Bahaya Penyakit MERS bagi Pengidap Hipertensi

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Bahaya Penyakit MERS bagi Pengidap Hipertensi

Halodoc, Jakarta - Middle east respiratory syndrome (MERS) merupakan penyakit yang melibatkan saluran pernapasan bagian atas. MERS pertama kali dilaporkan di Arab Saudi pada tahun 2012 yang kemudian menyebar ke banyak negara. Kebanyakan kasus MERS diperoleh setelah bepergian ke negara-negara Timur Tengah.

MERS disebabkan oleh virus zoonosis yang bisa menginfeksi hewan dan manusia. Penyakit ini juga dapat ditularkan dari orang ke orang melalui tetesan batuk atau benda yang telah terkontaminasi virus. Disamping itu, muncul anggapan bahwa penyakit MERS lebih rentan menyerang orang yang mengidap kondisi medis tertentu, salah satunya hipertensi.

Pada umumnya, terdapat beberapa faktor kondisi yang bisa meningkatkan risiko terserang MERS. Salah satu faktor risikonya adalah karena sistem kekebalan tubuh yang lemah. Kondisi ini membuat virus MERS lebih mudah menyerang tubuh. Lemahnya sistem kekebalan tubuh biasanya dialami oleh seseorang yang mengidap penyakit kronis seperti penyakit paru-paru, kanker, diabetes, dan hipertensi. Itu sebabnya MERS rentan menyerang orang-orang dengan kondisi medis tersebut.

Baca Juga: Ini 7 Fakta tentang Penyakit MERS

Gejala Middle East Respiratory Syndrome (MERS)

Gejala MERS yang paling umum adalah demam, kedinginan, dan batuk. Batuk darah, diare, dan muntah juga bisa terjadi, tetapi gejala ini jarang terjadi. Kalau kamu baru pulang dari negara Timur Tengah dan mengalami kondisi tersebut, sebaiknya segera tanyakan ke dokter untuk memastikannya.

Diagnosis Middle East Respiratory Syndrome (MERS)

Sebelum mendiagnosis MERS, dokter akan bertanya seputar riwayat kesehatan dan kegiatan terbaru, termasuk apakah telah bepergian ke negara Timur Tengah. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan fisik. Apabila gejalanya mirip seperti penyakit MERS, dokter akan meminta sampel yang diambil dari saluran pernapasan. Sampel ini kemudian diuji menggunakan reaksi berantai polymerase (pengujian RT-PCR) yang dapat mendeteksi keberadaan MERS.

Tes dapat mendeteksi antibodi yang relevan setelah 10 hari penyakit dimulai. Jika tes menunjukan hasil negatif selama 28 hari setelah timbulnya gejala, orang tersebut dianggap tidak memiliki MERS. Tes darah juga bisa menentukan apakah seseorang sebelumnya telah terinfeksi, dengan cara menguji antibodi terhadap virus penyebab MERS.

Perawatan MERS

Perawatan penyakit MERS berfokus untuk menghilangkan gejala. Perawatan ini meliputi istirahat yang cukup, penuhi kebutuhan cairan, dan konsumsi obat penghilang rasa sakit.  Dalam kasus yang parah, pengidap MERS mungkin memerlukan terapi oksigen.

Baca Juga: Waspada, 4 Penyakit Kronis Ini Dapat Tertular MERS

Langkah Pencegahan MERS

Sejauh ini belum ada vaksin untuk mencegah penyakit MERS. Jadi, kalau kamu ingin bepergian ke negara lain terutama ke timur tengah, sebaiknya ikuti beberapa tips pencegahan dibawah ini:

  • Biasakan untuk rutin mencuci tangan menggunakan sabun dan air selama 20 detik. Ajarkan pula kebiasaan ini pada anak. Apabila tidak ada sabun dan air, gunakan pembersih tangan yang mengandung alkohol.

  • Tutup hidung dan mulut dengan tisu saat batuk atau bersin. Jangan lupa untuk membuang tisu ke dalam tempat sampah.

  • Hindari menyentuh mata, hidung, dan mulut jika tangan sedang kotor.

  • Hindari kontak dekat seperti berbagi peralatan makan dan minum dengan orang sakit.

  • Bersihkan permukaan yang sering disentuh seperti mainan dan gagang pintu menggunakan desinfektan.

  • Apabila telah bersentuhan dengan binatang, khususnya unta, cucilah tangan sampai bersih sesudahnya.

Baca Juga: Penanganan Pertama yang Bisa Dilakukan Saat Terinfeksi MERS

Itulah informasi seputar penyakit MERS yang perlu diketahui. Jika kamu punya pertanyaan lain, bicarakan saja dengan dokter Halodoc. Gunakan fitur Talk to A Doctor yang ada di aplikasi Halodoc untuk menghubungi dokter kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call. Yuk, segera download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play!