• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Bahaya PTSD pada Kesehatan Mental Jika Tidak Segera Diatasi

Bahaya PTSD pada Kesehatan Mental Jika Tidak Segera Diatasi

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Gangguan stres pascatrauma (PTSD) merupakan kondisi kesehatan mental yang dipicu oleh peristiwa yang mengerikan (baik mengalami atau menyaksikannya). Gejala ini berupa kilas balik, mimpi buruk dan kecemasan berat, serta pemikiran yang tidak terkendali tentang suatu peristiwa. 

Orang yang mengalami peristiwa traumatis mungkin mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri dan mengatasi masalah. Namun, dengan waktu dan perawatan diri yang baik, maka PTSD pun bisa menjadi lebih baik. Jika PTSD tidak segera ditangani, ini akan mengganggu fungsi hidup seseorang sehari-hari. 

Baca juga: Ketahui Fakta Penting tentang PTSD


Dampak Kesehatan Mental Jika PTSD Tidak Segera Ditangani

Ada banyak dampak yang sangat tidak nyaman jika PTSD dibiarkan tanpa perawatan. Kamu mungkin selalu dihantui kilas balik, sulit tidur, sering mengalami ledakan amarah, dan perasaan bersalah. Kamu mungkin akan menghindari hal-hal yang mengingatkan kamu tentang suatu peristiwa dan kehilangan minat pada hal-hal yang kamu sukai. 

Gejala PTSD biasanya mulai dalam 3 bulan setelah trauma. Gejala mungkin tidak muncul lagi setelah bertahun-tahun sesudahnya. Namun, seseorang dengan PTSD tanpa perawatan dapat mengalaminya selama bertahun-tahun atau bahkan seumur hidup. Kamu mungkin bisa merasa lebih baik atau lebih buruk dari waktu ke waktu. Misalnya, laporan berita tentang suatu peristiwa di TV dapat memicu ingatan luar biasa akan pengalaman trauma yang kamu alami. 

PTSD akan mengganggu kualitas hidup. Gangguan ini akan membuat kamu sulit untuk memercayai, berkomunikasi, dan menyelesaikan masalah. Ini dapat menyebabkan masalah dalam hubungan dengan teman, pasangan, keluarga, dan rekan kerja. Selain itu, gangguan ini juga dapat memengaruhi kesehatan fisik seperti dapat meningkatkan risiko penyakit jantung atau gangguan pencernaan. 

Baca juga: Awas, 6 Hal Ini Bisa Menyebabkan PTSD


Perawatan pada Pengidap PTSD

Sebenarnya belum ada obat untuk menyembuhkan kondisi ini. Namun, kamu dapat melakukan terapi untuk menyembuhkannya. Tanyakan perawatan yang tepat pada psikiater melalui aplikasi Halodoc. Psikiater mungkin akan meresepkan obat seperti antidepresan. Dengan perawatan yang tepat, beberapa orang mungkin berhenti mengalami gejala PTSD. 

Jika kamu mengalami gangguan kesehatan mental ini, penting untuk segera mencari bantuan. Tanpa perawatan yang tepat, kondisi biasanya akan memburuk. Perawatan biasanya melibatkan psikoterapi atau konseling, pengobatan, atau kombinasi di antara semuanya. Pilihan psikoterapi akan dirancang khusus untuk mengelola trauma, di antaranya:

  • Terapi Kognitif (CPT)

Terapi ini juga dikenal sebagai restrukturisasi kognitif, yaitu ketika seseorang belajar bagaimana memikirkan berbagai hal dengan cara yang baru. Pencitraan mental dari peristiwa traumatis dapat membantu seseorang mengatasi trauma, untuk mendapatkan kendali atas rasa takut dan kesusahan. 

  • Terapi Bicara

Berbicara berulang kali tentang peristiwa atau menghadapi penyebab traumatis di lingkungan yang aman dan terkontrol dapat membantu orang tersebut merasa memiliki kontrol lebih besar atas pikiran dan perasaan mereka. Keefektifan perawatan ini harus dilakukan dengan hati-hati, atau mungkin ada risiko yang justru memperburuk gejalanya. 

Baca juga: Begini 2 Cara Tepat Atasi PTSD

  • Obat-obatan

Beberapa obat dapat digunakan untuk mengobati gejala PTSD. Inhibitor reuptake serotonin selektif (SSRI), seperti paroxetine, umum digunakan. SSRI juga membantu mengobati depresi, kecemasan, masalah tidur, serta gejala lain yang sering dikaitkan dengan PTSD.

Setelah selamat dari peristiwa traumatis, pada awalnya banyak orang mengalami gejala seperti PTSD. Misalnya tidak dapat berhenti memikirkan apa yang terjadi. Ketakutan, kecemasan, kemarahan, depresi, rasa bersalah, semua adalah reaksi umum terhadap trauma. Meski begitu, sebagian besar orang yang terdampak trauma tidak mengalami gangguan stres pasca-trauma jangka panjang. 

Kebiasaan Mencabut Alis Bisa Jadi Gejala Gangguan Impuls

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Post-traumatic stress disorder (PTSD).
WebMD. Diakses pada 2020. What Is Posttraumatic Stress Disorder (PTSD)?
Medical News Today. Diakses pada 2020. PTSD: What you need to know.