• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Bagaimana Cara Mendeteksi Gangguan Disosiatif?

Bagaimana Cara Mendeteksi Gangguan Disosiatif?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta - Pernah merasakan suatu ketidakpastian tentang identitas diri atau merasa ada identitas lain dengan nama, latar belakang, dan karakter yang berbeda dari dalam dirimu? Hati-hati, karena kondisi ini mengarah pada gangguan disosiatif, atau dahulu lebih dikenal dengan sebutan gangguan kepribadian ganda. 

Umumnya, identitas diri yang bukan merujuk pada diri yang asli disebut dengan alter. Pengidap yang menyadari adanya alter ini terkadang menyebut diri sebagai “kami” atau “kita”. Sering kali, kondisi ini menjadi cara pengidap untuk menyelamatkan diri dari trauma yang mereka alami.

Ya, gangguan disosiatif sering kali terjadi sebagai mekanisme pertahanan diri secara psikologis untuk mengatasi trauma, bisa karena pelecehan fisik, seksual, hingga emosional yang terjadi ketika masa kanak-kanak atau berbagai peristiwa traumatis lainnya. Namun, faktor lingkungan ternyata turut berperan meski ini jarang ditemui, seperti stres. 

Baca juga: Kenali 3 Jenis Gangguan Disosiatif yang Dapat Terjadi

Mengenali Gejala Gangguan Disosiatif

Ciri utama pengidap gangguan disosiatif adalah perubahan diri pengidap dari satu identitas ke identitas lainnya, dengan karakter dan kepribadian yang jauh berbeda dengan identitas aslinya. Biasanya, identitas yang dimiliki bisa lebih dari dua, bahkan ada pula yang memiliki 23 identitas lain dalam dirinya. Gejala lain yang bisa kamu perhatikan termasuk:

  • Menunjukkan perilaku yang berbeda dengan karakter asli;
  • Adanya memori yang tidak mampu diingat saat menjalani aktivitas sehari-hari;
  • Merasa asing dengan keadaan diri sendiri;
  • Mampu menulis dengan berbagai macam gaya penulisan;
  • Merasa seperti ada orang lain dalam tubuh mereka;
  • Biasanya menyebut diri sendiri sebagai kami atau kita.

Baca juga: Gangguan Disosiatif Bisa Sebabkan Gangguan Ingatan

Gejala-gejala yang tidak segera mendapatkan penanganan biasanya memunculkan dampak yang cenderung negatif, baik diri sendiri maupun orang lain. Dampak ini termasuk:

  • Kecemasan berlebihan, serangan panik, hingga fobia;
  • Gejala yang menunjukkan psikosis;
  • Mengalami gangguan makan;
  • Tidak mampu mengendalikan emosi dengan baik;
  • Depresi berlebihan dan keinginan untuk mengakhiri hidup;
  • Menunjukkan perilaku yang kompulsif;
  • Mengalami gangguan tidur.

Sebenarnya, gejala dari gangguan disosiatif bisa sembuh jika mendapatkan penanganan segera. Jadi, jika kamu mendapati adanya lebih dari satu identitas dalam dirimu, segera lakukan penanganan. Kamu bisa menceritakan apa yang kamu rasakan pada psikolog di aplikasi Halodoc. Penanganan pertama akan membantu meringankan gejalanya sebelum kamu melanjutkan terapi. 

Baca juga: Gejala Fisik yang Terjadi saat Alami Gangguan Disosiatif

Mendeteksi Gangguan Disosiatif pada Seseorang

Lantas, bagaimana ganggua jiwa ini dideteksi? Berdasarkan keterangan yang tertulis dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM), seseorang didiagnosis mengidap gangguan disosiatif apabila:

  • Memiliki setidaknya dua identitas diri yang berbeda. Setiap identitas menunjukkan karakter, pola pikir, dan pola perilaku yang berbeda.
  • Mengalami amnesia yang diartikan sebagai hilangnya memori tentang aktivitas sehari-hari, informasi pribadi yang cukup penting, atau kejadian dan pengalaman traumatis yang pernah dialami.
  • Pengidap harus menunjukkan rasa terganggu dengan apa yang mereka alami dan mengalami kesulitan dalam salah satu aspek kehidupannya, seperti aspek pekerjaan, hubungan, atau aspek sosial.
  • Masalah yang dialami bukan termasuk praktik ilegal keagamaan atau tradisi dari lingkungan tempat tinggal.
  • Gejala yang muncul bukan mengarah pada efek fisiologis akibat penggunaan zat tertentu, seperti alkohol, maupun kondisi medis khusus, misalnya kejang

Dokter akan melakukan diagnosis dengan cara wawancara atau melakukan pemeriksaan fisik dan masalah medis lain yang mungkin pernah dialami, seperti trauma pada kepala, gangguan tidur, maupun efek samping dari penggunaan obat tertentu. Selanjutnya, barulah ditentukan bagaimana pengidap gangguan disosiatif mendapatkan penanganan.

Referensi: 
American Psychiatric Association. Diakses pada 2020. What Are Dissociative Disorder?
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Dissociative Disorders.
WebMD. Diakses pada 2020. Dissociative Identity Disorder (Multiple Personality Disorder).