Bagaimana Cara Mengobati Pheochromocytoma?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Bagaimana Cara Mengobati Pheochromocytoma?

Halodoc, Jakarta - Dapat mengganggu kerja hormon dan memicu tekanan darah tinggi, pheochromocytoma adalah tumor jinak yang tumbuh di bagian tengah kelenjar adrenal. Meski kebanyakan bersifat jinak, tumor pheochromocytoma juga bisa bersifat ganas. Bahkan yang sifatnya jinak sekalipun, jika tidak diobati dengan benar, kondisi ini bisa berpotensi merusak jantung, otak, paru-paru, dan ginjal. Lalu, bagaimana cara mengobati pheochromocytoma?

Inilah Cara Mengobati Pheochromocytoma

Untuk mengobati pheochromocytoma, operasi merupakan metode utama yang bisa dipilih. Metode ini juga dilakukan untuk mengurangi produksi hormon berlebih, sehingga tekanan darah bisa berangsur stabil. Dalam pelaksanaannya, biasanya dokter akan melakukan pengangkatan tumor atau keseluruhan kelenjar adrenal dengan metode laparoskopi. Metode laparoskopi merupakan teknik pembedahan dengan sayatan kecil, menggunakan alat khusus yang dilengkapi kamera. 

Baca Juga: Begini Cara Mendeteksi Tumor Ganas dan Tumor Jinak

Namun, selama 7-10 hari sebelum operasi, dokter umumnya akan memberikan obat-obatan untuk menghentikan kerja hormon adrenalin, agar tekanan darah pengidap bisa lebih stabil selama operasi. Obat-obatan yang bisa diberikan adalah:

  • Obat penghambat alfa. Obat ini berguna untuk meningkatkan aliran darah, sekaligus menurunkan tekanan darah. Contoh obat jenis ini adalah doxazosin.

  • Obat penghambat beta. Obat ini dapat membuat jantung berdetak lebih pelan dan membantu pembuluh darah terbuka serta lebih relaks. Contoh obat jenis ini adalah atenolol, metoprolol, dan propranolol.

Penggunaan obat penghambat alfa dan beta tersebut dapat membantu turunkan tekanan darah pada pengidap pheochromocytoma. Oleh karena itu, mereka perlu mengonsumsi makanan tinggi garam untuk mencegah terlalu rendahnya tekanan darah selama dan sesudah operasi.

Namun, jika tumor pheochromocytoma tergolong ganas dan tidak dapat diangkat melalui operasi, metode pengobatan lain seperti radioterapi dan kemoterapi perlu dilakukan. Lebih jelasnya, kamu bisa mengobrol dengan dokter tentang pheochromocytoma dan pilihan pengobatan terbaiknya melalui aplikasi Halodoc, lewat fitur Chat atau Voice/Video Call.

Baca juga: 3 Komplikasi yang Disebabkan oleh Tumor Wilms

Seperti Apa Gejala Pheochromocytoma?

Pada beberapa kasus, pheochromocytoma bisa tidak menimbulkan gejala tertentu. Namun, saat penyakit ini menyebabkan peningkatan produksi hormon di kelenjar adrenal, akan timbul gejala seperti:

  • Sakit kepala;

  • Jantung berdebar;

  • Tekanan darah tinggi;

  • Keringat berlebih;

  • Pucat;

  • Mual dan muntah;

  • Sembelit;

  • Merasa cemas;

  • Sulit tidur;

  • Penurunan berat badan;

  • Nyeri pada perut atau dada;

  • Sesak napas;

  • Kejang.

Semakin besar ukuran tumor, gejala yang muncul bisa semakin berat dan semakin sering muncul. Oleh karena itu jika mengalami gejala-gejala tersebut, jangan ragu untuk periksakan diri ke dokter, ya. Untuk melakukan pemeriksaan, kini kamu bisa langsung buat janji dengan dokter di rumah sakit melalui aplikasi Halodoc, lho. Jadi, pastikan kamu sudah download aplikasinya di ponselmu, ya.

Hal-Hal yang Dapat Menyebabkan Pheochromocytoma

Hingga saat ini, belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan tumbuhnya tumor pada kelenjar adrenal. Namun, penyakit ini umum terjadi pada orang-orang dengan kelainan genetik yang diturunkan dalam keluarga, seperti:

  • Multiple endocrine neoplasia type 2(MEN2);

  • Neurofibromatosis tipe 1;

  • Sindrom paraganglioma;

  • Penyakit von Hippel-Lindau.

Baca juga: 5 Jenis Tumor Tulang Jinak yang Perlu Diketahui

Selain itu, ada beberapa faktor lain yang dapat memicu timbulnya gejala pada pengidap pheochromocytoma, yaitu:

  • Kelelahan;

  • Stres atau cemas;

  • Persalinan;

  • Perubahan posisi tubuh;

  • Tindakan operasi dan obat bius;

  • Penyalahgunaan NAPZA, seperti amfetamin dan kokain.

  • Konsumsi makanan yang tinggi tyramine (zat yang dapat mengubah tekanan darah), seperti makanan yang difermentasi, diawetkan, diasamkan, terlalu matang, seperti keju, bir, wine, coklat, dan daging asap.

Referensi:

Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Pheochromocytoma

WebMD. Diakses pada 2019. What Is Pheochromocytoma?

Medical News Today. Diakses pada 2019. What's to know about pheochromocytoma?