• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Bagaimana Cara Membedakan Gejala Paronikia Akut dan Kronis?
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Bagaimana Cara Membedakan Gejala Paronikia Akut dan Kronis?

Bagaimana Cara Membedakan Gejala Paronikia Akut dan Kronis?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim : 12 November 2020
Bagaimana Cara Membedakan Gejala Paronikia Akut dan Kronis?

Halodoc, Jakarta – Paronikia adalah infeksi kulit yang terjadi di sekitar kuku jari tangan dan jari kaki. Infeksi ini biasanya disebabkan oleh bakteri atau sejenis jamur yang disebut Candida. 

Berdasarkan kecepatan terjadinya infeksi (onset), durasi, dan agen penyebab infeksi, paronikia bisa dibedakan menjadi paronikia akut atau kronis. Penting untuk mengetahui perbedaan antara paronikia akut dan kronis agar kamu bisa menentukan pengobatan yang tepat.

Paronikia Akut dan Paronikia Kronis

Paronikia akut hampir selalu terjadi di sekitar kuku dan berkembang dengan cepat. Infeksi ini biasanya terjadi akibat kerusakan pada kulit di sekitar kuku karena kebiasaan menggigit, mencabut, menggunting kuku, melakukan manikur atau trauma fisik lainnya. Bakteri Staphylococcus dan Enterococcus adalah agen infeksi yang umumnya menyebabkan paronikia akut.

Sementara itu, paronikia kronis dapat terjadi pada jari tangan atau jari kaki dan muncul secara perlahan. Infeksi ini berlangsung selama beberapa minggu dan sering muncul kembali. Paronikia kronis biasanya disebabkan oleh lebih dari satu agen infeksi dan seringkali oleh jamur candida dan bakteri. 

Orang-orang yang pekerjaannya mengharuskan untuk bersentuhan dengan air dalam waktu lama, seperti pencuci piring, bartender, dan asisten rumah tangga lebih berisiko untuk terkena paronikia kronis.

Hal itu karena kulit yang basah secara kronis dan tangan atau kaki yang terendam dalam air terlalu lama dapat merusak pelindung alami kutikula, sehingga memungkinkan jamur dan bakteri untuk bertumbuh dan masuk ke bawah kulit untuk menyebabkan infeksi. Paronikia akut lebih sering terjadi daripada paronikia kronis.

Baca juga: Dampak Buruk Kebiasaan Menggigit Kuku untuk Kesehatan

Perbedaan Penyebab Paronikia Akut dan Paronikia Kronis

Pada paronikia akut, bakteri (biasanya Staphylococcus aureus atau streptococci) masuk melalui luka di kulit akibat hangnail (sepotong kulit kecil yang robek di dekat kuku jari), trauma pada lipatan kuku, hilangnya kutikula, atau iritasi kronis (seperti yang disebabkan oleh air dan deterjen). 

Paronikia akut pada jari tangan sering terjadi pada orang yang punya kebiasaan menggigit atau menghisap jari mereka. Sementara paronikia akut pada jari kaki sering disebabkan oleh kuku kaki yang tumbuh ke dalam.

Beberapa obat baru yang digunakan untuk mengobati jenis kanker tertentu atau obat untuk menekan sistem kekebalan yang biasanya digunakan setelah transplantasi organ, juga terkadang dapat menyebabkan paronikia akut.

Sementara paronikia kronis hampir selalu dialami oleh orang yang tangannya selalu dalam keadaan basah, apalagi bila mereka mengidap eksim tangan, diabetes atau sistem kekebalan. Selain karena jamur Candida, paronikia kronis mungkin juga bisa disebabkan oleh peradangan kulit yang mengiritasi (dermatitis).

Baca juga: Main Arung Jeram, Hati-Hati Kutu Air

Gejala Paronikia

Gejala paronikia akut dan kronis sangat mirip, yang membedakannya hanya kecepatan terjadinya infeksi dan lamanya infeksi berlangsung. Berikut gejala paronikia akut dan kronis:

  • Kulit di sekitar kuku memerah.
  • Kulit di sekitar kuku menjadi lembut.
  • Muncul lepuh berisi nanah.
  • Perubahan bentuk, warna, atau tekstur kuku.
  • Lepasnya kuku.

Cara Mengobati Paronikia Akut dan Kronis

Pengobatan untuk paronikia akut dan kronis juga berbeda. Pada paronikia akut yang masih dalam tahap awal, konsumsi antibiotik dapat mengatasi kondisi tersebut. Selain itu, kamu dianjurkan untuk sering membasahi area kulit yang terinfeksi dengan air hangat untuk meningkatkan aliran darah.

Bila ada nanah yang menumpuk, maka harus dikeringkan. Dokter dapat melakukan drainase nanah dengan cara membius jari tangan atau kaki dengan anestesi lokal dan mengangkat lipatan kuku dengan alat. Lalu, sumbu kain kasa yang tipis dapat dipasang selama 24-48 jam untuk mengeringkan area tersebut.

Sementara pengobatan paronikia kronis dapat meliputi pemberian krim kortikosteroid, atau kadang-kadan suntikan kortikosteroid ke dalam lipatan kuku, pemberian obat antijamur, dan pada beberapa kasus, operasi mungkin perlu dilakukan.

Selain itu, penting bagi kamu yang mengalami paronikia kronis untuk menjaga tangan tetap kering dan terlindungi agar kutikula dapat terbentuk kembali dan ruang antara lipatan kuku dan lempeng kuku tertutup.

Baca juga: Penanganan yang Dilakukan saat Alami Jamur Kuku

Nah, itulah penjelasan mengenai perbedaan paronikia akut dan kronis. Bila kamu mengalami paronikia akut atau kronis, kamu bisa berobat ke dokter dengan buat janji melalui aplikasi Halodoc. Jangan lupa download dulu aplikasinya ya di App Store dan Google Play.

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2020. Paronychia.
MSD Manual. Diakses pada 2020. Acute Paronychia.
MSD Manual. Diakses pada 2020. Chronic Paronychia.