• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Bahaya Self-Diagnosis yang Berpengaruh pada Kesehatan Mental

Bahaya Self-Diagnosis yang Berpengaruh pada Kesehatan Mental

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
undefined

Halodoc, Jakarta – Di zaman sekarang ini, informasi mengenai hal apa pun bisa didapatkan dengan mudah melalui internet, termasuk informasi mengenai kesehatan. Hal ini menyebabkan tidak sedikit orang tergoda untuk mencari tahu sendiri penyebab dari gejala-gejala kesehatan yang dialaminya melalui internet, ketimbang pergi memeriksakan diri ke dokter. Fenomena ini disebut self-diagnosis.

Namun, tahukah kamu, alih-alih bermanfaat, self-diagnosis malah justru bisa membahayakan kesehatan kamu dan berpengaruh buruk pada kesehatan mental kamu, lho. Berikut ulasannya.

Apa Itu Self-Diagnosis?

Self-diagnosis adalah mendiagnosis diri sendiri mengidap sebuah gangguan atau penyakit berdasarkan pengetahuan diri sendiri atau informasi yang didapatkan secara mandiri. Saat melakukan self-diagnosis, sebenarnya kamu sedang berasumsi seolah-olah kamu mengetahui masalah kesehatan yang dialami.

Semuanya hanya dengan berbekal informasi yang dimiliki diri sendiri. Hal ini bisa berbahaya, karena asumsi kamu tersebut bisa saja salah.

Misalnya, kamu berpikir kamu mengidap gangguan bipolar, lantaran sering mengalami perubahan suasana hati. Padahal perubahan suasana hati bisa menjadi gejala dari banyak gangguan kesehatan mental yang berbeda. Gangguan kepribadian ambang dan depresi berat adalah dua contoh diagnosis lainnya. 

Baca juga: Jangan Berasumsi, Ini Cara Diagnosis Gangguan Bipolar

Nah, salah diagnosis bisa berbahaya, karena kamu cenderung mengambil pengobatan yang salah. Risiko mengalami kondisi kesehatan yang lebih parah pun bertambah besar bila kamu sembarangan mengonsumsi obat atau menjalani metode pengobatan yang tidak disarankan dokter.

Itulah mengapa kamu disarankan untuk meminta bantuan tenaga ahli medis seperti dokter untuk mendiagnosis gejala kesehatan yang dialami. Dengan menanyakan lebih detail tentang gejala yang dialami dan berapa lama gejala tersebut berlangsung, dokter dapat membuat diagnosis yang tepat. 

Baca juga: Jangan Asal Minum Obat, Kalau Salah Bisa Sebabkan Pendarahan Otak

Dampak Self-Diagnosis pada Kesehatan Mental

Self-diagnosis juga bisa berpengaruh pada kesehatan mental dengan menyebabkan kamu mengalami kekhawatiran yang sebenarnya tidak perlu. Misalnya, kamu belakangan ini sering merasa pusing. Lalu, kamu mencari tahu sendiri kira-kira apa yang menjadi penyebab gejala pusing yang sering kamu alami melalui melalui internet.

Dari hasil pencarian, kamu ternyata mendapati bahwa sakit kepala yang sering muncul bisa mengindikasikan penyakit otak serius, seperti tumor otak. Lalu, kamu merasa khawatir dan stres karena mengira kamu mengidap tumor otak. Padahal, belum tentu kamu memiliki penyakit serius tersebut, namun kamu sudah merasa sangat kekhawatiran. 

Bukan tidak mungkin lama-kelamaan kamu bisa mengalami gangguan kecemasan umum akibat kekhawatiran yang dirasakan setelah melakukan self-diagnosis. Gangguan kecemasan umum adalah kondisi mental yang biasanya ditandai dengan kekhawatiran berlebihan terhadap situasi tertentu.

Selain menyebabkan kekhawatiran yang tidak perlu yang bisa berujung pada gangguan kecemasan umum, self-diagnosis juga bisa membuat masalah kesehatan mental tertentu menjadi tidak terdiagnosis. Gangguan mental biasanya tidak muncul sendirian, melainkan juga disertai oleh gangguan mental lainnya.

Misalnya, kamu mungkin diliputi kecemasan dan berasumsi bahwa kamu mengalami gangguan kecemasan. Namun, gangguan kecemasan bisa menutupi gangguan depresi mayor. Sekitar dua pertiga orang yang mengunjungi klinik rawat jalan dengan gangguan kecemasan juga mengalami depresi.

Ketika dua atau lebih sindrom terjadi bersamaan pada orang yang sama, hal ini disebut komorbiditas. Nah, self-diagnosis menyebabkan seseorang melewatkan komorbiditas yang ada. Itulah bahaya self-diagnosis terhadap kesehatan mental.

Jadi, sebaiknya jangan menjadi dokter bagi diri sendiri dengan melakukan self-diagnosis. Bila kamu mengalami gejala kesehatan tertentu, sebaiknya tanyakan pada dokter mengenai penyebab gejala kesehatan yang kamu alami. 

Baca juga: Inilah Alasan Pemeriksaan Fisik Perlu Dilakukan

Tidak ingin keluar rumah untuk memeriksakan kesehatan ke dokter? Jangan khawatir. Kini, kamu bisa menghubungi dokter untuk membicarakan masalah kesehatan kamu lewat aplikasi Halodoc, kapan saja dan di mana saja.

Nah, dalam rangka memperingati Hari Dokter Nasional pada tanggal 24 Oktober 2020, kamu bisa membicarakan kesehatanmu ke dokter dengan biaya yang sangat terjangkau.

Hanya dengan Rp 5.000, kamu dapat melakukan konsultasi dengan dokter melalui aplikasi Halodoc. Promo ini berlaku untuk kamu yang sudah terdaftar di aplikasi Halodoc dan hanya bisa dipakai 1 (satu) kali setiap pengguna. Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga, ya!

Referensi:
Psychology Today. Diakses pada 2020. The Dangers of Self-Diagnosis.