• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Bahaya Penyakit MERS bagi Pengidap Hipertensi

Bahaya Penyakit MERS bagi Pengidap Hipertensi

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Bahaya Penyakit MERS bagi Pengidap Hipertensi

“Penyakit MERS atau Middle East Respiratory Syndrome terjadi akibat infeksi virus, dengan gejala berupa batuk, demam, dan sesak napas. Bahaya penyakit MERS yang perlu diwaspadai adalah gagal napas, gagal ginjal, pneumonia, dan syok septik. Namun, komplikasi tersebut biasanya terjadi jika penyakit MERS tidak ditangani dengan baik.”


Halodoc, Jakarta - Pertama kali ditemukan pada 2012 di Arab Saudi, MERS (Middle East Respiratory Syndrome) adalah penyakit infeksi virus yang menyebabkan gangguan pernapasan. Bahaya penyakit MERS perlu diwaspadai jika tidak diobati atau ditangani dengan baik. 

Pada kebanyakan kasus, pengidap MERS mengalami infeksi dan gangguan pada saluran napas bagian bawah. Kondisi ini bisa menimbulkan gejala yang mirip dengan pneumonia, berupa batuk, demam, dan sesak napas. Lantas, apa bahaya penyakit MERS yang perlu diwaspadai? Yuk simak lebih lanjut!

Baca juga: Penanganan yang Bisa Dilakukan saat Terkena Penyakit MERS

Waspadai Bahaya Penyakit MERS

Bahaya penyakit MERS yang perlu diwaspadai cukup serius, terutama bila tidak mendapatkan penanganan dengan benar. Beberapa komplikasi yang bisa ditimbulkan penyakit MERS adalah gagal ginjal, gagal napas, pneumonia, hingga syok septik.

Syok septik adalah kondisi ketika bakteri menyebar ke seluruh tubuh dan menyebabkan tekanan darah anjlok begitu rendah. Karena seriusnya komplikasi yang bisa disebabkan oleh MERS, penyakit ini perlu segera mendapatkan penanganan.

Selain komplikasi, bahaya penyakit MERS juga datang dari mudahnya kondisi ini menular. Sejauh ini, ada dua cara penularan penyakit MERS, yaitu dari hewan ke manusia, dan antar manusia.

Virus penyebab MERS bisa menyerang unta, yang kemudian bisa menular pada manusia. Penularan dari hewan ke manusia terjadi melalui kontak langsung atau mengonsumsi susu dan daging unta tanpa dimasak hingga matang. 

Sementara itu, penularan antar manusia terjadi melalui ingus atau percikan air liur saat batuk. Meski begitu, penularan MERS antar manusia tidak terjadi semudah flu. Pada kebanyakan kasus, penularan terjadi melalui kontak langsung antara orang sehat dan orang sakit yang tinggal satu rumah. 

Baca juga: Hati-Hati, Penularan Penyakit MERS Terjadi dengan Cara Ini

Bisakah Penyakit Ini Dicegah?

Agar terhindar dari bahaya penyakit MERS, penting untuk mengetahui dan melakukan upaya pencegahan sebisa mungkin. Berikut ini cara pencegahan yang bisa dilakukan:

  • Hindari bepergian ke daerah yang sedang ada wabah penyakit ini, seperti daerah Timur Tengah. 
  • Hindari kontak langsung dengan unta atau orang-orang yang mengidap MERS.
  • Rutin cuci tangan dengan air mengalir dan sabun, terutama setiap kali selesai beraktivitas, setelah menggunakan toilet, dan sebelum makan.
  • Jangan mengonsumsi susu atau daging unta yang tidak melalui proses pemasakan dengan baik.
  • Gunakan masker ketika berada di luar rumah. 
  • Bawa selalu hand sanitizer untuk berjaga-jaga jika kamu tidak menemukan air bersih untuk mencuci tangan. 
  • Jangan menyentuh area wajah sebelum mencuci tangan. 

Baca juga: Apa Saja Gejala yang Muncul saat Mengidap MERS?

Selain itu, tidak ada salahnya juga untuk mendapatkan vaksin influenza, agar kekebalan tubuh meningkat. Jangan lupa, konsumsi vitamin untuk membantu menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh.

Tidak perlu keluar rumah untuk menghindari interaksi dan kontak langsung, kamu bisa membeli obat dan vitamin melalui aplikasi Halodoc dengan mudah. 

Bila mengalami keluhan kesehatan, atau ada yang ingin ditanyakan lebih lanjut seputar penyakit MERS, aplikasi Halodoc juga bisa kamu gunakan untuk berbicara dengan dokter kapan saja, lho.


Referensi:
WHO. Diakses pada 2021. Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (Mers-Cov).
CDC. Diakses pada 2021. MERS.
NHS. Diakses pada 2021. Middle East Respiratory Syndrome (MERS).