• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Awas, Pesimis Bisa Mengganggu Kesehatan Mental

Awas, Pesimis Bisa Mengganggu Kesehatan Mental

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
undefined

Halodoc, Jakarta - Pesimisme dapat digambarkan sebagai kecenderungan untuk berpikir negatif. Seseorang yang pesimis mungkin sering mengidentifikasi dan fokus pada aspek negatif, atau tidak menguntungkan, dari suatu situasi daripada berkonsentrasi pada apa yang benar-benar terjadi. Pesimisme adalah lawan dari optimisme, dan nyatanya hal ini akan sangat memengaruhi kesehatan mental. 

Orang pesimis biasanya mengharapkan hasil negatif dan curiga ketika segala sesuatunya berjalan dengan baik. Sementara itu, orang optimis mengharapkan hal-hal baik terjadi dan mencari silver lining ketika hidup tidak berjalan sesuai keinginan mereka.

Baca juga: Hilangkan 5 Pikiran Negatif Ini Jika Ingin Lebih Bahagia

Benarkah Pesimisme Ganggu Kesehatan Mental?

Pesimisme bukanlah sifat yang dicita-citakan oleh kebanyakan orang. Ini karena pesimisme sering dikaitkan dengan hal negatif, sikap "setengah penuh", depresi, dan gangguan suasana hati lainnya. Namun, pikiran negatif dalam dosis yang sehat tidak selalu buruk. Meskipun kamu semua sering diminta untuk tersenyum, memikirkan sisi baiknya, nyatanya itu tidak selalu disarankan atau sehat. Jika optimisme dipaksakan maka dikhawatirkan bisa menjadi sebuah toxic positivity. Faktanya, terkadang sedikit pesimisme sebenarnya adalah hal yang baik.

Mengutip Psychology Today, psikolog memandang pesimisme dan optimisme sebagai spektrum dengan masing-masing sudut pandang dan kepribadian kamu terletak di suatu tempat di sepanjang garis itu. Di kedua ujung spektrum, orang yang terlalu pesimis mungkin sengsara dan orang yang terlalu optimis juga tampaknya terlepas jauh dari kenyataan yang sebenarnya. 

Namun, tampaknya menjadi optimis sedikit memberi manfaat. Pasalnya, sebuah penelitian dari BMC Public Health menemukan bahwa pesimisme dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian akibat penyakit jantung koroner. Meski tidak ada bukti bahwa menjadi optimis akan melindungi tubuh dari penyakit, orang yang optimis biasanya cenderung menjaga diri mereka sendiri lebih baik daripada individu yang pesimis. Jadi mereka mungkin memiliki pola makan yang lebih baik, lebih banyak berolahraga, sehingga ini akan memberi efek positif untuk kesehatan fisik dan juga kesehatan mental.

Baca juga: Ternyata Lebih Baik Kegeeran daripada Pesimistis

Lantas, Bagaimana Cara Mengetahui Seseorang atau Diri Sendiri Terlalu Pesimis?

Ada beberapa tanda yang bisa menunjukkan bahwa kamu terlalu pesimis, antara lain: 

  • Merasa terkejut ketika semuanya benar-benar berhasil.
  • Tidak mengejar apa yang diinginkan karena kamu pikir mungkin akan gagal.
  • Selalu fokus pada apa yang bisa salah dalam suatu situasi.
  • Berpikir bahwa risikonya hampir selalu lebih besar daripada manfaatnya.
  • Mengalami imposter syndrome dan meremehkan kemampuan diri sendiri.
  • Cenderung fokus pada kekurangan atau kelemahan diri sendiri daripada kelebihan yang dimiliki.
  • Sering merasa kesal dengan optimisme yang dimiliki orang lain.
  • Sering berbicara tentang diri sendiri yang negatif.
  • Berasumsi bahwa semua hal baik pada akhirnya akan berakhir.
  • Merasa lebih mudah hidup dengan 'status quo' daripada mengubah keadaan menjadi lebih baik.

Meskipun kamu mungkin tidak mengalami semua hal ini atau berpikir seperti ini sepanjang waktu, orang pesimis cenderung terlibat dalam banyak jenis pemikiran ini sampai taraf tertentu.

Baca juga: 4 Cara Agar Mental Sehat dan Hidup Lebih Lama

Namun, jika kamu merasa pesimisme yang kamu miliki sudah mengganggu kesehatan mental kamu, sebaiknya ceritakan masalah yang kamu miliki ini dengan orang terdekat atau tenaga profesional seperti psikolog di Halodoc. Psikolog di Halodoc dapat dengan mudah kamu hubungi hanya dengan smartphone, dan ia pastinya akan menjadi teman curhat dan pemberi saran yang baik untuk meningkatkan kesehatan mentalmu.

Referensi:
Psychology Today. Diakses pada 2020. Pessimism.
The Guardian. Diakses pada 2020. Is Pessimism Really Bad for You?
Very Well Mind. Diakses pada 2020. What Is Pessimism?