• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Begini Pencegahan Stroke yang Bisa Terjadi di Usia Muda

Begini Pencegahan Stroke yang Bisa Terjadi di Usia Muda

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
undefined

Halodoc, Jakarta – Stroke umumnya dikaitkan dengan orang lanjut usia. Namun, siapa pun bisa terkena stroke termasuk bayi dan anak-anak. Penyebab stroke pada anak sangat berbeda dengan penyebab stroke orang dewasa. 

Menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh National Institutes of Health, risiko terjadinya stroke pada usia muda dipicu oleh beberapa faktor seperti dislipidemia, merokok, hipertensi, gaya hidup, dan genetik. Bagaimana pencegahan stroke di usia muda? Baca selengkapnya di sini!

Baca juga: Mengalami Stroke Bisa Terkena Demensia, Ini Penjelasannya

Stop Merokok dan Konsumsi Sayuran

Menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh Stanford Health Care, kelompok usia yang lebih tua, stroke paling sering disebabkan oleh aterosklerosis atau mengerasnya plak di arteri karena kolesterol sehingga mengganggu aliran darah. Pada orang yang lebih muda, faktor risiko seperti diabetes, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan merokok dapat menyebabkan aterosklerosis. Kondisi jantung dan hematologi tertentu juga dapat memicu stroke pada usia muda. 

Konsumsi obat tertentu, infeksi, dan kondisi peradangan juga dapat menyebabkan stroke pada orang muda. Beberapa penyebab stroke pada orang muda mungkin dipengaruhi secara genetik. Pada 25-35 persen orang muda yang terkena stroke, penyebab pastinya tidak dapat diidentifikasi.

Bagaimana pencegahannya? Merokok dapat meningkatkan risiko stroke. Mengontrol faktor risiko tradisional, seperti menjaga kestabilan tekanan darah tinggi ataupun diabetes sangat penting dilakukan tanpa memandang usia. Beberapa kondisi genetik yang spesifik dan relatif langka, seperti anemia sel sabit, juga kerap dikaitkan dengan stroke yang dialami anak muda. 

Jika kamu ingin tahu risiko penyakit stroke dalam keluargamu, bisa ditanyakan langsung ke Halodoc. Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik. Caranya mudah, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor ibu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Kemudian konsumsi buah dan sayuran juga dapat mengurangi risiko stroke. Selain itu, olahraga juga dapat menurunkan tekanan darah, meningkatkan kadar kolesterol lipoprotein densitas tinggi, dan meningkatkan kesehatan pembuluh darah dan jantung secara keseluruhan. 

Aktif secara fisik juga membantu kamu menurunkan berat badan, mengendalikan diabetes, dan mengurangi stres. Minumlah alkohol secukupnya. Konsumsi alkohol yang berlebihan dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, stroke iskemik, dan stroke hemoragik.

Baca juga: Cara Menjaga Kesehatan Otak dengan Kemampuan Bilingual

Jika kamu mengidap sleep apnea, sebaiknya segera obati. Memiliki salah satu dari kondisi seperti kolesterol tinggi, penyakit arteri karotis, penyakit arteri perifer, fibrilasi atrium, penyakit jantung, atau penyakit sel sabit juga dapat membuat seseorang berisiko terkena stroke.

Waspadai Gejala Stroke

Bagaimana gejala awal stroke? Jika salah satu dari gejala ini terjadi secara tiba-tiba, besar kemungkinan kamu mengalami stroke. Seperti apakah gejalanya?

1. Lemas atau mati rasa di wajah, lengan atau tungkai, biasanya hanya di satu sisi.

2. Kesulitan berbicara atau memahami bahasa.

3. Penglihatan menurun atau kabur di satu atau kedua mata.

4. Kehilangan keseimbangan atau pusing yang tidak dapat dijelaskan.

5. Sakit kepala parah tanpa penyebab yang diketahui.

Gejala stroke klasik ini bisa berlangsung beberapa menit atau beberapa jam. Bisa jadi satu gejala yang akan muncul atau kombinasi dari beberapa gejala. Itu semua tergantung pada bagian otak mana yang tidak memiliki darah dan pada titik mana aliran darah pulih.

Baca juga: Harus Tahu, Ini Efek Kecanduan Bermain Game Online Bagi Otak

Berbeda dengan pria, wanita menunjukkan gejala stroke yang berbeda. Gejala-gejala ini terjadi secara tidak terduga, seperti:

1. Nyeri di wajah atau kaki.

2. Cegukan.

3. Merasa lemah.

4. Nyeri dada.

5. Sesak napas.

6. Detak jantung cepat.

Referensi:
Stanford Health Care. Diakses pada 2020. Stroke In Young People FAQs.
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Stroke Prevention.
National Institutes of Health. Diakses pada 2020. Strokes in young adults: epidemiology and prevention.
The Iowa Clinic. Diakses pada 2020. How to Spot a Stroke: 5 Sure Signs and 4 Life-Saving Letters.