Ilegal di Indonesia, Atlet Belgia Akhiri Hidup dengan Eutanasia

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Ilegal di Indonesia, Atlet Belgia Akhiri Hidup dengan Eutanasia

Halodoc, Jakarta - Marieke Vervoort, seorang atlet paralimpiade asal Belgia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan eutanasia atau suntik mati. Wanita berusia 40 tahun ini mengidap cedera saraf tulang belakang yang menimbulkan rasa sakit terus-menerus, sehingga membuatnya kesulitan tidur. Setelah melawan rasa sakit selama hidupnya, Vervoort memutuskan untuk melakukan eutanasia dengan mendapat persetujuan dari tiga dokter yang berbeda.

Baca Juga: Awas, Cedera Saraf Tulang Belakang Bisa Berujung Kematian

Vervoort mengungkapkan bahwa dirinya tidak lagi takut mati. Menurutnya, eutanasia adalah sesuatu yang damai karena melalui prosedur ini dirinya tidak perlu merasakan sekarat dan selayaknya pergi tidur namun tidak pernah bangun kembali. Tidak semua negara melegalkan eutanasia. Sejauh ini masih banyak pro dan kontra mengenai prosedur ini. Pada kasus Vervoort, eutanasia sudah dilegalkan di Belgia. Berikut informasi seputar eutanasia yang perlu diketahui.

Apa yang Dimaksud dengan Eutanasia?

Eutanasia adalah prosedur untuk mengakhiri hidup seseorang dengan sengaja yang biasanya dilakukan untuk meringankan penderitaan. Eutanasia sering diminta oleh para pengidap penyakit terminal yang menimbulkan rasa sakit terus-menerus. Eutanasia adalah proses yang kompleks dan melibatkan penimbangan banyak faktor. Hukum wilayah setempat, kesehatan fisik dan mental, keyakinan serta keinginan pribadi semua berperan dalam pertimbangan eutanasia.

Ada beberapa jenis euthanasia yang dipilih tergantung pada berbagai faktor, termasuk pandangan dan tingkat kesadaran seseorang. Pada eutanasia biasa, dokter diizinkan untuk mengakhiri kehidupan seseorang dengan cara yang tidak menyakitkan. Misalnya, memberikan suntikan obat mematikan. Jenis lain dari eutanasia, yaitu :

  1. Physician Assisted Suicide (PAS)

Physician assisted suicide (PAS) biasanya diminta oleh pengidap yang sudah mengalami rasa sakit terus menerus dan tidak berkesudahan. Seseorang mungkin juga telah menerima diagnosis sakit parah. Melalui PAS, dokter menentukan metode yang paling efektif dan tidak menyakitkan. Dosis opioid yang mematikan dapat diresepkan untuk prosedur ini.

  1. Eutanasia Aktif

Seseorang yang ingin menjalani eutanasia dan tahu bahwa dokter akan secara langsung mengakhiri hidupnya dianggap sebagai eutanasia aktif. Eutanasia yang dikatakan aktif jika dokter dengan sengaja memberikan obat penenang dengan dosis yang mematikan dan orang tersebut sudah mengetahuinya terlebih dahulu.

Baca Juga: Penjelasan Tentang Proses Injeksi dan Manfaatnya

  1. Eutanasia Pasif

Berbeda dengan eutanasia aktif, eutanasia pasif dilakukan dengan menahan atau membatasi perawatan yang menopang kehidupan seseorang, sehingga seseorang bisa meninggal dengan lebih cepat. Seorang dokter dapat menarik atau melepas alat bantu napas (ventilator) pada pasien. Namun, hal ini membuat perbedaan antara euthanasia pasif dan perawatan paliatif buram. Perawatan paliatif berfokus untuk menjaga fungsi organ yang tersisa.

Sebagai contoh, dokter perawatan paliatif memungkinkan seseorang yang mendekati kematian untuk berhenti mengonsumsi obat untuk menimbulkan efek samping. Pada kasus lain, dokter mengizinkan seseorang untuk minum obat penghilang rasa sakit dengan dosis yang jauh lebih tinggi untuk mengobati rasa sakit yang parah. Ini sering menjadi bagian standar dari perawatan paliatif yang baik dan banyak yang tidak menganggapnya eutanasia.

  1. Eutanasia Sukarela

Jika seseorang membuat keputusan eutanasia secara sadar, maka dianggap eutanasia sukarela. Orang tersebut harus memberikan persetujuan penuh dan menunjukkan bahwa mereka sepenuhnya memahami apa yang akan terjadi.

  1. Eutanasia Non Sukarela

Eutanasia non-sukarela melibatkan orang lain untuk membuat keputusan dalam mengakhiri hidup seseorang, contohnya seperti anggota keluarga. Kondisi ini dilakukan ketika seseorang sudah tidak sadar atau lumpuh secara permanen. Eutanasia non sukarela biasanya melibatkan euthanasia pasif.  

Jika kamu punya pertanyaan lain seputar eutanasia, diskusikan saja bersama dokter Halodoc. Melalui aplikasi, kamu dapat menghubungi dokter kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call.

Mengapa Eutanasia Tidak Dilegalkan di Indonesia?

Tidak semua negara melegalkan eutanasia, contohnya Indonesia. Beberapa negara yang melegalkan eutanasia adalah Jepang, Jerman, Belanda, Kanada Belgia, beberapa negara bagian AS dan lain-lain. 

Ada banyak argumen yang mendukung dan menentang eutanasia. Sebagian besar orang menganggap bahwa eutanasia adalah pembunuhan dan tidak dapat diterima secara moral. 

Baca Juga: Olahraga Pernapasan Baik Untuk Mental, Masa Sih?

Sejauh ini banyak kelompok agama dan organisasi keagamaan berdebat menentang eutanasia karena alasan yang sama. Eutanasia hanya bisa sah jika seseorang secara mental mampu membuat pilihan. Namun, menentukan kemampuan mental seseorang tidak mudah. Ada yang menganggap bahwa dokter tidak selalu mampu untuk mengenali kapan seseorang dapat mengambil keputusan.


Referensi :

The Telegraph. Diakses pada 2019. Paralympic champion Marieke Vervoort dies by euthanasia.
Healthline. Diakses pada 2019. Euthanasia: Understanding the Facts Types.
Medical News Today. Diakses pada 2019. What are euthanasia and assisted suicide?.