Mengenal Placenta Percreta Gejala Risiko dan Penanganan

DAFTAR ISI
- Apa Itu Placenta Percreta?
- Tanda dan Gejala yang Harus Diwaspadai
- Diagnosis dan Pemeriksaan Medis
- Penanganan dan Persalinan pada Kasus Placenta Percreta
- Pentingnya Perawatan Prenatal dan Persiapan Fisik
- Studi Mengenai Spektrum Plasenta Akreta
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Kehamilan adalah salah satu fase paling menakjubkan sekaligus menantang dalam kehidupan seorang wanita. Selama sembilan bulan, tubuh ibu mengalami berbagai perubahan luar biasa untuk mendukung pertumbuhan janin. Salah satu organ paling vital yang terbentuk selama masa kehamilan adalah plasenta atau ari-ari. Plasenta berfungsi sebagai sistem pendukung kehidupan utama bagi bayi, menyalurkan oksigen dan nutrisi dari darah ibu, serta membuang zat sisa dari darah bayi.
Dalam kondisi kehamilan normal, plasenta menempel pada dinding rahim dan akan terlepas dengan sendirinya setelah bayi dilahirkan. Namun, sayangnya tidak semua kehamilan berjalan tanpa komplikasi. Ada suatu kondisi medis serius di mana plasenta menempel terlalu dalam pada dinding rahim, bahkan menembus otot rahim dan organ di sekitarnya. Kondisi ini dikenal dalam dunia medis sebagai spektrum plasenta akreta (Placenta Accreta Spectrum), dan bentuknya yang paling parah disebut dengan placenta percreta.
Placenta percreta bukanlah kondisi yang bisa dianggap remeh. Kondisi ini dapat mengancam nyawa ibu dan janin karena risiko pendarahan hebat yang sangat tinggi saat proses persalinan. Mengingat tingkat keparahannya, sangat penting bagi setiap ibu hamil untuk memahami risiko, gejala, dan langkah penanganan medis yang tepat. Pemantauan ketat oleh dokter spesialis kandungan (obstetri dan ginekologi) sangat diwajibkan sejak kondisi ini terdeteksi.
Karena placenta percreta murni merupakan komplikasi struktural dan bedah pada kehamilan, tidak ada obat-obatan bebas (OTC), vitamin, atau suplemen yang dapat menyembuhkan atau mengubah posisi plasenta yang sudah menembus dinding rahim. Penanganannya mutlak membutuhkan intervensi medis tingkat lanjut. Nah, untuk mengetahui lebih dalam tentang apa itu placenta percreta, faktor risikonya, serta bagaimana penanganan medis yang harus dilakukan, mari simak ulasan lengkapnya di bawah ini!
Apa Itu Placenta Percreta?
Spektrum plasenta akreta (Placenta Accreta Spectrum/PAS) adalah komplikasi kehamilan yang terjadi ketika pembuluh darah dan bagian lain dari plasenta tumbuh terlalu dalam ke dinding rahim. Kondisi ini dibagi menjadi tiga tingkatan berdasarkan seberapa dalam plasenta menembus rahim. Pertama adalah plasenta akreta, di mana plasenta menempel kuat pada dinding rahim tetapi tidak menembus otot rahim. Kedua adalah plasenta inkreta, di mana plasenta menembus otot rahim (miometrium). Ketiga, dan yang paling berbahaya, adalah placenta percreta.
Placenta percreta menyumbang sekitar 5 hingga 7 persen dari seluruh kasus spektrum plasenta akreta. Pada kasus placenta percreta, vili korionik (jaringan seperti jari yang membentuk plasenta) menembus seluruh lapisan otot rahim (miometrium) dan mencapai serosa (lapisan luar rahim). Dalam skenario yang lebih parah, plasenta bahkan dapat terus tumbuh menembus rahim dan menempel pada organ-organ di sekitarnya, paling sering adalah kandung kemih, tetapi bisa juga melibatkan usus atau struktur panggul lainnya.
