• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Bagaimana Cara Penularan Flu Singapura?

Bagaimana Cara Penularan Flu Singapura?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim

Halodoc, Jakarta – Menjaga imunitas tubuh menjadi cara yang efektif untuk mencegah tubuh terpapar penyakit yang disebabkan oleh berbagai macam virus, salah satunya adalah penyakit flu Singapura. Penyakit flu Singapura atau dikenal dengan hand, foot, and mouth disease adalah salah satu penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh paparan virus.

Baca juga: Siapa yang Paling Rentan Terserang Flu Singapura?

Meskipun penyakit ini umum menyerang anak-anak, orang dewasa rentan mengalami kondisi ini, apalagi jika daya tahan tubuhnya sedang rendah. Penyakit flu Singapura menjadi penyakit yang mudah menyebar. Ketahui cara penularan flu Singapura agar pencegahan terhadap penyakit ini dapat dilakukan.

Ketahui Penularan Flu Singapura

Penyakit flu Singapura menjadi salah satu penyakit yang disebabkan oleh virus enterovirus. Virus enterovirus dapat bertahan hidup pada cairan hidung, cairan tenggorokan, air ludah, feses, dan cairan yang muncul dari ruam kulit. Penularan flu Singapura juga rentan terjadi. Melansir dari Healthline, penyakit flu Singapura mudah menular dari pengidap ke orang lain yang sehat. Ada beberapa kondisi yang membantu penyebaran virus atau penularan penyakit flu Singapura, seperti:

  1. Melakukan kontak fisik dengan pengidap flu Singapura secara langsung sehingga rentan menyentuh cairan tubuh pengidapnya.

  2. Mengonsumsi makanan atau minuman bersama dengan pengidap flu Singapura.

  3. Menyentuh barang yang terkontaminasi virus enterovirus akibat paparan cairan tubuh pengidap yang bersin atau batuk.

Itulah cara penularan yang mungkin terjadi antara pengidap flu Singapura dengan orang lain. Sebaiknya jika kamu tinggal bersama pengidap flu Singapura, jangan lupa untuk rutin cuci tangan dan menggunakan masker medis agar kamu tidak rentan tertular penyakit flu Singapura. Pengidap flu Singapura sebaiknya menggunakan masker medis dan kurangi aktivitas dengan orang banyak agar penyakit yang kamu alami tidak menyebar dan menular pada orang lain.

Baca juga: Begini Cara Membedakan Flu Singapura dan Cacar Air

Sakit Tenggorokan hingga Ruam Kemerahan

Ada beberapa gejala yang dialami oleh pengidap flu Singapura, salah satunya adalah demam. Melansir dari Center for Disease Control and Prevention, pengidap flu Singapura umumnya akan mengalami demam setelah 3-6 hari terpapar virus penyebab flu Singapura. Tidak hanya itu, pengidap juga merasakan nyeri tenggorokan, berkurangnya pengonsumsian makanan dan minuman, dan tubuh terasa tidak nyaman.

Beberapa hari setelah gejala awal, pengidap akan mengalami sariawan pada bagian mulut yang menyebabkan pengidap kesulitan makan maupun minum. Selain itu, pengidap flu Singapura juga memproduksi air liur lebih banyak dari biasanya.

Jangan ragu untuk lakukan pemeriksaan ke rumah sakit terdekat jika kondisi ini menyebabkan nyeri pada bagian mulut yang tidak tertahankan dan mengganggu aktivitas makan maupun minum. Buat janji dengan dokter melalui aplikasi Halodoc sebelum pergi ke rumah sakit untuk mempermudah pemeriksaan. 

Ruam kemerahan yang berisi cairan dan menyebabkan luka juga dapat menjadi gejala lain dari penyakit flu Singapura. Sebaiknya perhatikan ruam yang terjadi pada kulit agar selalu bersih dan kering untuk mengurangi risiko penyebaran virus penyebab flu Singapura.

Baca juga: Bisakah Flu Singapura Menyerang Orang Dewasa?

Melansir Mayo Clinic, hingga saat ini pengobatan yang dilakukan hanya untuk mengurangi gejala yang dirasakan. Umumnya, flu Singapura yang tidak diatasi dengan baik menyebabkan dehidrasi. Sebaiknya pengidap flu Singapura perbanyak konsumsi air putih agar terhindar dari dehidrasi. Selain itu, rajin menjaga kebersihan diri dan lingkungan menjadi salah satu cara pencegahan yang paling efektif untuk menghindari penyakit flu Singapura.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Hand Foot Mouth Disease
Center for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2020. Hand Foot Mouth Disease
Healthline. Diakses pada 2020. Hand Foot Mouth Disease