• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Awas, Tanpa Sadar Orangtua Ajari Stereotype Sejak Kecil

Awas, Tanpa Sadar Orangtua Ajari Stereotype Sejak Kecil

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), stereotip merupakan konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat. Dalam hal ini, bisa dicontohkan melalui jenis kelamin, yang disebut dengan stereotip gender. Hal ini yang kerap diajarkan orangtua pada anak sedari kecil. Tanpa sadar, anak-anak tumbuh sesuai dengan stereotip yang ditetapkan orang tua.

Dalam hal ini, pengenalan gender pada anak dibutuhkan. Belajar dapat dilakukan dengan menjelaskan jenis kelamin yang telah terbentuk secara biologis melalui hormon, kromosom, dan organ reproduksi. Stereotip tipe ini biasanya mengacu pada perbedaan perempuan dan laki-laki yang dibentuk oleh lingkungan, budaya, dan adat istiadat. Tak hanya jenis kelamin, stereotip gender juga meliputi perilaku, tanggung jawab, peran, dan pembagian tugas antara perempuan dan laki-laki.

Baca juga: Mitos atau Fakta Masalah pada Otak Sebabkan Paraplegia

Gender sendiri meliputi sifat, perilaku, peran, tanggung jawab, dan tugas antara laki-laki dan perempuan. Selain faktor biologis, gender ditentukan oleh anggapan masyarakat, norma yang berlaku, pola asuh, juga media. Pengenalan gender akan berpengaruh pada konsep diri seorang anak, untuk menentukan jati dirinya sebagai laki-laki atau perempuan. Hal-hal tersebut yang membuat orangtua tanpa sadar mengajari stereotip pada anak-anak mereka sejak kecil. Berikut penjelasannya:

  1. “Laki-laki kok suka main masak-masakan, sih?” atau “perempuan kok main mobil-mobilan?”. Apakah ibu pernah melontarkan atau mendengar kalimat itu? Kalimat subjektif tersebut akan berkembang pada otak anak yang kemudian menjadi hal yang tidak boleh mereka lakukan.

  2. “Anak cowok kok ngerjain gitu aja gak bisa, sih?”. Anak laki-laki atau perempuan mereka membutuhkan bantuan ibu. Karenanya ibu perlu mengajarkan mereka bahwa pria menjadi maskulin dan membutuhkan bantuan orang lain bukanlah masalah besar. Sama halnya dengan anak perempuan yang feminin, tapi bisa menjadi kuat dan mandiri.

Hal-hal seperti itu tentu sering tidak sengaja terlontar dari mulut. Dalam hal ini, ibu bisa bertanya langsung dengan psikolog ahli di aplikasi Halodoc tentang apa yang boleh dan tidak boleh dalam mendidik anak.

Baca juga: Tingkat Kesejahteraan Ekonomi Bisa Pengaruhi Obesitas

Ajari Hal-Hal yang Benar

Dalam mengajarkan apa yang benar dan salah, ibu dapat menjawab semua pertanyaan Si Kecil dengan jawaban yang sebenarnya. Namun, gunakanlah kata-kata yang sederhana, sehingga lebih mudah dimengerti. Tidak perlu membohonginya, karena hal tersebut anak bisa saja memiliki pemahaman yang keliru akan suatu hal. 

Jangan lupa untuk mengenalkan gender pada anak sejak dini. Pasalnya, pembentukan konsep diri yang dibentuk sejak kecil akan memengaruhi kepribadian dan perilakunya saat dewasa nanti. Jangan lupa juga untuk memperkenalkan perbedaan kedua gender secara tepat, sebab hal ini akan tersimpan dalam memori jangka panjangnya.

Baca juga: Anak yang Gemuk Berisiko Obesitas saat Dewasa

Mengapa Hal Tersebut Sangat Penting Dilakukan?

Pengenalan gender sejak dini merupakan hal penting dilakukan, agar anak tidak terjebak dalam stigma yang salah. Seperti halnya dengan warna, masyarakat umum telah terpaku dengan beberapa warna tertentu dikhususkan untuk gender tertentu. Hal yang perlu ibu tanamkan adalah, gender lebih mengajarkan anak mengenai peran yang harus dilakukan saat dewasa nanti dan tanggung jawab yang akan mereka emban.

Tak hanya warna, orangtua juga kerap melarang anak perempuan atau laki-laki untuk bermain mainan tertentu. Anak perempuan dan laki-laki perlu bermain boneka, hanya saja bentuknya yang berbeda. Anak perempuan akan menganggap boneka sebagai anak mereka, sedangkan anak laki-laki cenderung menyukai boneka binatang atau action figure. Penting bagi orangtua untuk mengenalkan hal-hal yang baik mengenai gender, agar anak tidak terlanjur merasa nyaman pada kondisi yang salah.

Referensi:
Parents. Diakses pada 2019. 4 Things You Should Know About Gender Stereotypes in Kids' Toys.
Encyclopedia of Early Childhood Development. Diakses pada 2019. Parents’ Socialization of Gender in Children.