Begini Proses Cek Sperma untuk Tes Kesuburan

Begini Proses Cek Sperma untuk Tes Kesuburan

Halodoc, Jakarta - Memiliki buah hati menjadi impian semua pasangan baru. Meski begitu, tidak semua pasangan berhasil langsung hamil. Beberapa harus menunggu hingga bertahun-tahun, atau menggunakan cara lain untuk bisa memiliki momongan. Namun, apakah kamu pernah melakukan cek kesuburan sebelum memutuskan untuk memiliki anak?

Kamu harus tahu bahwa terjadi penurunan angka kesuburan selama beberapa tahun terakhir. Bahkan, penurunan kesuburan yang menyebabkan sulitnya perempuan hamil ini terjadi dari calon ayah. Oleh karena itu, laki-laki perlu melakukan pemeriksaan kesuburan, dan salah satu prosedur yang harus dilakukan adalah cek sperma. Sudah tahu bagaimana prosedurnya?

Cek sperma adalah pemeriksaan paling utama untuk mengetahui apakah calon ayah memiliki sperma yang sehat atau terdapat kelainan yang menyebabkan sulitnya calon ibu untuk hamil. Meski sperma yang dihasilkan begitu banyak, jika ada satu saja yang abnormal, tetap sulit jadinya untuk memiliki sang buah hati.

Baca juga: Manfaat Cek Sperma Sebelum Promil

Bagaimana Sih Sperma yang Normal Itu?

Kamu hanya bisa mengetahui bagaimana tampilan sperma melalui mikroskop. Pada kondisi normal, kepala sperma memiliki bentuk oval dengan panjang antara 4 hingga 5,5 mikrometer dan lebar antara 2,5 hingga 3,5 mikrometer. Leher sperma berukuran 1 sampai 2 mikrometer, dan tidak boleh ada sisa dari proses pematangan spermanya. Panjang ekornya antara 9 hingga 10 kali lebih dari kepalanya, bentuknya lurus memanjang atau bergelombang.

Dari segi gerakannya, sperma dikatakan normal jika terdapat 40 persen dari total sperma bisa menunjukkan ciri gerakan sperma normal seperti bergerak bebas, berenang, dan melakukan gerakan maju maupun mundur dalam lingkup lingkaran besar.

Baca juga: Benarkah Sperma yang Encer Sulit Membuahi Pasangan?

Bagaimana Prosedur Cek Sperma?

Sebelum melakukan pengujian atau cek sperma, pria tidak dibolehkan untuk melakukan aktivitas seksual selama setidaknya 2 hari atau 48 jam. Di laboratorium, pria diminta untuk memberikan sampel spermanya melalui masturbasi. Sebaiknya, pengumpulan dilakukan di satu tempat, untuk menjaga agar kualitasnya tetap terjaga.

Namun, jika terpaksa harus mengumpulkan sampel di rumah, sebaiknya tidak lebih dari satu jam sebelum pengujian dan pastikan suhunya berada di antara 20 hingga 40 derajat Celcius agar tidak rusak. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi makro dan mikroskopis. Makroskopis terlihat dari bau, densitas, volume, dan warna. Sementara mikroskopis dilakukan di bawah mikroskop.

Pengujian harus dilakukan sebanyak 2 kali dengan jarak minimal 7 hari setelah pengujian pertama atau bisa juga lebih dari 3 bulan. Jika hasilnya berbeda di antara cek pertama dan kedua, dokter akan merekomendasikan cek sperma sekali lagi. Pasalnya, satu kali cek sperma tidak bisa memberikan hasil yang akurat.

Baca juga: Baik atau Tidaknya Hasil Cek Sperma Bisa Bergantung pada Makanan?

Bagaimana Membaca Hasilnya?

Volume normal sperma adalah minimal sebanyak 1,5 mililiter dengan pH yang normal. Kadar pH sperma basa atau di atas 8 bisa menunjukkan adanya kemungkinan infeksi, sementara pH asam atau di bawah 7 dengan volume sedikit mengacu pada kerusakan saluran yang berfungsi untuk mengalirkan sperma. Jika sampel sperma ternyata mengandung banyak sel darah putih, ada kemungkinan terjadi infeksi pada saluran reproduksi. Hasil cek sperma dikatakan baik jika setidaknya 4 persen dari total tampungan sperma memiliki bentuk yang normal.

Kalau kamu tidak sempat melakukan cek sperma di laboratorium, kamu bisa kok melakukannya di rumah. Kamu hanya perlu download aplikasi Halodoc dan memanfaatkan layanan Cek Lab. Petugas lab akan membantu kamu melakukan cek sperma di tempat tinggalmu. Pakai Halodoc sekarang yuk!