Penyebab pasti mengapa plasenta bisa menempel terlalu dalam belum sepenuhnya dipahami, namun para ahli medis meyakini hal ini sangat berkaitan dengan adanya jaringan parut atau kelainan pada lapisan rahim (endometrium/desidua). Jaringan parut ini sering kali merupakan hasil dari operasi caesar pada kehamilan sebelumnya atau operasi rahim lainnya. Ketika lapisan pelindung rahim rusak, plasenta yang mencari suplai darah akan tumbuh semakin dalam tanpa ada batas penahan alaminya.
Tanda dan Gejala yang Harus Diwaspadai
Salah satu hal yang paling menantang dari spektrum plasenta akreta, termasuk placenta percreta, adalah bahwa kondisi ini sering kali tidak menimbulkan gejala fisik yang jelas selama trimester pertama dan kedua kehamilan. Ibu hamil mungkin merasa kehamilannya berjalan normal. Oleh karena itu, diagnosis sering kali bergantung pada pemeriksaan ultrasonografi (USG) rutin.
Namun, jika gejala muncul, tanda yang paling umum dan paling menonjol adalah pendarahan pada trimester ketiga. Pendarahan ini bisa berwarna merah terang dan terjadi tanpa disertai rasa sakit (painless vaginal bleeding). Terkadang, jika plasenta telah menembus kandung kemih, ibu hamil mungkin mengalami hematuria (darah dalam urine). Jika kamu mengalami gejala-gejala ini atau membutuhkan konsultasi ke dokter spesialis kandungan, jangan pernah menundanya. Pemeriksaan medis yang cepat dan akurat dapat mencegah terjadinya syok hemoragik akibat kehilangan banyak darah.
Selain pendarahan, nyeri panggul yang tiba-tiba dan tajam juga bisa menjadi tanda peringatan jika plasenta mulai menekan organ lain atau jika terjadi ancaman ruptur uteri (robeknya rahim). Meskipun demikian, ketiadaan rasa sakit bukan berarti kondisi janin dan ibu dalam keadaan aman. Itulah mengapa pemeriksaan antenatal yang disiplin sangat krusial.
Faktor Risiko Placenta Percreta
Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko seorang wanita mengalami kondisi ini, di antaranya:
- Riwayat Operasi Caesar (C-Section): Risiko meningkat drastis seiring dengan bertambahnya jumlah operasi caesar yang pernah dijalani. Jaringan parut bekas sayatan menjadi titik lemah rahim.
- Plasenta Previa: Kondisi di mana plasenta menutupi sebagian atau seluruh leher rahim (serviks). Kombinasi plasenta previa dengan riwayat operasi caesar sangat meningkatkan risiko percreta.
- Riwayat Operasi Rahim Lainnya: Seperti pengangkatan miom (miomektomi), kuretase (D&C), atau ablasi endometrium.
- Usia Ibu Hamil: Wanita yang hamil di usia di atas 35 tahun memiliki risiko yang secara statistik lebih tinggi.
- Kehamilan Bayi Tabung (IVF): Beberapa studi menunjukkan sedikit peningkatan risiko pada kehamilan yang dibantu dengan teknologi reproduksi buatan.
Diagnosis dan Pemeriksaan Medis
Diagnosis dini adalah kunci utama untuk menyelamatkan nyawa ibu dan bayi pada kasus placenta percreta. Jika dokter mencurigai adanya kelainan letak atau penempelan plasenta, serangkaian pemeriksaan mendalam akan dilakukan.
1. Ultrasonografi (USG)
USG transvaginal atau abdominal adalah metode pencitraan garis depan. Dokter kandungan, terutama subspesialis kedokteran fetomaternal, akan mencari tanda-tanda spesifik yang disebut “lacunae” (ruang-ruang gelap di dalam plasenta yang terlihat seperti keju Swiss), penipisan dinding rahim, dan hilangnya batas bening antara rahim dan kandung kemih.
