akan terasa sakit, akan terjadi batuk, pilek, dan suara menjadi serak. Lalu, tubuh menjadi lemas, demam, menggigil, dan muncul benjolan di bagian leher karena terjadinya pembengkakan pada kelenjar getah bening. 

Baca juga: Ini Penyebab Munculnya Wabah Difteri di Indonesia

Bahkan, difteri bisa menimbulkan gejala yang terbilang lebih serius, seperti keringat dingin, masalah pada penglihatan, jantung berdebar, sesak napas, dan berubahnya warna kulit menjadi kebiruan. Jika ini terjadi, segera periksa ke dokter. Buat janji dengan dokter ahli langsung di rumah sakit terdekat. Pakai aplikasi Halodoc untuk memudahkan ibu dalam membuat janji dengan dokter. 

Kenali Pencegahan Difteri

Cara paling mudah untuk mencegah penularan difteri adalah melalui vaksinasi. Jenis imunisasi yang diberikan adalah DPT, yaitu kombinasi vaksin difteri dengan batuk rejan atau pertusis dan tetanus. Imunisasi diberikan pada usia 2, 3, 4, dan 18 bulan, serta ketika anak berusia 5 tahun. Jangan sampai terlewat, karena ini penting agar anak terlindung dari bahaya difteri. 

Baca juga: Inilah Alasan Mengapa Difteri Mematikan

Namun, jika anak yang berusia di bawah 7 tahun belum pernah mendapatkan imunisasi DPT atau tidak lengkap dalam melakukan imunisasi yang diwajibkan, tanyakan pada dokter anak untuk melakukan kejaran imunisasi. Dokter akan memberikan jadwal yang tepat, sehingga ibu tidak asal atau mengira kapan waktu untuk mengejar ketertinggalan imunisasi ini. Sementara untuk anak di atas 7 tahun yang belum mendapatkan vaksin DPT, jenis imunisasi yang dilakukan adalah vaksin Tdap. 

Referensi: 
NHS UK. Diakses pada 2019. Diphtheria.
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Diphtheria.
Healthline. Diakses pada 2019. Diphtheria.