Awas, Pheochromocytoma Bisa Picu Tekanan Darah Tinggi

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Awas, Pheochromocytoma Bisa Picu Tekanan Darah Tinggi

Halodoc, Jakarta – Pheochromocytoma adalah jenis tumor yang bisa memengaruhi salah satu atau kedua kelenjar adrenalinmu. Jika seseorang memiliki pheochromocytoma, tumor ini dapat melepaskan hormon yang menyebabkan tekanan darah tinggi episodik atau persisten. 

Bila tidak diobati, pheochromocytoma dapat mengakibatkan kerusakan parah atau mengancam jiwa dan mengganggu sistem tubuh lainnya, terutama sistem kardiovaskular. Kebanyakan orang dengan pheochromocytoma berusia antara 20–50 tahun. Namun, tumor ini dapat berkembang pada usia berapa pun. Ingin tahu lebih lanjut mengenai kondisi ini baca lanjutannya di sini!

Baca juga: Kenali Perbedaan Tumor dan Kanker

Perawatan Pheochromocytoma

Perawatan bedah bisa dilakukan untuk menghilangkan pheochromocytoma. Dan bila ini dilakukan biasanya dapat mengembalikan tekanan darah menjadi normal. Tanda dan gejala pheochromocytoma adalah sebagai berikut:

  1. Tekanan darah tinggi.

  2.  Keringat dalam jumlah banyak.

  3. Sakit kepala.

  4. Detak jantung cepat (takikardia).

  5. Tremor.

  6. Wajah yang memucat.

  7. Nafas pendek (dispnea).

  8. Kecemasan.

  9. Sembelit.

  10. Penurunan berat badan.

Bagaimana pheochromocytoma dapat terjadi? Tumor berkembang dalam sel-sel khusus yang disebut sel chromaffin yang terletak di pusat kelenjar adrenal. Sel-sel ini melepaskan hormon tertentu, terutama adrenalin (epinefrin) dan noradrenalin (norepinefrin), yang membantu mengendalikan banyak fungsi tubuh, seperti detak jantung, tekanan darah, dan gula darah.

Adrenalin dan noradrenalin adalah hormon yang memicu respons pertarungan atau pelarian tubuh terhadap ancaman yang dirasakan. Hormon-hormon itu memicu tekanan darah tinggi, detak jantung yang lebih cepat, dan dorongan pada sistem tubuh lain yang memungkinkan tubuh bereaksi dengan cepat. 

Pheochromocytoma menghasilkan pelepasan hormon-hormon ini secara tidak teratur dan berlebihan. Sementara sebagian besar sel chromaffin berada di kelenjar adrenal, kelompok kecil sel-sel ini juga ada di jantung, kepala, leher, kandung kemih, dinding belakang perut dan sepanjang tulang belakang. Tumor dalam sel chromaffin ini yang disebut paraganglioma, dapat menghasilkan efek yang sama pada tubuh.

Baca juga: 5 Jenis Kanker yang Sering Anak di Dunia

Komplikasi tekanan darah tinggi dapat merusak banyak organ, terutama jaringan sistem kardiovaskular, otak, dan ginjal. Tekanan darah tinggi yang tidak diobati yang terkait dengan pheochromocytomas dapat menyebabkan sejumlah kondisi kritis, termasuk:

  1. Penyakit jantung.

  2. Stroke.

  3. Gagal ginjal.

  4. Gangguan pernapasan akut.

  5. Kerusakan saraf mata.

Sel kanker dari pheochromocytoma atau paraganglioma paling sering bermigrasi ke sistem getah bening, tulang, hati atau paru-paru. Kalau kamu butuh informasi lebih jelas mengenai hal ini, bisa tanyakan langsung ke Halodoc

Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat kapan dan di mana saja.

Perawatan utama untuk pheochromocytoma adalah pembedahan untuk mengangkat tumor. Sebelum menjalani operasi, dokter akan meresepkan obat tekanan darah spesifik yang menghalangi hormon adrenalin untuk meningkat, sehingga menurunkan risiko terkena tekanan darah tinggi berbahaya selama operasi.

Dalam kebanyakan kasus, seluruh kelenjar adrenal dengan pheochromocytoma dihilangkan dengan operasi laparoskopi atau invasif. Kelenjar adrenal sehat yang tersisa dapat berfungsi seperti layaknya kondisi normal. 

Jika tumor bersifat kanker (ganas), efektivitas operasi mungkin bergantung pada pengangkatan tumor dan semua jaringan kanker. Perawatan untuk tumor ganas biasanya dilakukan dengan terapi radiasi untuk membunuh sel kanker. Sementara itu, kemoterapi adalah penggunaan obat yang dapat membunuh sel kanker yang tumbuh dengan cepat.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Pheochromocytoma.
Cancer.Net. Diakses pada 2019. Pheochromocytoma and Paraganglioma: Symptoms and Signs.