• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Awas, Solusio Plasenta Sebabkan Malnutrisi pada Janin

Awas, Solusio Plasenta Sebabkan Malnutrisi pada Janin

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
 Awas, Solusio Plasenta Sebabkan Malnutrisi pada Janin

Halodoc, Jakarta - Masalah kehamilan sebenarnya tidak hanya melulu seputar morning sickness, pegal-pegal, kram, sembelit, atau kekurangan air ketuban saja. Apa bumil pernah mendengar masalah kehamilan bernama solusio plasenta?

Solusio plasenta terjadi ketika lepasnya plasenta dari dinding rahim bagian dalam sebelum proses persalinan. Plasenta yang terlepas ini bisa sebagian atau seluruhnya. Kasus solusio plasenta jarang terjadi, namun kondisi ini menjadi komplikasi kehamilan serius yang mesti ditangani dengan cepat dan tepat. 

Lantas, apa sih dampak solusio plasenta pada ibu dan janin? 

Baca juga: Pada Usia Kehamilan ke Berapa Solusio Plasenta Terjadi?

Dampak Pada Ibu dan Janin

Sudah tahu peran plasenta saat masa kehamilan? Plasenta memiliki fungsi vital selama masa kehamilan. Organ ini yang memberikan nutrisi dan oksigen pada janin di dalam kandungan. Lalu, apa dampaknya pada janin? 

Menurut National Institutes of Health, solusio plasenta bisa menimbulkan masalah serius pada bayi. Kondisi ini bisa menyebabkan kurangnya asupan oksigen dan nutrisi pada bayi. Nah, hal ini yang memicu terhambatnya pertumbuhan janin akibat kekurangan nutrisi. 

Selain berakibat fatal pada bayi, dampak solusio plasenta pada bumil juga tidak kalah bahayanya. Pada beberapa kasus, solusio plasenta bisa menyebabkan perdarahan hebat pada ibu hamil. Komplikasi solusio plasenta juga dapat berupa: 

  • Syok hipovolemik akibat kehilangan darah.
  • Gangguan pembekuan darah.
  • Gagal ginjal, atau kegagalan fungsi organ tubuh lainnya. 

Baca juga: Solusio Plasenta Bisa Sebabkan Syok Saat Persalinan

Perdarahan hingga Gerakan Bayi

Sebenarnya, ada waktu-waktu tertentu yang membuat ibu rawan mengalami solusio plasenta. Misalnya, di usia kehamilan di atas enam bulan (trimester ketiga), terutama beberapa pekan sebelum proses persalinan. Lantas, seperti apa gejala-gejala solusio plasenta yang biasanya dialami pengidapnya? 

  1. Perdarahan pada vagina.
  2. Kontraksi yang menyakitkan.
  3. Kram atau nyeri perut.
  4. Rasa nyeri pada punggung.
  5. Rahim terasa sakit.
  6. Kelainan denyut jantung janin.
  7. Gerakan bayi dalam kandungan menjadi kurang aktif. 

Andaikan bumil mengalami gejala-gejala di atas, segeralah temui dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Kamu bisa bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc untuk mengetahui lebih jauh mengenai solusio plasenta. 

Baca juga: Inilah Langkah Diagnosis Solusio Plasenta

Beragam Faktor Pemicunya

Penyebab pasti dari solusio plasenta belum diketahui secara persis. Namun, para ahli menduga terdapat beberapa faktor yang meningkatkan risiko terjadinya solusio plasenta pada bumil. Misalnya: 

  • Riwayat solusio plasenta pada kehamilan sebelumnya.
  • Tekanan darah tinggi jangka panjang (kronis).
  • Tekanan darah tinggi mendadak pada wanita hamil, yang memiliki tekanan darah normal di masa lalu (preeklamsia atau eklamsia).
  • Penyakit jantung.
  • Memiliki kebiasaan merokok
  • Penggunaan alkohol atau kokain.
  • Fibroid di rahim.
  • Cedera (seperti tabrakan mobil atau jatuh yang membentur perut)
  • Berusia lebih dari 40 tahun.

Nah, solusio plasenta adalah masalah kehamilan yang sangat serius. Oleh sebab itu, sebaiknya ibu perlu memeriksakan kehamilan secara rutin ke dokter kandungan. Tujuannya untuk mengetahui perkembangan janin, sekaligus mendeteksi kondisi yang tidak normal pada ibu dan bayi di dalam kandungan. 

Untuk lebih mudahnya ibu bisa memeriksakan diri ke rumah sakit pilihan. Sebelumnya, buat janji dengan dokter di aplikasi Halodoc sehingga tidak perlu mengantre sesampainya di rumah sakit. Praktis, kan? 

Referensi:
National Institutes of Health - MedlinePlus. Diakses pada 2020. Placenta abruptio
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Placental abruption
Healthline. Diakses pada 2020. What Is Placental Abruption?