Autoimun Juga Bisa Menyerang Organ Reproduksi, Ini Penjelasannya

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Autoimun Juga Bisa Menyerang Organ Reproduksi, Ini Penjelasannya

Halodoc, Jakarta – Autoimun terjadi ketika antibodi mengalami eror sehingga yang seharusnya menyerang kuman malah menyerang sel-sel tubuh sendiri. Antibodi tubuh ini bisa menyerang sistem organ maupun organ spesifik, termasuk organ reproduksi.

Siapa saja bisa terkena penyakit autoimun, tetapi wanita cenderung berisiko tinggi terutama di usia 20-50 tahun. Ini dikarenakan kadar estrogen yang dimiliki wanita dan fluktuasi hormon yang cenderung naik turun. Tidak ada pengobatan yang 100 persen bisa menyembuhkan autoimun, pola makan dan manajemen gaya hidup sejatinya bisa mengurangi gejala. Lantas, apa yang terjadi ketika penyakit autoimun menyerang organ reproduksi?

Baca juga: 4 Penyakit Autoimun yang Langka dan Berbahaya

Autoimun pada Organ Reproduksi

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, sistem kerja penyakit autoimun bisa menyerang satu atau bahkan beberapa organ sekaligus. Sama halnya bila menyerang organ reproduksi, bisa saja hanya menyerang vulva, tetapi juga bisa menyerang vulva dan ovarium. Ini juga termasuk infertilitas yang tidak bisa dijelaskan. 

Kondisi lichen sclerosus juga kerap terjadi ketika sistem imun tubuh menyerang organ reproduksi. Tanda dari lichen sclerosus adalah kemerahan, gatal yang dahsyat, bercak putih, robek, dan melepuh pada area genital. 

Walaupun lebih sering terjadi pada wanita, tetapi pria juga bisa mengalami autoimun pada organ reproduksi. Menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, penyakit peyronie juga bisa dipicu oleh kondisi autoimun. 

Biasanya, sistem kekebalan adalah cara tubuh melindungi diri dari infeksi dengan mengidentifikasi dan menghancurkan bakteri, virus, dan zat asing lain yang berpotensi berbahaya. 

Baca juga: 6 Jenis Penyakit Autoimun yang Umum Diidap oleh Pria maupun Wanita

Pria yang memiliki penyakit autoimun dapat mengembangkan penyakit peyronie ketika sistem kekebalan menyerang sel-sel di penis. Kondisi  ini dapat menyebabkan peradangan pada penis dan dapat menyebabkan jaringan parut. 

Pengobatan untuk Autoimun pada Organ Reproduksi

Sejatinya, selain mengobati penyakit yang terjadi akibat serangan antibodi tersebut, pengobatan penyakit autoimun berfokus pada pengendalian reaksi autoimun dengan obat imunosupresan. Kortikosteroid dapat digunakan untuk mengendalikan peradangan dan menekan sistem kekebalan tubuh. 

Pilihan pengobatan lain tergantung pada penyakit autoimun spesifik. Obat-obatan biologis, misalnya, sekarang umum digunakan untuk mengobati rheumatoid arthritis atau radang sendi jenis lain.

Baca juga: Hati-Hati Gejala dan Faktor Risiko Terkena Penyakit Autoimun

Hal-hal yang tidak bisa dianggap sepele adalah pengaturan pola hidup mulai dari:

  1. Makan-makanan sehat;

  2. Rutin berolahraga 30 menit per hari;

  3. Istirahat yang  cukup, tidur 6–8 jam per hari;

  4. Mengurangi stres; dan

  5. Menjadi anggota komunitas penyintas autoimun untuk mendapatkan dukungan moral

Terkait konsumsi makanan sehat sebagai kebutuhan asupan nutrisi, vitamin D ternyata memiliki peranan penting untuk penyintas autoimun. Ini dikarenakan vitamin D dapat menunjang daya tahan tubuh. 

Ini termasuk juga pembentukan dan pertahanan tulang kuat. Dalam hal mengatur sistem kekebalan tubuh, vitamin D mempunyai peranan regulasi proliferasi dan diferensiasi sel yang membantu pencegahan sel kanker. 

Mengetahui kebutuhan asupan vitamin D pada penyintas autoimun, karenanya diperlukan pemeriksaan konsentrasi vitamin D setiap 36 bulan sekali. Jenis pemeriksaan kadar Vitamin D adalah D-25OH.

Vitamin D tidak hanya bisa diperoleh pada makanan melainkan juga lewat paparan sinar matahari. Waktu terbaik untuk berjemur di sinar matahari antara pukul 912 siang. Jangan terlalu lama juga, sekira 1015 menit saja. Posisi terbaik adalah dengan membelakangi sinar matahari untuk penyerapan maksimal.

Kalau ingin tahu lebih banyak mengenai penyakit autoimun, bisa langsung tanyakan ke Halodoc. Dokter ataupun psikolog yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Referensi:
US National Library of Medicine (2019). Ovarian autoimmune disease: clinical concepts and animal models
American Family Physician (2019). Non-Neoplastic Epithelial Disorders of the Vulva
Clinical Advisor (2019). Vulvar Lichen Sclerosus: Breaking the Silence
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (2019). Penile Curvature (Peyronie’s Disease)