2. Magnetic Resonance Imaging (MRI)
Jika hasil USG kurang meyakinkan atau dokter perlu melihat seberapa jauh plasenta telah menembus ke dalam organ sekitarnya (seperti kandung kemih atau usus), MRI panggul akan disarankan. MRI memberikan gambaran jaringan lunak yang sangat detail dan sangat membantu tim bedah dalam merencanakan operasi.
3. Pemeriksaan Darah
Tes darah untuk mengukur kadar *Alpha-fetoprotein* (AFP) terkadang digunakan. Peningkatan kadar AFP dalam darah ibu, yang tidak terkait dengan kelainan bawaan pada janin, sering kali dikaitkan dengan plasenta akreta. Selain itu, tes golongan darah dan skrining antibodi wajib dilakukan untuk mempersiapkan transfusi darah massal jika diperlukan.
Penanganan dan Persalinan pada Kasus Placenta Percreta
Perlu ditekankan kembali bahwa placenta percreta tidak dapat diobati dengan obat-obatan. Satu-satunya jalan keluar adalah merencanakan proses persalinan yang sangat terkoordinasi. Mengingat tingginya risiko pendarahan yang fatal, penanganan placenta percreta membutuhkan tim medis multidisiplin yang terdiri dari dokter spesialis kandungan (obstetri fetomaternal), ahli onkologi ginekologi (untuk bedah panggul rumit), ahli urologi (jika kandung kemih terlibat), ahli anestesi, dan ahli neonatologi.
1. Persalinan Caesar Terencana (C-Section)
Dokter biasanya tidak akan membiarkan ibu hamil dengan placenta percreta masuk ke fase persalinan normal (kontraksi). Kontraksi rahim dapat memicu pendarahan masif seketika. Oleh karena itu, operasi caesar biasanya dijadwalkan secara prematur, umumnya antara usia kehamilan 34 hingga 36 minggu, untuk menyeimbangkan kematangan paru-paru janin dan risiko pendarahan ibu.
2. Histerektomi (Pengangkatan Rahim)
Standar emas penanganan placenta percreta setelah bayi dilahirkan adalah histerektomi obstetrik. Berbeda dengan operasi caesar biasa di mana dokter mencoba melepaskan plasenta, pada kasus percreta, memaksa melepas plasenta akan merobek pembuluh darah besar di rahim dan organ sekitarnya yang bisa menyebabkan kehilangan darah berliter-liter dalam hitungan menit. Oleh karena itu, rahim akan diangkat bersamaan dengan plasenta yang masih menempel di dalamnya.
3. Persiapan Transfusi Darah Masif
Pendarahan rata-rata selama operasi placenta percreta berkisar antara 3 hingga 5 liter (hampir setara dengan total volume darah dalam tubuh wanita dewasa). Karena itu, pihak rumah sakit akan menyiapkan protokol transfusi darah masif (Massive Transfusion Protocol) yang melibatkan sel darah merah, plasma beku segar, dan trombosit sebelum operasi dimulai.
4. Perawatan Intensif (ICU)
Setelah operasi yang panjang dan kompleks, ibu biasanya akan dirawat di Unit Perawatan Intensif (ICU) selama beberapa hari untuk memantau hemodinamik, fungsi ginjal, dan tanda-tanda komplikasi pembekuan darah seperti *Disseminated Intravascular Coagulation* (DIC).
Pentingnya Perawatan Prenatal dan Persiapan Fisik
Meski placenta percreta tidak bisa dicegah sepenuhnya jika jaringan parut sudah terbentuk dari kehamilan sebelumnya, menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh selama masa kehamilan tetap sangat penting. Kondisi fisik yang prima, kadar hemoglobin (Hb) yang baik, dan nutrisi yang cukup akan membantu tubuh ibu lebih kuat menghadapi kemungkinan operasi besar dan pemulihan setelahnya.
