Bagaimana Cara Mencegah Pheochromocytoma?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Bagaimana Cara Mencegah Pheochromocytoma?

Halodoc, Jakarta – Meski tergolong langka dan bersifat jinak, tumor akibat pheochromocytoma tetap perlu diwaspadai. Tumor jenis ini dapat memengaruhi salah satu atau kedua kelenjar adrenalin dengan cara melepaskan hormon, sehingga pengidapnya mengalami tekanan darah tinggi episodik atau persisten. Adakah cara untuk mencegah pheochromocytoma?

Karena penyebab pastinya belum diketahui, pheochromocytoma terbilang sulit untuk dicegah. Langkah pencegahan yang mungkin dianjurkan dokter hanya bertujuan untuk menurunkan risiko timbulnya komplikasi. Oleh karena itu, jika kamu mengalami tekanan darah tinggi yang tak kunjung normal, waspadai kemungkinan pheochromocytoma dengan mendiskusikan lebih lanjut gejala-gejala yang dialami dengan dokter. 

Baca Juga: Hipertensi Sekunder dan Hipertensi Primer, Apa Bedanya?

Sekarang, diskusi dengan dokter bisa dilakukan kapan dan di mana saja pada aplikasi Halodoc, lewat fitur Chat atau Voice/Video Call. Jika ingin melakukan pemeriksaan langsung, kamu juga bisa buat janji dengan dokter di rumah sakit di aplikasi Halodoc. Jadi, pastikan kamu sudah download aplikasinya di ponselmu, ya.

Gejala Pheochromocytoma yang Perlu Diwaspadai

Karena dapat memengaruhi dan mengacaukan berbagai sistem tubuh, pheochromocytoma dapat menimbulkan banyak gejala. Secara umum, gejala yang ditimbulkan oleh pheochromocytoma adalah:

  • Tekanan darah tinggi yang persisten atau terus-menerus.
  • Keringat berat.
  • Sakit kepala.
  • Detak jantung cepat (takikardia).
  • Tremor.
  • Wajah pucat.
  • Nafas pendek (dispnea).
  • Mengalami gangguan kecemasan.
  • Sembelit.
  • Penurunan berat badan.

Baca Juga: Harus Tahu, Bedanya Kanker dan Tumor

Penyebab Pheochromocytoma Belum Diketahui Secara Pasti

Hingga saat ini, penyebab pasti dari pheochromocytoma belum diketahui. Namun, munculnya tumor jinak ini diduga memiliki kaitan riwayat pheochromocytoma yang diidap oleh anggota keluarga. Dalam perkembangannya, tumor ini dapat menyebar ke bagian lain dari tubuh, termasuk organ hati, paru-paru, dan tulang. 

Munculnya pheochromocytoma juga dapat dipengaruhi oleh beberapa riwayat penyakit atau kelainan bawaan seperti:

  • Neoplasia endokrin multipel, tipe II.
  • Penyakit Von Hippel-Lindau.
  • Neurofibromatosis 1 (NF1).
  • Sindrom paraganglioma herediter.

Selain beberapa penyakit tersebut, ada juga beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko pheochromocytoma, yaitu:

  • Kelelahan.
  • Stres atau cemas.
  • Persalinan.
  • Perubahan posisi tubuh.
  • Tindakan operasi dan obat bius.
  • Penyalahgunaan NAPZA, seperti amfetamin dan kokain.
  • Mengonsumsi makanan yang tinggi tyramine (zat yang dapat mengubah tekanan darah), seperti makanan yang difermentasi, diawetkan, diasamkan, terlalu matang, seperti keju, bir, wine, coklat, dan daging asap.

Baca Juga: Begini Cara Mendeteksi Tumor Ganas dan Tumor Jinak

Komplikasi yang Mungkin Ditimbulkan Pheochromocytoma

Pheochromocytoma yang tidak segera diobati dapat mengakibatkan kerusakan parah hingga mengancam jiwa, karena memengaruhi sistem tubuh lainnya. Tingginya tekanan darah dalam jangka panjang dapat berisiko merusak berbagai organ, terutama jaringan sistem kardiovaskular, otak dan ginjal. Beberapa kondisi medis serius yang dapat ditimbulkan pheochromocytoma yang tidak ditangani adalah:

  • Penyakit jantung.
  • Stroke.
  • Gagal ginjal.
  • Gangguan pernapasan akut.
  • Kerusakan saraf mata.
  • Tumor kanker (ganas).

Selain itu, pheochromocytoma juga dapat berkembang menjadi kanker (ganas), yaitu ketika sel-sel kanker menyebar ke bagian lain dari tubuh (bermetastasis). Sel kanker dari pheochromocytoma atau paraganglioma paling sering menjalar dan berkembang pada sistem getah bening, tulang, hati atau paru-paru. Namun, komplikasi jenis ini sangat jarang terjadi.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Pheochromocytoma.
WebMD. Diakses pada 2019. Pheochromocytoma. What Is Pheochromocytoma?.