• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Beda Gejala PTSD dengan Stockholm Syndrome
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Beda Gejala PTSD dengan Stockholm Syndrome

Beda Gejala PTSD dengan Stockholm Syndrome

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 30 November 2022

“Baik antara post traumatic stress disorder (PTSD) dan Stockholm syndrome memiliki gejalanya masing-masing. Namun, pada Stockholm syndrome, ada gejalanya yang dapat menyerupai gejala PTSD.”

Beda Gejala PTSD dengan Stockholm SyndromeBeda Gejala PTSD dengan Stockholm Syndrome

Halodoc, Jakarta – Saat ini, istilah PTSD dan Stockholm syndrome kerap kali terdengar atau disebut di beberapa platform media sosial. Sebab, ada beberapa kasus KDRT yang menjadi sorotan, baik dari kalangan orang biasa maupun kalangan artis tanah air. 

Nah, kedua istilah tersebut kerap dibahas, dan tidak sedikit orang yang menduga kalau korban KDRT terkesan melindungi pelakunya karena mengidap salah satunya. Namun, perlu diketahui bahwa keduanya merupakan kondisi yang berbeda. Karena itu, yuk ketahui penjelasan sekaligus perbedaan gejala antara PTSD dengan Stockholm syndrome di sini! 

Penjelasan Mengenai PTSD dan Stockholm Syndrome

Sebelum mengetahui perbedaan gejala di antara keduanya, sebaiknya ketahuilah penjelasannya terlebih dahulu. PTSD merupakan kondisi mental  yang dipicu oleh peristiwa yang menakutkan, baik yang pernah dialami atau disaksikan. Biasanya, kondisi PTSD terjadi pada veteran perang yang selamat dan baru kembali dari suasana mencekam peperangan. Contohnya seperti melihat temannya meninggal secara langsung. 

Kebanyakan orang yang mengalami peristiwa traumatis mungkin mengalami kesulitan sementara untuk menyesuaikan dan mengatasi. Namun, dengan waktu dan perawatan diri yang baik, mereka biasanya menjadi lebih baik.

Sementara itu, Stockholm syndrome merupakan respon emosional akibat tindakan kekerasan yang menimpanya. Perlu diketahui bahwa istilah Stockholm syndrome kerap mengacu pada korban penculikan yang disekap atau korban pelecehan yang memiliki rasa simpati atau perasaan positif pada penculik atau pelakunya. Kondisi tampaknya dapat terjadi setelah berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bertahun-tahun penahanan dan kontak dekat dengan penculiknya.

Meski begitu, keduanya memiliki keterkaitan antara satu sama lain. Sebab, setelah dibebaskan, seseorang dengan sindrom Stockholm dapat terus memiliki perasaan positif terhadap penculik atau pelaku pelecehan. Namun, mereka mungkin juga mengalami kilas balik, depresi, kecemasan, dan gangguan stres pasca trauma (PTSD). 

Ketahui Perbedaan Gejala Keduanya

Sebagai dua kondisi yang berbeda, baik antara PTSD dan Stockholm syndrome memiliki gejalanya masing-masing. Namun, pada Stockholm syndrome, ada gejalanya yang dapat menyerupai gejala PTSD. Nah, berikut adalah penjelasan mengenai gejala keduanya:

1. PTSD

Gejala gangguan stres pascatrauma dapat dimulai dalam waktu satu bulan setelah peristiwa traumatis, tetapi terkadang gejala mungkin tidak muncul hingga bertahun-tahun setelah peristiwa tersebut. Gejala-gejala ini menyebabkan masalah yang signifikan dalam situasi sosial atau pekerjaan dan dalam hubungan. Selai itu, gejala tersebut juga dapat mengganggu kemampuan pengidap PTSD untuk melakukan tugas normal sehari-hari.

Gejala PTSD umumnya dikelompokkan menjadi empat jenis. Mulai dari ingatan yang mengganggu, penghindaran atau avoidance dari tempat atau hal pemicu trauma, perubahan negatif dalam pikiran dan suasana hati, serta perubahan dalam reaksi fisik dan emosional. Gejala dapat bervariasi dari waktu ke waktu atau bervariasi dari orang ke orang.

2. Stockholm syndrome

Orang yang memiliki sindrom Stockholm akan memiliki perasaan berikut sebagai gejalanya: 

  • Perasaan positif terhadap penculik atau pelaku.
  • Simpati atas keyakinan dan perilaku penculiknya.
  • Perasaan negatif terhadap polisi atau tokoh otoritas lainnya.

Sementara itu, gejala lain dari Stockholm syndrome mirip dengan gangguan stres pasca-trauma (PTSD) dan meliputi:

  • Kilas balik atas kekerasan yang pernah dialami. 
  • Merasa curiga, jengkel, gelisah atau cemas.
  • Tidak dapat bersantai atau menikmati hal-hal yang sebelumnya dinikmati.
  • Sulit berkonsentrasi.

Itulah penjelasan mengenai perbedaan gejala antara PTSD dengan Stockholm syndrome. Meski keduanya merupakan dua kondisi yang berbeda, tapi baik antara PTSD dengan Stockholm syndrome juga memiliki keterkaitan. Jika kamu masih memiliki pertanyaan seputar kedua kondisi tersebut, atau merasakan gejalanya, segeralah hubungi psikolog. 

Nah, melalui aplikasi Halodoc, kamu bisa tanya psikolog atau psikiater tepercaya untuk mendapatkan informasi medis yang dibutuhkan. Tentunya melalui fitur chat/video call secara langsung pada aplikasinya. Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, download Halodoc sekarang juga!

Banner download aplikasi Halodoc

Referensi: 

Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Post-traumatic stress disorder (PTSD). 
Cleveland Clinic. Diakses pada 2022. Stockholm Syndrome. 
WebMD. Diakses pada 2022. What Is Stockholm Syndrome?