Penting bagi ibu hamil untuk mengonsumsi makanan bergizi seimbang, kaya zat besi, asam folat, dan kalsium. Untuk memastikan kebutuhan nutrisi harian janin dan ibu tercukupi, dokter mungkin menyarankan konsumsi vitamin khusus. Kamu bisa melengkapi kebutuhan gizi dengan membeli suplemen kehamilan dan vitamin prenatal yang aman dan berkualitas. Pastikan untuk selalu berkonsultasi dengan apoteker atau dokter mengenai dosis suplemen zat besi, terutama jika kamu memiliki riwayat anemia, karena anemia akan memperburuk prognosis jika terjadi pendarahan saat persalinan.
Studi Mengenai Spektrum Plasenta Akreta
American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) dan berbagai literatur dari PubMed NCBI menerbitkan pedoman klinis dan studi yang menyoroti peningkatan drastis kasus spektrum plasenta akreta di seluruh dunia. Laporan tersebut menjelaskan bahwa insiden plasenta akreta telah meningkat dari 1 dalam 4.000 kehamilan pada tahun 1970-an, menjadi 1 dalam 272 kehamilan pada dekade terakhir.
Studi ini menegaskan bahwa faktor penyebab utama dari lonjakan kasus ini adalah sejalan dengan meningkatnya angka persalinan caesar (C-section) secara global. Semakin sering seorang wanita menjalani operasi caesar, semakin tinggi risikonya mengalami kerusakan dinding rahim yang memicu placenta percreta pada kehamilan berikutnya. Oleh karena itu, para ahli medis sangat merekomendasikan agar persalinan caesar hanya dilakukan jika ada indikasi medis yang jelas, demi mencegah komplikasi berat di masa depan.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi:
American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). Diakses pada 2024. Placenta Accreta Spectrum.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Placenta accreta – Symptoms and causes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Placenta Accreta, Increta & Percreta: Symptoms & Treatment.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. WHO recommendations on interventions for treating postpartum haemorrhage.
National Center for Biotechnology Information (NCBI) – StatPearls. Diakses pada 2024. Placenta Accreta.
FAQ
1. Apakah placenta percreta bisa disembuhkan tanpa operasi?
Tidak. Placenta percreta adalah kondisi anatomis di mana jaringan plasenta telah menyatu dan menembus organ secara fisik. Tidak ada obat-obatan, diet, atau terapi alternatif yang dapat melepaskan plasenta tersebut. Tindakan bedah (caesar dan biasanya histerektomi) adalah satu-satunya metode medis yang dapat menyelamatkan nyawa.
2. Jika saya pernah operasi caesar sekali, seberapa besar kemungkinan saya terkena kondisi ini?
Risiko mengalami placenta percreta setelah satu kali operasi caesar memang meningkat sedikit dibandingkan wanita yang melahirkan normal, namun persentasenya masih relatif kecil (sekitar 0,3%). Risikonya baru akan melonjak drastis jika kamu sudah menjalani lebih dari tiga kali operasi caesar dan memiliki kondisi plasenta previa.
3. Apakah bayi saya bisa lahir dengan selamat jika saya didiagnosis placenta percreta?
Ya, peluang bayi lahir dengan selamat cukup tinggi berkat kemajuan teknologi medis dan perawatan neonatal (NICU), asalkan kondisi ini terdiagnosis jauh sebelum proses persalinan dimulai. Bayi biasanya dilahirkan secara prematur (sekitar 34-35 minggu) untuk menghindari kontraksi alami ibu yang bisa memicu pendarahan hebat.
4. Apakah rahim saya pasti harus diangkat? Bisakah saya hamil lagi?
Pada sebagian besar kasus placenta percreta, histerektomi (pengangkatan rahim) adalah tindakan penyelamatan nyawa yang wajib dilakukan karena memisahkan plasenta dari rahim akan menyebabkan pendarahan fatal. Setelah rahim diangkat, kamu tidak akan mengalami menstruasi lagi dan tidak bisa hamil di masa depan. Meskipun sangat jarang, ada terapi konservatif (meninggalkan sebagian plasenta di dalam agar terserap perlahan), namun ini membawa risiko infeksi dan pendarahan sekunder yang sangat mematikan.



